Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Menghitung Mundur Lagi


__ADS_3

" Hei...." Sapa Nando, saat mata nya terbuka, ia langsung mengecup ujung kepala ku.


" Tumben pagian bangun? Udah lapar? Udah sarapan?" tambah nya lagi.


" Belum, nungguin kamu, sama2 aja yuk sarapannya" jawab ku.


" Bentar lagi ya... " Ucap Nando manja, lalu menarik ku kedalam pelukan nya.


Aku tertawa kecil melihat perilaku Nando yang manja seperti ini.


" Ya,,, terserah... " jawab ku, lalu membalas pelukan Nando,


" Anak sebelah tadi malam lucu ya.." tambah ku lagi.


" Piere nama nya. Wajah nya mirip banget sama bapak nya. Aku rasa kalau aku punya anak, anak cowok, aku pengen wajah nya mirip emak nya aja. Jangan mirip aku. Tapi kalau anak cewek, gpp, mirip aku wajah nya"


" Kok gitu?"


" Ya gpp, pokok nya anak cowok ku itu mesti jadi cowok banget, bandel, tapi pinter"


" Aneh, kok pengen anak cowok yang bandel sih?"


" Walau hanya bayang bayang aja, aku masih ingin kamu yang jadi ibu anak-anak ku nanti Bi..."


" Ndo, aku balik sekitar minggu depan lah ya, Apa perlu kita buat farewell party?"


" Yang resmi di kator? Wajib yank"


" Yang di luar? Bikin acara apa gituu"


" Kamu mau di restaurant?"


" entah lah, aku sebenernya gak pengen, karena aku takut rasa nya sedih pasti. Walau cuma setahun berteman, tapi rasanya banyak sekali yang udah aku lewatin bareng mereka. Gak terasa..."


" Aku ngikut kamu aja, kalau kamu mau buat di luar kantor, silahkan..."


Obrolan pagi ini sebelum sarapan hanya obrolan ringan. Mengenang lagi hari-hari yang sudah kami lewati, mengklarifikasi beberapa hal yang masih menjadi tanda tanya selama ini. Dan yang penting pagi ini tidak ada air mata. Baik aku dan Nando sudah mulai lebih siap.


Kami pun memutuskan sarapan, selesai sarapan, aku mandi bergantian dengan Nando, dan setelah nya hanya berbaring memainkan ponsel kami masing-masing.

__ADS_1


Tiba-tiba panggilan dari Lusi masuk.


" Kak...." panggil Lusi.


" Ya dek, gimana, apa kabar kamu?" Jawab ku antusias.


Jujur, Lusi selama ini hanya menghubungi ku jika ada masalah, lebih nya aku yang selalu menghubungi nya.


" Kak, ayah mungkin lusa akan di operasi kembali kak.."


"Maksud nya gimana Dek?"


" Beberapa hari lalu kondisi ayah kan sempat membaik, bahkan mau di keluarin dari ICU, tapi malam tadi memburuk lagi mba. Ayah harus operasi lagi "


Aku meneteskan air mata, apa yang harus aku lakukan. Kalau aku pulang sekarang, aku belum lakukan clearance dan handover dengan pengganti ku.Perasaan ku campur aduk. Antara pekerjaan dan ayah ku.


Melihat aq panik dan mulai menagis, Nando mendekati ku. Ia merangkul bahu ku, mengelus punggung ku lembut, seolah ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


" Aku cuma mau info itu saja kak, kalau kakak bisa kembali, dan ikut mendampingi ayah kak"


" Kenapa menunggu lusa? Kenapa tidak secepat nya Lusi?"


" Baik Dek, semoga semua lancar ya?"


" Kakak gak pulang?"


" Kakak akan kembali dek dalam minggu depan, tapi kakak gak bisa pulang secepat itu, kakak harus handover dulu dek..."


" Kakak,,, apa itu semua lebih penting dari pada ayah? Lusi kecewa kak..."


Sekali ini Lusi berbicara sangat keras, dia benar-benar menunjukan kekecewaan nya pada ku, hal ini malah membuat aku semakin menangis karena bingung.


" Kak, Lusi capek kak,,, capek sekali. Bukan Lusi ingin mengeluh karena mengurus ayah kak, tapi memang Lusi merasa kenapa hanya Lusi? Seperti nya anak ayah hanya Lusi sendiri..." Lusi berbicara sangat keras, ia meluapkan emosinya yang aku fikir sebenarnya sudah lama di pendamnya.


" Dek, akan kakak usahakan. Tapi kakak gak bisa janji..."


Lusi lalu mengakhiri panggilan nya. Aku terkejut dengan apa yang dilakukan Lusi. Aku tidak menyangka anak itu meluapkan emosi nya dengan cara itu pada ku. Ya, apa pun itu, itu hak nya. Dan aku harus memaklumi nya. Ia lelah.


Aku menangis di pelukan Nando. Seperti nya walau sayup sayup, ia bisa mendengar kata-kata Lusi tadi. Karena tanpa aku ceritakan, sepertinya Nando tau masalahnya saat ini.

__ADS_1


" Gimana?..." tanya Nando


" Aku gak tau Ndo, mesti gimana.."


" Pulanglah besok"


" Gak bisa, aku belum handover "


" Gak usah di pikirin. Itu urusan ku. Aku yang akan lakukan semua disini. Gak usah khawatir..."


Tubuh ku menggigil, aku menagis sekencangnya. Bukan hanya karena ayah yng akan bersiap di operasi, tapi juga Nando yang aku tinggalkan lebih cepat.


" Masalah pekerjaan disini, dan transfer kamu ke sana, aku yang akan urus. Pulang lah, lihat kondisi ayah, dan temani Lusi juga Ibu, biar beban mereka sedikit berkurang"


" Aku masih belum siap Ndo... Belum siap meninggalkan kamu..."


" Gak usah kamu pikirkan. Toh gak besok, atau lusa, kamu juga akan tetap pergi. Pergiah Bi... Mereka butuh kamu"


Aku tidak menjawab. Aku menenggelamkan wajah ku ke dalam pelukan Nando. Aku terus menangis. Nando hanya terus mengelus elus rambut dan punggung ku.


Ternyata, berkemah ini jadi kenangan terakhir kami. Jika kami tidak berjodoh, Jika kami tidak di pertemukan kembali, Bagaimana aku akan menyimpan kenangan bersama seorang laki laki tampan, yang sangat aku cintai, jika aku kelak menikah dengan orang lain?


Bagaimana aku mencintai suami orang, jika nanti aku dan Nando sama-sama telah menikah? Bahagiakah kami dengan pasangan kami nanti. Bagaimana kami menyembunyikan hati yang separuhnya, tidak,, hampir seluruhnya menjadi milik orang lain.


Dan yang paling sulit mungkin, saat kami saling rindu, apakah di benarkan kami berdua bertukar kabar?


Aku meremas baju Nando. Hati ku sakit kembali. Aku ingin menyeret Nando ke danau, ingin mati bersama, biar rasa ini dan ketakutan ini selesai. Karena aku tidak yakin akan baik-baik saja setelah ini.


"Bi....." Bisik Nando.


" Sudah yuk nangis nya. Kita masih berdua disini. Kamu ingat gak? kita juga buru-buru pulang saat berkemah terakhir, karena kamu mau kejar pesawat. Sekarang juga. Seperti nya kita gak di restui untuk berkemah" tambahnya sambil berseloroh.


Aku benci kata kata restu ini.


Aku memberanikan diri menatap wajah nya. Nando tersenyum manis. Dan aku mendekatkan wajah ku pada nya. Kami pun kembali larut dalam dosa.


Ya Dosa, dosa yang sudah berkali-kali kami lakukan. Perbuatan yang di larang agama Nando dan agama ku. Agama juga yang membuat hubungan ini sesulit sulitnya.


Apakah aku tidak takut akan masalah yang timbul atas perbuatan ku ini nanti nya? Masalah dalam masa depan ku?

__ADS_1


Sudah, semua sudah aku ikhlaskan. Bahkan pada Ryo, sudah aku sampaikan kondisi ini.


__ADS_2