
Seperti nya doa ku di dengar...
Tiba-tiba turun hujan. Kami tetap bisa barbeque di bawah kanopi tenda, Nando pun tetap membiarkan pancingnya parkir di pinggir danau.
Aku sangat suka sinar bulan yang di tutupi air hujan. Mulai berwarna merah, bukan nya gelap karena mendung. Danau yang disiram hujan, bau nya menguap, bau tanah yang harum terkena air, aku benar-benar suka suasana ini. Andai aku bisa menghentikan waktu, aku hanya ingin saat ini saja. Buat ku sangat indah. Tapi ada yang aneh, entah mengapa aku merasa sedih, seperti mau menangis. Aku memandang Nando, aku merasa air mata ku terdorong keluar. Aneh. Padahal aku sangat bahagia saat ini.
" Yank... Hei...kamu kenapa?" Tegur Nando. Aku langsung tersadar dari lamunan ku. Aku langsung memeluk Nando erat. Aku benar-benar takut kehilangan Nando.
" Aku mau seperti ini saja terus Ndo. Gak tau kenapa perasaan ku sedih. Ada apa ya?"
" Kenapa? Teringat ayah?"
" Gak, aku hanya tiba-tiba takut kehilangan kamu "
" Aku disini, gak kemana-mana" Ucap Nando mengusap tangan ku, dan menarik kepala ku untuk di kecupnya kening ku.
Apa yang tiba-tiba membuat ku sedih? Tempat ini adalah tempat favorit ku dan Nando. Tempat yang paling indah yang pernah aku kunjungi seumur hidup ku. Suasana ini, hujan ini, kemah, dan harum nya tanah ini, itu semua keinginan ku. Tapi aku sedih.
Aku mencoba chat Lusi. Menanyakan kondisi ayah. Menurut Lusi ayah seperti biasa nya. Ibu juga tidak ada apa-apa. Lalu apa yang membuat ku sedih.
Langit tidak lagi merah, aku tidak lagi bisa melihat bulan. Hujan semakin deras. Nando mengajak ku masuk ke tenda. Di tenda Nando masih duduk, dan aku berbaring di pangkuan nya.
Nando berkisah, bahwa dia tidak pernah memiliki rasa ingin memiliki lebih dari yang dia rasakan pada ku. Dan selama ini kata pernikahan jauh dari pikiran nya, walaupun dia sempat berfikir untuk menikahi Renya dulu, tapi tidak.sampai terdorong seperti kepada ku, bahkan kalau bisa di bilang hubungan kami ini masih tergolong sebentar.
Setelah ini, Nando akan coba berbicara dengan orang tua nya, bagaimana solusi dari mereka terkait hubungan kami. Mama sudah memberi lampu hijau untuk mengelola hotel di kota ku, tapi papa nya belum ada reaksi.
Aku pun demikian. Aku akan memberanikan diri untuk meminta restu orang tua ku. Setelah itu kami pun berjanji untuk berembuk berdua saja, apa keputusan kami mengenai keyakinan ini. Dan aku, walau demikian belum ada keinginan untuk mundur menghianati Tuhan ku. Lalu Nando? Egoiskah aku meminta nya memilih ku dan menghianati Tuhan nya?
Malam mulai larut, pembicaraan kami malam ini sangat sendu. setelah masalah pernikahan, kami pun berfikir jika semua jalan buntu? akan kemana kami mencari restu?
Mengobrol sampai larut, membuat kami mengantuk, dan memutuskan tidur. Kami tidur saling bertatapan, seakan tidak ada besok untuk berdua lagi.
Aku meras tidurku belum lagi nyenyak, tiba-tiba telpon ku berdering. Yang aku lakukan dahulu adalah melihat jam tangan ku, pukul setengah 4 pagi. Aku lantas mencari Hape ku yang entah tergeletak dimana. Betapa kaget nya aku, yang menelpon adalah Ibu. Nando yang juga terbangun sama kagetnya dengan ku melihat nama dilayar Hape tersebut.
" Ibu...." sapa ku.
" Sena,,, kapan kamu bisa pulang?" jawab Ibu disana.
__ADS_1
" Kenapa bu? Adakah yang mendesak?"
" Kondisi ayah mu makin memburuk. Jika ada libur walau 2-3 hari, pulangah sebentar Sena. Temui ayah, tiap hari ayah menanyai kabar mu"
" Kenapa Ibu tidak menelpon Sena saja?"
" Ayah tidak mau, "
" Baik bu, Sena usahakan pulang secepatnya"
" Baik nak, Ibu tunggu"
Lalu telpon di tutup.
Nando menatap ku, aku pun demikian. Lalu aku kembali ke pelukan nya.
" Besok pulang lah, biar aku yang urus cuti mendadak mu"
" Besok aku cari pesawat, go show aja yank, paling Rabu aku udah balik kerja"
" Selesaikanlah dulu disana, baru kembali, maaf aku gak bisa nemani kamu kali ini. Tapi kalau kamu butuh aku, kabari ya"
" Ada Pak Agus juga disana, kamu bisa minta tolong sama dia juga, jangan sungkan"
" Baik Yank"
" Yuk istirahat dulu, tidur lagi..."
Aku pun kembali tertidur.
*
*
Pagi nya aku sesegera mungkin ingin pulang, tapi Nando malah lebih santai.
" Yank, aku harus go show hari ini, kita check out awal aja ya"
__ADS_1
" Gak usah, td malam tiket udah aku pesan, syukurnya masih banyak yang kosong. Kamu berangkat jam 6 sore" Jawab Nando masih memejamkan mata nya.
Aku tersenyum. Begitulah Nando. Padahal dia yang meminta ku untuk tidur, tapi dia malah begadang mencari tiket untuk ku. Aku kembali berbaring memeluk nya.
" Gak bau jigong ?" Tanya Nando lagi usil
" Gak, gak kecium, bau nya sama" balas ku sambil tertawa.
Kami pun lanjut memejamkan mata kembali. Aku tidak akan membawa barang banyak. Hanya 2-3 hari disana, aku akan membawa tas kecil saja.
*
*
Pukul 11, setelah selesai sarapan dan berberes, kami pun pulang. Nando tidak pulang, Dia melanjutkan tidur nya di apartemen, sementara aku mempersiapkan tas ku. Aku juga menghubungi Risna, menyampaikan aku mengambil cuti mendadak, karena ayah ku sakit.
Risna meng-1oke kan, selama GM oke. Ya sudah jelas, GM juga yang memesankan tiket pesawat ku.
Sekitar pukul 2 Nando keluar dari kamar nya dalam keadaan sudah mandi, dan lebih segar.
" Mau pesan makan yank? " tanya ku.
" Yuk, mau makan apa?" tanya nya balik
" Pesan dari kantin bawah aja yuk, ayam goreng dan capcai aja, mau?"
" Boleh, gpp "
Aku langsung chat pemilik kantin di apartemen ini. Gak sampai setengah jam makanan pun datang, lalu aku menyiapkannya di atas meja makan, untuk aku dan Nando makan bersama.
" Baik-baik disana ya, jaga diri, berkabar, kalau ada apa-apa hubungi pak Agus" ini pesan siaran ulang dari Nando. Karena tadi malam sudah di sampaikan nya juga kepada ku.
" Iya yank, aku balik kesini hari apa ya?"
" Kamis aja, biar tiket nya aku yang urus. Kalau gak banyak kerjaan, aku susul kamu ya"
" Gak perlu, buang-buang uang dan waktu. Kamis aku balik kesini"
__ADS_1
" Baik, yang penting kamu nyaman aja "
Aku pun mendekatkan wajah ku ke Nando. Dan mengecup bibir nya. Di balas oleh Nando dan kami malah meninggalkan sisa makanan di atas meja. Nando menggendong ku sambil terus menciumku, lalu mendaratkan ku di atas sofa TV.. Lagi....