
Dear Bapak Bos,
Udah setengah tahun ini kita jalan sama-sama, dan memang dari awal kita kenal, kamu termasuk orang yang selalu ada di hari-hari aku dari jam 8 pagi sampai makan malam selesai, jadi hampir semua borok aku kamu tau.
Kamu yang temani aku tertawa selain trio kwek-kwek, tapi plus nya kamu selalu ada saat aku nangis dan butuh bahu juga dada yang kuat. Makasih untuk semua kebaikan dan perhatian kamu.
Mungkin ini hari-hari yang sulit buat aku, semua rencana liburan udah berhamburan, tapi kamu hadiahi aku liburan singkat yang lebih menantang, uji nyali dan uji iman. Dan dari semua kesempatan yang ada, kamu tidak pernah melebihi dari apa yang aku izinkan. Karena aku hanya ingin melakukannya dengan suami ku. Tapi aku akan memikirkannya jika ujiannya lebih berat suatu hari nanti.
Sayang,
Saat ini, walau apapun kata orang aku berusaha menutup telinga ku. Sejak mereka tau kita udah sama-sama, sebenarnya aku yakin banyak yang menganggap aku memanfaatkan situasi dan aku yang mulai merayu kamu. Tapi aku dengar dengan suara sangat pelan, karena mereka takut ketahuan kamu, mereka lebih sayang pekerjaan mereka dari pada harus membuang waktu untuk menggibah tentang kita.
Buat kamu yang masih suatu misteri bagi aku, apakah hanya aku yang kamu perlakukan seistimewa ini ? apa sebelum aku juga begitu? karena kamu selalu buat aku tersanjung bak cinderella, di perlakukan sangat manis, dan sangat lembut, detail, seolah-seolah aku guci keramik yang yang gak boleh lecet dan sekali senggol pecah. Kamu selalu panik memikirkan cara agar aku kembali enakan tiap aku sedih.
Saat kamu marah kemarin, karena pembicaraan dengan orang tua Dion, tapi entah kenapa aku gak panik atau ketakutan, aku yakin bahwa kamu tidak akan melakukan apa-apa kepada ku, aku yakin aku bisa menenangkan kamu.
Tiap hari yang kita jalani adalah indah. Aku tidak pernah merasakan terpaksa, lelah bercerita, atau bosan liat muka Bapak Bos yang tampan, dan dikit lagi kalau suntik putih jadi opa-opa korea. Tapi segini pun aku udah sayang banget.
Mungkin perjalanan kita akan panjang ya Pak Bro, tapi mari kita hadapi, dan walaupun nantinya cukup dengan kata “setidaknya kita sudah bersama”, tapi harapan ku, aku ingin. Aku ingin kita bersama, walau urusannya adalah memilih antara Pencipta dan Cipataannya. Sampai mana pun itu nanti, tapi aku ingin sampai hari itu kita bahagia. Seberapa khawatirnya aku akan hari itu? Sangat khawatir. Sangat takut kehilangan kamu.
Apakah aku benar-benar kehilangan senyuman orang tua ku saat aku memilih mengikuti mu? atau selama nya kita menjadi buronan papa mama owner karena kamu memilih mengikuti ku?
__ADS_1
Lalu sampai sekarang kita masih seperti anak SMA pacaran, karena aku yang belum pernah kamu kenalkan sebagai pacar kamu ke keluarga, dan aku yang gak berani bertanya kapan.
Setelah aku pindah nantinya ke apartemen, pasti kamu akan lebih sering kesana, dan kita akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Semoga hari-hari kita indah saat itu.
Sementara ini, kalau kita masih kuat mengahdapi masalahnya, jangan pernah bilang menyerah ya sayang.. jangan bilang capek untuk bersama aku. Kita berjuang sama-sama.
Kalau pun kamu harus melepaskan semua yang kamu tunjukan kepada aku sekarang, aku gpp, kita akan berjuang lagi sama-sama. Kamu tau aku kan, jajan-jajan di pinggir jalan aja aku udah senang, gak perlu kamu bawa ku pergi jauh-jauh naik pesawat buat cari hiburan. Nanti kalau kita bisa cari uang sama-sama, terus kita habiskan sama-sama juga bakal lebih bahagia sepertinya.
Siap-siap, karena sepertinya badai di depan lebih besar dari pada sekedar masalah si anak walikota kemarin.
Janji temani aku saat ini, dan saat aku sedih, juga harus janji buat bahagiakan aku, seperti yang kamu bilang ke Ayah ku kemarin. Buktikan ke manusia yang di sebelah ayah ku kemarin, bahwa aku meninggalkan dia, aku akan tetap hidup baik-baik saja, dan aku akan mulai pelan-pelan untuk kembali menjalin hubungan baik dengan orang tua ku.
Sekian yank, itu yang ingin aku ungkapkan ke kamu, isi hati aku, cukup kamu tau, dan jangan di bahas waktu kita ketemu, karena aku malu. Kalau kamu bahas, aku gak mau lagi bikin-bikin surat buat kamu. Aku buat surat ini karena aku gak bisa ngomongnya langsung ke kamu. Awas kalau di bahas. Aku serius bilang kalau aku bakalan marah kalau kamu bahas.
*
*
Wajah Nando bersemu merah saat membaca surat ku. Aku sudah ingatkan dia untuk baca di rumah saja, jangan di depan ku. Dengan alasan gak sabaran bacanya, Nando membuka surat itu di depan ku.
“ Ini butuh di balas gak Neng?” Tanya nya menahan tawa.
__ADS_1
“ Udah di tulis disana ya Pak, jangan di bahas, kalau di bahas aku gak mau nulis-nulis surat lagi buat kamu” Jawab ku malu. Ingin rasanya menghilang aja saat ini.
“ Siapa yang bahas, aku kan tanya, apa butuh aku balas, kamu kan gak buat pantun di bawah nya.. biasanya jaman aku dulu ada tu pantun di bawah nya kalau kirim surat cinta
Empat kali empat enam belas
sempat gak sempat harus di balas “
Nando masih menahan tawanya, tapi wajah merah nya belum hilang.
Refleks aku mengambil bantal dan mendorong Nando sekuat tenaga, sampai terjorok ke sudut kamar kos yang besar nya tidak seberapa ini.
“ Ampun Bi,,,,, Ampun,,, oke aku gak bahas, kalau aku gak bahas kamu bakalan tulis surat lagi kan buat aku? “
“ Nandooo,,,,” Aku memukuli Nando lagi dengan bantal. Nando masih terus tertawa terpingkal-pingkal.
“ Tapi jujur Bi, aku seneng bacanya, beneran, tapi tangan kamu masih oke kan ? takut jadi kaku karena nulis sepanjang ini “
Entah apa yang dipikiran Nando sampai meringkuk tertawa gak bisa berhenti saat membaca surat dari ku. Oke, cukup sekali ini, gak akan aku ulang lagi. Karena aku harap ekspresi Nando bukan seperti ini, tapi terharu, tersenyum manis, dan langsung ngajakin dinner syantik. Salah sangka.
Karena lelah, aku membiarkan Nando tetap tertawa terpingkal-pingkal sendiri di sudut kamar. Aku menegak minuman ku dengan garang, harapan ku Nando berhenti tertawa dengan ekspresi ku ini, tapi tidak juga. Seperti bocah, dia masih terus tertawa sambil memegang perutnya.
__ADS_1
Aku bersumpah akan membalas kejadian ini. Awas aja kalau dia ngomong pakai ekspresi serius, bakal aku bawa tertawa terus. Aku akan ingat terus kejadian ini, saat ungkapan isi hati ku, aku sampaikan, aku malah di tertawakan Bapak Bos yang tiba-tiba menjadi bocah ini. Apa yang lucu dari surat itu ? Awas, pokoknya aku akan membalas suatu hari nanti.