
Leo menyeret dua koper besar sekaligus dari kamarnya menuju teras depan di ikuti Luna yang juga membawa koper tapi bedanya Luna hnaya membawa satu dan itu lebih kecil dari yang suaminya bawa. Melinda hanya duduk di kursi teras depan melihat anak menantunya memasukan koper kedalam bagasi mobil.
“Berasa di usir gue,” ucap Leo saat memasukan koper terakhir yang istrinya bawa.
Luna dan Melinda hanya terkekeh kemudian masuk kedalam mobil, duduk di jok belakang sedangkan Leo di kursi kemudi. Melajukan mobil menuju komplek perumahan Lyra-Pandu yang akan menjadi komplek perumahannya juga mulai hari ini.
Sesampainya di depan rumah yang cukup besar dengan gerbang hitam yang terbuka lebar juga beberapa beberapa mobil besar pengantar barang pesanan sang Ayah. Leo memarkirkan mobilnya di rumah Lyra setelah sebelumnya menurunkan koper-koper di depan gerbang rumahnya.
“Woah ternyata kalian udah ada disini. Terima kasih loh udah pada mau bantuin gue pindahan,” Leo berucap saat masuk kedalam rumah dan melihat Levin, Devi, Leon, Linda, Sari, Lukman, Pandu, juga Wisnu yang ternyata sudah ada di sini juga dan masih banyak lagi orang yang tengah menyusun barang-barang baru untuk mengisi rumah besar yang akan menjadi tempat tinggal Luna dan Leo.
“Jangan banyak bicara kamu, Le cepat sini bantu Om angkat lemari itu,” ucap Leon seraya menunjuk lemari yang ada di depannya. Leo langsung menghampiri Leon dan melaksanakan titahnya.
Para lelaki bertugas mengangkat dan memindahkan barang-barang yang besar dan berat seperti lemari, nakas, ranjang dan lainnya sedang kan perempuan menyusun pajangan-pajangan dan barang-barang lainnya kedalam lemari yang sudah terpasang, sedangkan Luna dan Lyra berada di lantai atas, tepatnya di kamar utama yang akan menjadi kamar Luna dan Leo. Menyusun pakaian kedalam lemari dan menata barang-barang lainnya di kamar tersebut.
Selesai membereskan semuanya dan menyapu juga mengepel lantai, Luna dan Lyra turun kelantai bawah yang mana di sana pun sudah rapi dan bersih. Setalah istirahat beberapa saat bersama pasangan masing-masing dan menyaksikan juga mnertawakan perdebatan Levin dengan Devi mereka semua menyusul para orang tua ke dapur untuk makan karena memang perut yang sudah sedari tadi berbunyi meminta di isi.
__ADS_1
Makan malam ini di isi dengan canda tawa semua orang sebagai perayaan rumah baru untuk pengantin baru itu juga sebagai pelepasan antara Luna dan Leo bersama orang tua mereka.
“Yang kamarin-kemarin nolak di nikahin sekarang kok malah nempel mulu ya,” sindir Lukman saat acara makan malam selesai dan di lanjut dengan acara kumpul-kumpul di ruang tengah sambil menonton tayangan televisi.
Luna yang merasa bahwa itu di tujukan untuknya, hanya memberikan delikan tajam pada sang Ayah, tapi tetap tidak mengubah posisinya yang bersandar di pundak Leo dengan tangan pria itu yang melingkar di pinggangnya.
“Gak beda jauh, Luk sama yang laki. Waktu di suruh pulang dari Amerika dia ngotot gak mau, eh udah nikah malah gak mau lepas.” Tambah Wisnu yang juga melayangkan sindiran. Semua orang yang ada di sana tertawa.
“Mereka itu sebenarnya pada punya perasaan yang sama, Yah, Om, tapi ya gitu, karena kegedean gengsi jadinya so-soan nolak.” Lyra nyatanya ikut memberi ledekan. Kembali tawa terdengar membuat wajah Luna memerah karena malu, hendak melepaskan diri dari pelukan sang suami namun di tahan oleh laki-laki itu.
“Kayak gue dong Le, Lun kalau suka ya bilang langsung, gak usah main gengsi-gengsian, iya gak Dev?” Levin ikut membuka suara, menaik turunkan alisnya menatap kearah Devi yang duduk di samping Lyra tepat berhadapan dengan Levin. Hanya gedikan bahu dan wajah cuek yang Devi berikan sebagai jawaban.
“Ngakunya playboy dengan segudang mantan sekelas Miss Indonesia, tapi taklukin satu macan model Devi aja kamu kesulitan, Lev. Miris tahu gak?” Wisnu ikut meledek anak dari sahabatnya itu, membuat Levin yang kena buli mendengus kesal.
“Noh Dev, lo dengar sendiri kan? Masa lo tega biarin gue di buli mulu,”
__ADS_1
“Ya, terus urusannya sama gue apa?” Devi menaikan sebelah alisnya. Levin kembali mendengus sedangkan yang lain menertawakan Levin begitu puas apa lagi Leo yang bahkan tertawa paling kencang.
“Udah ada tanda-tanda kehadiran bayi belum Lun?” Levin bertanya perempuan cantik yang masih berada dalam pelukan suaminya. Mengalihkan pembicaraan karena ia sudah tidak tahan menjadi korban buli semua orang yang ada di ruangan ini.
“Nikah aja baru mau dua minggu masa iya langsung ada bayinya,” jawab Luna.
“Tapi ngadonnya udah kan?” Leon ikut bertanya dengan nada menggoda, dan itu membuat wajah Luna juga Leo memerah dengan gelagat salah tingkah.
“Woahh, Nu, Luk bentar lagi kalian jadi kakek ini, nyusul gue.” ucap Leon sedikit berteriak wajahnya berbinar begitu juga dengan Lukman dan Wisnu yang menjadi dalang dalam perjodohan antara Luna dan Leo.
“Gak nyangka gue kalau usia kita udah tua aja,” Wisnu berucap.
“Dih itu mah lo aja yang tua, gue sih masih muda, masih gagah dan tampan gini walau kenyataan punya cucu gak bisa gue elakkan.” Lukman melempar kulit kacang pada Leon yang selalu saja menolak di sebut tua.
“Tampang boleh masih terlihat muda dan tampan, Leon, tapi tetap aja usia gak bisa bohong kalau lo udah bau tanah.”
__ADS_1
Levin dan Leo tertawa paling kencang, bahagia karena ternyata ada juga yang dapat membuli Ayah dua anak itu dan membuat pria setengah baya itu diam, tidak dapat membalas.
“Baru lihat Princess muka kalah Daddy yang sangat mengenaskan ini, ahaha.” Tawa Lyra pecah. Membuat Leon semakin cemberut di tempatnya.