Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Terimakasih Nando


__ADS_3

Mobil mulai bergerak, baik ayah, Ibu, dan Dion hanya terdiam menyaksikan kepergian ku. Aku menangis terisak-isak di mobil. Sesulit ini kah jalan ku ingin bersama, Nando. Nando bahkan belum membahas keyakinan kami, seperti ayah. Akan kah aku bahagia setelah ini?


Apa yang akan aku lakukan setelah ini? setelah menjadi anak yang di anggap membangkang kepada orang tua. Apa aku melakukan semua nya hanya demi Nando? Gak, ini semua terjadi karena Dion. Walau masa depan ku dengan Nando hanya punya harapan 75%, karena apa yang ayah takutkan tadi, sudah ada di kepala ku. Aku hanya menunggu bom yang akan meledak kapan saja.


Sepanjang jalan, aku memeluk tangan Nando, dan menenggelamkan wajah ku dibalik lengan nya. Aku malu dan sedih, malu karena Nando menyaksikan perselisihan ku dengan keluarga ku, sedih karena cuti yang sudah aku atur, berharap bisa melepas rindu, harus hancur. Untung tiket di bayarin Nando, kalau gak aku akan rugi banyak. 


" Mau kemana yank? jadi guide aku hari ini yuk, mau lihat-lihat kota kamu" Nando membuka pembicaraan. Mungkin Nando tidak ingin melihat ku bersedih lama. 


" Gak sekarang Ndo, aku capek, mau istirahat" jawab ku


" Yuk balik ke hotel" jawab nya.


Mobil pun kembali mengarah ke hotel. Sampai di hotel, Nando meminta satu kamar lagi ke receptionist. Sampai di lift aku meminta kunci kamar yang masih di Nando. 


" Sini kunci nya…" minta ku


" Buat apa? " 


" Buat aku istirahatlah, aku pengen baring"


" Ke kamar aku aja"


" Lah, terus kenapa minta kunci kamar lain?"


 " Iya donk, kalau di laporin mama kan berabe nanti,hahahahhaa" 


aku hanya menggeleng melihat tingkah laku Nando. 


Sesampai nya di kamar, aku langsung berbaring, aku menutup semua kepala ku dengan bantal, berharap yang terjadi tadi cuma mimpi. Aku berteriak di dalam bantal, hanya untuk meluap kan kekesalan ku.


Banyak andai yang aku bayangkan…


Andai Dion tidak memarahi ku terus menerus selama LDR, mungkin kami masih bersama..


Andai Dion tidak menghina ku dan orang tua ku, mungkin aku akan menerima lamaran ini dengan bahagia..

__ADS_1


Andai Dion tidak menyuruh ku menjual diri di depan Nando, mungkin dia masih kekasih ku…


Andai Dion tidak membuat rencana pengecut nya untuk menjebak ku, mungkin hari ini aku dan keluarga ku sedang bersenda gurau, melepas rindu…


Dan sekali lagi, ini bukan karena Nando, tapi karena aku tidak ingin bersama Dion. Tapi Ayah Ibu salah paham, mereka menjadikan Nando kambing hitam. Dan Dion? dia menikmati semua kejadian ini. Cuci tangan atas situasi yang sudah dia skenariokan.


Walau tidak melihat, aku bisa merasakan Nando mulai menaiki tempat tidur, dan berbaring di sebelah ku. Tangan nya mencari kepala ku di balik bantal. Berusaha membelai rambutku. 


" Bi…. masih nangis?" tanya nya.


" Gak, tapi masih kesal"  


" Terus mau gimana? kamu mau pulang ke rumah? nanti agak malaman, saat Dion sudah tidak disana, kita bicara baik-baik dengan orang tua kamu" 


" Aku gak yakin ayah dan Ibu bisa di ajak bicara baik-baik sekerang Ndo.. mereka marah besar tadi " aku mulai menurunkan bantal dari wajah ku. 


" Ya, walau mereka marah, kamu gak perlu ikut emosi. Nanti aku temani bicara ya.."


" aku takut, setelah ini aku gak bs keluar lagi dari rumah itu, aku mereka menangkap ku untuk di lamar Dion"


" Gak,,, aku disini aja.. atau kita pulang besok aja gimana?" tawar ku, karena otak ku udah buntu mau ngapain lagi. 


" Eh,,, udah cuti terus pulang. Gak lah, malas…"


" Terus? "


Nando lantas menaikan kepala nya ke bantal yang sama dengan ku. Mendekatkan wajah nya dengan wajah ku…


" Ke Bali mau? atau ke Thailand? Atau ke Raja Ampat, Pulau komodo… mau?" 


Kalau niat Nando untuk menghibur ku, aku acungi jempol. Karena semua tawaran nya menggiurkan. 


Aku tertawa, lalu menganggukan kepala tanda setuju. Tapi bukan nya pelukan, malah Nando langsung memukul kepala ku walau tidak keras. 


" Di ajak ke rumah emak nya gak mau, nangis-nangis, teriak-teriak. Di ajak jalan-jalan tertawa-tawa…" sindirnya. 

__ADS_1


Aku langsung memeluk Nando. Ini bukan yang pertama  Nando bisa mengalihkan tangis ku jadi kebahagiaan seketika. Karena saat aku menangis karena Dion, Nando mengajak ku kepantai. 


Nando mulai sibuk dengan Hp dan aplikasi burung biru nya. Dia melihat-lihat mulau dari harga tiket sampai kamar hotel. 


" Kamu punya Paspor? " tanya nya.


" Punya, " jawab ku dengan mata bulat penuh harap..


" Ke Singapura? kita bisa seru-seruan aja, liburan tipis-tipis… kalau liat gunung, pantai, mending balik ke kota B aja.. kita ke Singapura, terus naik roller coaster yang panjang, kamu teriak-teriaklah disana, sampai puas…" jelas Nando.


" Ya… pokoknya aku ngikut aja Pak Bos.."


" Iyalah manut, aku yang bayar…" ejek Nando


" Owh, gpp lho kalau mau patungan,, aku ada kok, itu kalau kamu gak malu sih" sindir ku, dan sekali lagi tangan Nando mendarat di kening ku.


Kami kembali bercanda. Seperti tidak terjadi apa- apa sebelumnya. Sejenak sedih ku hilang. 


Setelah makan malam, Nando memberikan kunci kamar yang tadi di minta nya ke receptionist. 


"Pindah kamar ya…"


" Dari tadi udah minta lho aku"


" Kalau kita sekamar, nanti kita makin bahagia, susah" Kembali si Bapak Bos membuat ku tertawa. 


Aku mengambil kunci kamar  dan keluar dari kamar Nando. Ternyata kamar ku berhadapan dengan kamar Nando. 


Setelah sendiri, aku kembali teringat kejadian hari ini. Bahkan belum satu jam aku bisa berbagi cerita dengan adik-adik ku. 


Setiap aku mengingat itu semua, kembali wajah Dion yang mengulas senyum licik terbayang oleh ku. 


Walau bagaimanapun aku pernah mencintai Dion. Tidak selalu sakit, Dion juga sering membuat aku bahagia. Dan memang Dion selalu mengatakan akan menikahi aku. Tapi aneh nya tiap Dion mengatakan itu, aku malah menjadi tidak nyaman. Bagaimana bisa, orang yang dulu sangat aku sayang, menjadi orang yang sangat aku benci saat ini. 


Aku doakan, Dion bisa mendapat wanita yang lebih mencintainya…

__ADS_1


__ADS_2