
Pagi tiba, Risna dan Dona bersiap berangkat ke kantor.
" Pakaian aku bawa sekalian sekarang ya Sist.. Pak Bos pulang kan tudeii" Ucap Risna sambil membereskan pakaian nya.
" Iiihh, padahal gpp kalau kalian masih mau nemenin aku tidur disini.."
" Ah, biarin deh Pak Bos, nanti malah kami menganggu" Sela Dona
" Heleeeehh.. Biasa aja kali.."
" Kami berangkat dulu ya Bi,, cepat sembuh, besok pulang kerja kami besuk lagi ya..." Pamit Risna.
Seharus nya sebentar lagi Nando sampai. Aku bergegas mencoba bangkit untuk mandi. Agak goyang, tapi gak separah kemarin. Sudah lebih baikan. Aku mau Nando melihat ku fresh hari ini. Dan aku berharap hari ini juga aku bisa pulang.
Setelah selesai mandi aku sedikit memoles make up di wajah ku, agar tidak terlalu pucat, Risna untungnya sudah membawa tas ku yang tertinggal di kantor kemarin.
Setelah semua selesai, aku melirik ke arah jam dinding, ya, paling dalam hitungan menit Nando akan sampai. Selain bersiap menunggu Nando, aku juga bersiap mendengarkan kisah nya beberapa hari ini. Jujur, hati ku lebih siap hari ini, apa pun itu.
Benar saja, ponsel ku berbunyi, panggilan dari Nando. Aku segera menjawab panggilan nya.
" Ya Ndo? Sudah sampai?" Sambut ku.
" Udah, udah dekat rumah sakit.. Kamu mau makan apa? Aku bawakan sekalian " Jawab Nando.
" Gak, aku baru selesai sarapan, tapi kalau kamu sempat, bantu belikan air mineral saja Ndo"
" Oh, itu aja? "
" Iya, sempetin yaaa"
" Siap Boss"
Dan panggilan pun d akhiri. Dokter ku belum datang, padahal kemarin di jam yang sama beliau sudah datang untuk kunjungan pasien. Tapi gpp, pikirku biar sekalian di waktu ada Nando. Biar Nando bisa dengar sendiri keterangan dokternya. Kalau gak, aku harus siaran ulang untuk menjelaskan kepada nya.
Tidak lama kemudian, Nando sampai. Melihat wajah Nando yang sumbringah benar-benar membuat hati ku meleleh, aku benar-benar merindukan nya.
__ADS_1
Dengan senyuman lebar nya, Nando berjalan dari pintu menuju tempat tidur ku. Aku menyambutnya dengan senyuman terlebar yang aku punya.
" Bisa-bisa nya di infus ya Neng..." ledek Nando. Lalu meraih kepala ku, dan mencium kening ku lembut.
" Seumur hidup baru kali ini Pak,,, Untungnya infus ini terpasang saat aku masih pingsan. Kalau gak, aku milih kabur " Nando tertawa menanggapi kata-kata ku.
" Gimana? Udah mendingan?"
" Tadi mandi, aku rasa udah jauh mendingan dibanding kemarin. Kemarin masih goyang banget, kalau tadi udah gak sih"
" Syukurlah, terus dokter udah datang pagi ini ?"
" Belum, mungkin bentar lagi.."
" Ya dah, aku ganti baju dulu ya bentar, ini air mineral kamu" Nando lalu menyodorkan satu botol air menral, dan meletakan dua botol lagi di atas nakas dekat tempat tidur ku, lalu ia berjalan menuju toilet.
Rindu nya aku dengan sosok ini, sampai sampai melihat punggung nya saja membuat aku merasa sangat bahagia. Aku ingin memeluk nya lama, dan mencium bau parfum nya yang khas.
Lalu dokter pun datang memeriksa kondisi ku, menjelaskan bagaimana perkembangan ku sejak pertama kali datang dalam kondisi pingsan. Nando yang baru saja selesai mengganti pakaian, ikut menyimak dan bertanya kepada dokter.
" Dok, dengan kondisi ini, apakah saya boleh pulang hari ini dok? Karena kalau berdiri dan berjalan, saya gak lagi merasakan kepala saya berputar atau pusing dok" Tanya ku setelah si dokter selesai menjelaskan.
Nando keluar dari toilet, melihat dokter ia kembali tersenyum.
" Siang dok " Sapa nya pada dokter. Lalu berdiri disebelah ranjang ku.
Yang buat aku gagal focus malah si perawat yang mendampingi si dokter. Dalam rangka apa dia menatap Nando dalam sekali. Liat rambut Nando basah, dan wajah tampan Nando, sampai-sampai perawat ini tidak menyadari kalau aku memperhatikan nya menahan senyum. Oh Tuhan, dia baru liat aja udah seperti itu, apalagi kamu tau cowok ini romantis banget sust... Bisa gak tidur-tidur kamu nanti.
Diskusi dengan dokter selesai. Setelah tadi ada sesi tanya jawab antara dokter dan Nando, dokter pun meninggalkan kami berdua.
" Pantesan betah dsini, dokter sejak awal aku perhatikan natap kamu terus. Ih, aneh" Sindir Nando.
" Gimana? Aku gak ngerasa lho" Jawab ku heran.
" Dia suka kamu tu, untung dia gak nanyain aku siapa, kalau dia berani nanya ni, aku jawab aja suami, tapi belum nikah resmi "
__ADS_1
" Ada-ada aja, nikah belum,, tapi kawin udah... eh, mungkin aku type type kesenangan dokter kali ya, soalnya yang lagi nungguin di sana juga dokter tu" Tawa ku langsung menggelegar, dan tiba-tiba Nando langsung mentoyor kepala ku.
" Kamu udah kabari ayah dan Ibu kamu?" tanya Nando lagi.
" Gak, belum, takut nya mereka malah datang kesini, berikut dengan dokternya yang satu lagi"
" Awas aja kalau berani " Wajah Nando langsung berubah serius.
Aku lalu tertawa melihat reaksi Nando tadi.
Setelah itu Nando malah duduk di sofa, sambil memainkan ponsel nya. Rasa nya aku ingin bertanya tentang hasil.kepergian nya kemarin, tapi Nando tidak menunjukan sikap dia akan bercerita sesuatu dengan ku. Mungkin dia menunggu aku pulang dari Rumah Sakit.
Aku terus memperhatikan gerak gerik Nando, ekspresi wajah, dan sikap nya. Apakah terlihat sedih atau bahagia, tapi aneh nya yang aku dapati malah biasa aja. Kembali ke spekulasi pertama, kalau itu berita bahagia, harus nya dia tidak akan melihat waktu terbaik, dia bisa sampaikan kapan saja. Artinya kalau dia mengulur waktu, mungkin berita yang akan di sampaikan buruk.
Jadi yang harus aku lakukan sekarang adalah, membiarkan Nando saja dulu, gak ush mendesak, karena aku yakin, Nando selalu tau apa yang harus dilakukan nya.
" Neng...." Panggilnya
" Ya..."
" Kalau penunggu pasien dapat makan gak?"
" Dapat sih biasanya. Tapi terserah yank, kalau kamu mau makan disini atau beli"
" Disini ajalah, lagi malas keluar. Nikmati aja dulu"
" Oke ,, kalau kamu capek, tiduran aja Ndo, nanti kalau ada apa-apa nanti aku bangunkan"
" Lho? Kok aneh, yang sakit malah yang jagain?"
" Aaahh dah lah,, kamu kan capek, subuh-subuh bangun dan berangkat langsung"
" Masih muda neng,,,, masa segitu aja capek "
" Baiklah Pak Bos... Terserah ya, tapi jangan nahan-nahan kantuk, capek itu manusiawi kok"
__ADS_1
" Baik Nyonya Nando...." Jawab Nando tertawa dan sedikit mengejek.
" Aminnnnn" Jawabku, dan di sambut tawa keras Nando. Dan entahlah, apa maksud dan tujuan nya apa.