Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Cuti yang Menegangkan


__ADS_3

Malam ini agak berbeda. Karena perbuatan Nando tadi, aku merasa semua tubuh ku lengket, aku putuskan untuk mandi. Selesai mandi, perasaan ku agak aneh. Aku rindu Nando. Padahal baru saja pisah, tapi rindu sekali.


Aku putuskan membawa bantal dan selimut ku ke kamar Nando. Aku ingin di peluk Nando. Aku pun berjalan menuju kamar Nando. 


Ternyata kamar Nando tidak di kunci, saat masuk pun aku tidak melihat Nando. Tapi aku bisa mendengar suara air dari kamar mandi. Nando mandi pikir ku. Aku langsung saja membaringkan diri di tempat tidur, tanpa memberi tahu kan Nando aku di kamar nya. 


Gak lama kemudian Nando keluar sambil mengelap rambutnya dengan handuk, pikirku aku ingin mengagetkan nya tapi ternyata Nando keluar tanpa handuk di tubuhnya. Aku menjerit, melihat kejadian itu.


" Nandoooooo" jerit ku sambil menarik selimut menutup wajah ku. 


Nando memng terkejut, mungkin dia tidak menyangka aku ada di kamar nya.


Setelah kaget, Nando malah tertawa melihat reaksi kaget ku.


"Ngapain kamu disini? " tanya nya


" Aku rindu,,, cepat pakai baju, merusak mata perawan aku aja"


" Oh ya, masih perawan lupa" Bukan nya begegas, Nando malah seperti dapat ide, tanpa malu Nando malah mendekat kepada ku, jujur, muka ku panas dingin, jantung ku berdebar, terbayang seorang pria yang aku suka, mendekat setelah dia selesai mandi. 


" Buka dong selimutnya" desah Nando.


" Gak… cepat pakai baju Ndoooo" aku memohon.


Nando malah berbaring di samping ku, dan memeluk ku erat.


" Diam dulu seperti ini" desahnya lagi.


" Ndo…aku rindu, aku pengen di peluk, tapi gak kaya gini ndoo" kembali aku memohon.

__ADS_1


Nndo terkekeh, dan bangkit dari tempat tidur. Ia menuju lemari, dan menggunakan boxer juga kaos nya. Aku sesekali mengintip nya. Menegagumi, bahwa Nando termasuk cowok sempurna, dengan wajah yang tampan, body cowok banget, apalagi penyayang dan sangat menghargai aku.


Di balik semua yang kami lakukan selama pacaran beberapa bulan ini, Nando tidak pernah memaksa kan kehendaknya, apa pun itu selalu di di kusikan nya. Kecuali memang mau memberikan aku surprise.


" Kamu kenapa?" tanya Nando sambil memeluk ku. 


" Kok pindah tidur?" tanya nya lagi.


" Gak tau, abis mandi tadi, kok rindu kamu. Pengen peluk"


" Ya udah, tidur sini aja. Tapi jangan salahkan aku kalau ter gerepeh gerepeh nanti ya.." ucap Nando sambil tertawa.


Dan akunpun tertidur. Saat bangun pagi, Nando malah sudah mandi lebih dulu. Aku beranjak dari tempat tidur dan mandi di kamar ku, bersiap berangkat ke kantor. Kami sarapan diluar, sebelum ke kantor. Yang terasa di hati ku saat ini aku gak ingin pisah sama Nando. Bahkan dalam mobil pun, aku terus memeluk lengan nya, terserah kalau dia merasa risih.


Hari ini mungkin sibuk, tapi gak seperti sebelumnya, karena hanya check out peserta, dan setelah itu aku melanjutkan laporan kembali, dan aku harus berusaha menyelesaikan nya hari ini. Besok sudah tinggal setoran saja, dan jika harus di revisu tidak memakan waktu. 


Sesampai di hotel, belum terlalu hiruk pikuk. Setelah beberapa hari kami melewatkan briefing, pagi ini aku dan teman-teman di FO briefing lagi. Semua berjalan sesuai dengan rencana awal. aku melanjutkan laporan, dan  10 pagi, setelah sarapan tamu baru mulai check out. 


Sampai pukul 5 sore semua pekerjaan ku selesai. Aku bersiap pulang. Aku chat Nando yang sejak pagi entah dimana rimba nya.


" Aku mau pulang, kamu dimana?" tanya ku


" Duluan aja Yank, aku mau handover dulu sama pak Thomson. Besok udah gak mungkin, Jumat waktu pendek" 


" Oke, aku duluan ya, aku mau packing. Aku naik ojek online yank, Risna udah duluan pulang rupanya"


" Yang mobil ya, jangan yang motor, nanti abang nya nge-rem nge-rem pula"


" iyeeeee" 

__ADS_1


*


*


Sesampainya di kos, aku mulai menyusun pakaian dan perlengkapan ku ke koper. Aku gak mu bawa pakaian terlalu banyak, aku isi.juga denga oleh-oleh yang sudah aku angsur belikan untuk keluarga ku.


Sebenarnya ini hari yang paling aku tunggu-tunggu jika Dion tidak merusak nya. Iya , aku pun akan memutuskan pulang lebih cepat, jika memang masih di lanjutkan pertunangan nya. 


Tanpa terasa sudah mulai malam, baru sadar aku belum melihat HP sejak di kos tadi. Ku lihat ada pesan dari Nando. Hanya photo bahwa dia sudah sampai di rumah nya, dan ingin beristirahat. Katanya tadi malam gak tidur nyenyak, karena si dedek bolak balik bangunin. Heleeuh…


Jumat pun tiba, hari ini benar-benar santai. Semua tugas ku untuk event, termasuk report sudah aku serahkan, dan tanpa revisi menurut Nando. Yang aku aneh, Nando benar-benar tidak mengurus cutinya. Tapi di briefing pagi tadi bersama teman-teman dia memasrahkan kepada supervisor Concierge semua operasional FO selama dia bertugas di luar kota, dan aku kebetulan cuti. Ya sudah lah, terserah yang punya hotel saja. 


Pukul 4 teng, aku langsung berkemas pulang. Nando juga. Aku pamitan dengan anak-anak. Dan lanjut menunggu Nando di parkiran mobil.


" Amankah perjalanan kita besok?" tanya nya sesampai di mobil


" gak aman nya kenapa?" tanya ku balik


" Ya, kan tau apa yang akan terjadi disana, bisa kah kamu balik ke kota ini setelah itu?"


"Aku punya kaki Ndo… kalau aku lihat gak kondusif, aku kabur. Aku udh mikir itu. Makanya gak terlalu banyak bawa baju"


" Semoga baik-baik aja ya" ucap Nando memberi semangat.


" Aku sebenarnya menunggu-nunggu sekali moment ketemu keluarga ku. Tapi gimana lagi, Dion merusak nya"


" Sabar aja, pasti ada jalan keluarnya" 


Kami pun sampai di kos, Nando langsung berpamitan, sampai ketemu besok pagi, saat berangkat.

__ADS_1


Antara tidak sabar bahwa besok kan ketemu Ibu, ayah, dan adik-adik ku, dengan harus mengahadapi masalah saat memperkenalkan Nando. Aku mengabaikan maslah keyakinan untuk sementara ini. Tapi masalah pertunangan dengan Dion, saat aku tolak, apa tanggapan Ayah dan Ibu, apalagi mereka gagal menjadi besan walikota.


Kedatangan ku akan menjadi suprise bagi ayah dan Ibu, dn aku harap mereka menerima Nando seperti mereka menerima Dion. Selebih nya aku harus siapkan nyali dan narasi bagaimana aku merasakan cinta dri Dion yang penuh tekanan, dengan cinta Nando yang penuh perhatian dan pengertian.


__ADS_2