
Beberapa deringan sudah, tapi Nando belum menjawab panggilan ku. Aku ulangi sekali lagi, tapi sama, Nando belum menjawab.
Ada kekhawatiran di hati ku, apa yang terjadi? Apakah orang tua Nando serta merta menolak ku? Dan menahan juga mengambil semua alat komunikasi Nando, sehingga tidak bisa menghubungi ku? Tapi gak lah, masa di zaman modern seperti ini ada aja seperti itu.
Aku menatap lama Hape ku. Mulai gelisah. Menduga duga hal buruk. Dan tiba-tiba air mata ku mulai jatuh. Aku gak sanggup kalau Nando hilang, kalau Nando gak balik lagi gimana? Padahal aku sudah mencoba menahan tangis ku, tapi yang terjadi malah aku menangis terisak isak. Dada ku mulai sakit lagi. Nando.... Kamu gimana?
Risna yang keluar dari kamar mandi terkaget melihat aku memangis terisak isak.
" Bi... Kenapa??" Tanya nya panik, Risna langsung memeluk ku.
" Nando gak angkat telepon nya Ris... Nando ada apa ya... Gak pernah dia seperti ini Ris.."
" Jangan nangis Bi,,, Sabar dulu, Nanti di coba lagi ya..."
Aku hanya mengangguk. Aku coba untuk berfikir positif, mungkin Nando kelelahan dan tertidur. Ya, mungkin saja. Kepala.ku kembali berdenyut, rasa sakit yang tadi sudah hilang, kembali muncul. Sakit sekali, dan kembali aq merasa pandangan ku hitam.
Aku mencoba menyandarkan tubuh ku di tempat tidur dan di atas bantal yang lebih tinggi. Ya, terasa lebih baik. Aku mencoba menahan sakit ini, dan ku genggam Hape ku, berharap Nando menghubungi ku.
*
*
Aku tersentak saat ada benda bergetar di dalam genggaman ku, Hape ku berbunyi, dan tanpa aku sadari, ternyata tadi aku tertidur. Dengan sigap aku menjawab panggilan masuk itu, ya Nando. Nando menghubungi ku lewat dari tengah malam.
" Bi.... Udah tidur?" Sapa nya
" Nandoooooo" Jawab ku, dan aku menangis dan berteriak. Antara bahagia karena akhir nya Nando menghubungi ku, juga karena kesal Nando telat melakukan nya.
" Kamu kemana yank? gak hubungi aku seharian?" sambung ku
" Hape nya ketinggalan Bi, aku nyusul papa ku di perkebunan, dan tempat nya sekitar 3-4 jam dari kota ini. Tadi pagi-pagi aku berangkat dengan supir. Aku gak sadar Hape ku tinggal, karena aku langsung melanjutkan tidur ku di mobil. Sadar nya malah udah bangun dan jauh banget dari hotel. Aku gak bisa jemput lagi hape nya. Kamu Nangis Bi?" Tanya Nando heran, dan malah membuat tangis ku semakin kencang.
" Nandoooo... Jangan lagi lagi hilang seperti ini ya. Jangan hilang tanpa kabar. Aku takuut.. Aku takut kamu gak datang lagi nemuin aku. Aku mohon, jangan tinggalin aku. Cepat pulang..." Tangis ku.
" Kamu kok jadi sensitif?"
" Pikiran ku macam-macam Nando. Aku berfikir yang bukan-bukan, aku takut..."
" Udah ya... Dah tau kan alasan nya. Sabar ya, kamu rindu gak? VC yuk"
__ADS_1
" Gak Nando.. Aku lagi malas,mata ku bengkak, aku pasti jelek banget" Alasan ku berbohong.
" Ah, ada-ada aja.... Wait.."
Panggilang langsung di alihkan ke VC. Aku agak bingung menjawabnya, karena kondisi nya aku di rumah sakit, dan Nando tidak aku beritahukan. Tapi kalau tidak aku jawab, Nando pasti akan marah.
Akhir nya mau tidak mau, aku menjawab panggilan VC Nando.
" Eh Bi, kamu dimana?" Mata Nando membulat melihat pillow case putih.
" Kamu di rumah sakit? " tanya nya lagi.
Aku mengangguk, dan Nando pangsung menepuk jidat nya sendiri.
" Aku pingsan di kantor Ndo... Tadi entah kenapa bangun tidur aku agak demam dan pusing"
" Terus kamu ke kantor juga? Padahal udah tau demam?"
Aku mengangguk lagi.
" Ya ampun.. Kenapa gak istirahat aja sih.. Tapi... Gpp lah, kalau kamu pingsan nya di apartemen lebih parah, gak ada yang tau. Terus kamu sama siapa disana sekarang?"
" Sama Risna, itu orang nya lagi mainan Hape" Aku langsung mengarahkan kamera HP ke arah Risna.
" Bi...." Panggil Nando lagi
" Ya..." Jawab ku lemas
" Rinduuuuu"
" Rindu juga... Kapan pulang?"
" Belum tau,, tadi baru ngomong sama mama aja. Sama Papa belum. Di perjalanan tadi, aku dan mama udah ngomong menjurus ke pernikahan. Papa dukung, aku nikah, tapi belum bicara masalah kamu"
" Ya, selesaikan aja dulu. Gak usah khawatir, teman-teman mau kok gantian jagain aku"
" Kamu dah ngabarin keluarga kamu?"
" Gak, nanti nyusul pula kesani..."
__ADS_1
" Dokter bilang apa?"
" Vertigo, penyebab nya bisa makanan, bisa pikiran, bisa kecapen"
" Kamu yang mana? " Nando agak menahan tawa saat menanyakan nya.
" Menurut kamu?"
" Semua nya...." Tawa Nando pecah. Aneh, bukan nya dia khawatir liat aku seperti ini, ternyata dugaan ku salah.
" Aku juga mikir gitu. Semua nya... "
" Aku malah seneng kalau seandainya hamil..."
" Hussshhh!!! Ngomong sembarangan" Hardik ku pada Nando.
" Iya... Tadi waktu kamu bilang pingsan di kantor, aku langsung berfikir kamu hamil Bi.."
" Sama aja kamu sama Risna..."
" Eh Risna juga? Parah ni teman fitnah nya"
" Dia tadi udah minta maaf" canda ku.
" Gimana sekarang? Udah enakan?"
" Udah yank, gak pusing seperti tadi lagi. Tadi kepala ku berat banget. Pandangan langsung hitam aja tadi, maka nya tumbang"
" Sekarang mau istirahat dulu? Atau masih mau ngobrol? Istirahat ajalah dulu ya, biar cepat sembuh. Besok kalau udah bangun, kamu hubungin aku ya..."
Aku pun mengangguk. Lalu telpon di putuskan. Hati ku lega, kejadiannya tidak seburuk yang aku bayangkan. Hanya sekedar Hape yang ketinggalan.
Aku melirik.ke arah Risna yang tadi nya masih asik main Hape. Sekarang sudah tertidur sangat nyenyak.
Aku lalu melirik jam, Ya, sudah jam 2 malam. Aku harus istirahat. Dan aku bisa tidur lega karena Nando sudah menelpon.
Aku berusaha memejamkan mata ku. Agak sulit, aku coba membuka Hape, malah pusing saat melihat tulisan-tulisan di layar Hape. Aku kembali mencoba memejamkan mata.
Aku menghayal, membayangkan bagaimana pesta pernikahan ku akan diadakan? Bagaimana aku akan mencoba meyakinkan oramg tua ku tentang pilihan ku, dan kami mengadakan pesta impian ku. Pesta yang di adakan outdoor, dengan nuansa putih mutiara. Mulai dari design undangan, Gown, design pelaminan, dan seragam keluarga.
__ADS_1
Ya, dari dulu aku punya pesta pernikahan impian, yang ingin aku wujudkan. Dengan Dion pun sebenernya sudah pernah aku sampaikan, dan sampau sekarang, aku masih ingin mewujudkan impian itu. Tidak pesta mewah, tapi cukup memberi kesan bagi ku, dan bagi para tamu yang hadir.
Semoga impian ini terwujud.