
Saat di perjalanan, aku hanya menyaksikan jalanan di malam hari, dalam pikiran ku, seandainya ada motor, mungkin naik motor lebih enak. Aku bisa mencium bau udara malam yang segar saat mendekati gunung nanti. Dan aku bisa menikmati bau parfum Nando dari belakang.
" Ingat waktu berkemah kemaren sambil mancing,,, seru banget ya Pak, kapan-kapan boleh di ulang lagi.." Aku membuka pembicaraan saat di perjalanan.
" Seru.. kalau ramai-ramai juga seru… tapi kalau ramai-ramai kita gak bisa satu tenda… aku bisa kedinginan.. "
" Apa sih,,, mikir nya ke kiri terooooosss" aku memukul lengan Nando sekuat tenaga, karena ucapan nya tadi.
" Boleh nanya Pak? " tambah ku lagi..
" Tanya apa? "
" Kalau aku, kan udah pernah ceritain ke kamu, tentang masa lalu aku. Sedangkan kamu, semua tentang kamu tu misteri. Aku gak pernah tau.."
" Kamu kok yang gak pernah nanya. Tanya aja, aku jawab.."
" Kapan terakhir kamu pacaran? terus seperti apa cewek kamu terakhir kali?"
" Kalau kamu dengar, kamu juga harus siapain hati ya,,, jangan bawa perasaan. Dia masa lalu.."
" Oke…"
__ADS_1
" Kurang lebih 3 tahun lalu. Nama nya Renya, teman nya Rendra, ingatkan Rendra teman ku yang ketemu di birthdays party, dan yang gangguin kamu di hotel?"
aku menjawab Nando dengan anggukan
" Renya itu anak broken home, kalau cantik nya yaaaaa gitu deh. Seksi, dia model, tapi waktu sama aku, aku agak batasin kegiatan dia jadi model, aku agak pilih-pilih kegiatan nya. Aku berharap banyak sama dia dulu, aku harap walau dia aku kenal… " Nando tiba-tiba menghentikan kata-kata nya…
" Maksud aku, bukan mau bilang dia bukan perempuan baik-baik ya, dia baik, sangat baik, dia sangat ekspresif, kalau sedih ya sedih, kalau tertawa ya tertawa lepas, dan kalau marah meledak-ledak. Pergaulan nya dan takdir keluarga nya gak sebaik yang kamu miliki Neng,,, dia harus berjuang untuk aktualisasikan diri, agar tidak di remehkan orang lain, dan tidak di pandang rendah. Aku maksimalkan perhatian aku ke dia, selalu ada buat dia, biar dia gak kesepian. Bahkan sampai akhirnya aku putuskan untuk kerja di hotel, Renya yang antarin aku pulang pergi kantor. Mobil di bawa dia, buat dia kemana-mana sambil nunggu aku pulang"
"Kok kamu gak beliin mobil aja? kemaren di aku kamu nawarin beliin mobil?" jujur aku penasaran dengan cewek ini..
" Duluuu, tabungan ku terbatas Neng,,, kalau dia mau seperti yang aku tawarin ke kamu, mobil biasa aja, yang penting bisa ngeeeng… buat operasional dia, dia gak mau. Dia mau seperti yang aku punya. Aku gak mampu belikan. Waktu itu juga aku focus nabung buat belikan dia apartemen dulu, karena biaya sewa apartemen juga lumayan"
"Oowwhhh"
" Cantik banget? cantik daripada aku?" kepo ku
" Cantik,,, kalau kamu emang udah cantik dari lahir, dan gak banyak yg kamu polesin. Kalau dia udah cantik dari awal, tapi di tambah perawatan super mahal, jadilah seperti itu, hahahhhaaa"
" Masih sayang sama dia?"
" Sayang sih gak,,, tapi kadang keingat, apa kabar nya, dimana dia sekarang, dan semoga dia lebih baik"
__ADS_1
" Sebelum sama dia? apa pernah pacaran dengan orang lain? yang bule misalnya? waktu kuliah.."
" Ada, waktu sekolah,, tapi cinta cinta monyet gitu…kalau bule, gak, bukan type aku Neng"
Aku menatap Nando lama… kalau dia bilang bahwa Renya pernah mengancam pura-pura hamil, aku udah kebayang donk seperti apa gaya pacaran nya selama dengan Renya.
Tapi aku gak perduli dengan Renya, Nando dengan aku sekarang, milik ku. dan Renya masa lalu nya. Seperti tadi perjanjian awal, bahwa aku hanya ingin tahu, dan gak akan memasukan ke hati. Apa pun sekarang, kembali lagi itu masa lalu.
Semoga Renya memang masa lalu Nando, jangan sampai muncul lagi. Cukup Dion yang buat aku kesal dan hancur.
Nando melirik ke arah ku..
" Hei.. gak ada apa-apa kan? " Rupanya ia curiga melihat aku yang terdiam.
" Ya gak lah,,, cuma melamunin seperti apa cantiknya Renya…hahahhaa"
" Gak perlu lho,,, kamu lebih manarik buat aku, kamu punya yang Renya gak punya.." Nando lalu mengelus-elus kepala ku
" Tapi aku bayangin gaya pacaran kamu sama dia, kamu dapat apa yang kamu gak dapatin dari ku" bantah ku
" Hahahaaaaa… gpp,, itu kan prinsip kamu, aku hargai. Aku masih bisa manasin tiap pagi secara mandiri kok, hahahhaa… masa di pake buat kencing aja, rugilah" Nando tertawa terbahak-bahak dengan kata-kata nya sendiri. Sementara aku harus mencerna dulu, baru tertawa sendiri.
__ADS_1
Gak lama kemudia kami sampai di tempat makn yang biasa aku dan Nando datangi saat malam-malam gabut. Nando memesan makanan sampai dua porsi. Kata nya lagi lapar sekali. Entah apa yang membuatnya jadi lapar sekali seperti itu. Entah olah raga yang berkeringat tadi sore dengan ku, atau membayangkan olah raga nya bareng Renya.
Ih.... Aneh.