Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
65. Morning Sickness


__ADS_3

Luna meninggalkan Leo di tempat tidur seorang diri setelah memastikan bahwa keadaannya sudah sedikit membaik, sedangkan dirinya naik ke lantai atas dimana kamar anaknya berada untuk membangunkan ketiga bocah itu, karena hari sudah pagi, kaligus juga mengurus mereka untuk bersiap pergi kesekolah.


Tak lama Lyra datang bersama Pandu, menjemput Rapa dan Ratu yang baru saja bangun dan langsung membawanya pulang, sedangkan Queen masuk kedalam kamar mandinya diikuti Luna.


Selesai mengurus anaknya, Luna kembali turun ke lantai bawah, mengecek kembali keadaan suaminya yang syukurnya saat ini tengah terlelep, membuat helaan napas lega Luna keluarkan sebelum melanjutkan melangkah menuju dapur, memastikan bahwa sarapan untuk putrinya sudah di siapkan Bi Atin.


“Papi mana, Mi?” Queen bertanya begitu sampai di ruang makan dan tidak mendapati laki-laki kesayangannya di meja makan.


“Papi lagi sakit, Nak, jadi kamu sekolahnya di antar Ayah gak apa-apa kan?”


Queen menggeleng. “Gak apa-apa kok, Mi. Queen tengok Papi, boleh?”


“Boleh dong, tapi Queen selesaikan dulu makannya, ya, setelah itu baru tengok Papi,” ucap Luna dengan lembut seraya menyendokan nasi goreng ke piring anaknya.


“Oke!” serunya dengan semangat.


Walau dengan enggan, Luna tetap menyuapkan nasi goreng bagiannya kedalam mulut, menemani sang putri sarapan agar anaknya itu menghabiskan makanannya, tidak tega juga jika harus meninggalkan Queen makan seorang diri. Luna tidak mau mengabaikan anaknya dan membuat putrinya itu merasa kesepian. Kisah Amel tempo hari ia jadikan sebagai pembelajaran juga gambaran dimana seorang anak begitu membutuhkan sosok orang tua. Luna tidak ingin anak-anaknya nanti mengalami kesedihan seperti sahabatnya, sesibuk apapun dirinya, Luna bertekad untuk selalu megutamakan anaknya.


“Mami ngelamun?” tegur Queen menyadarkan Luna dari keterdiamannya.


“Ah, kenapa Nak?”


“Queen selesai makannya, Mi, udah boleh jenguk Papi kan?”


“Ya udah, yuk,” ajak Luna seraya bangkit dari duduknya dan meraih tangan anaknya berjalan menuju kamar dimana Leo berada.


“Papi sakit?” Queen naik keatas tempat tidur dan duduk di samping Papinya terbaring.


Leo yang semula memejamkan mata, perlahan membukanya, kemudian menampilkan senyum tipisnya pada sang anak yang menatap khawatir. “Papi gak apa-apa kok Queen, cuma pusing aja, nanti juga sembuh.”

__ADS_1


“Jangan lama-lama sakitnya, Pi, Queen kan jadi sedih,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


“Doain Papinya semoga cepat sem… huueeekk…” lagi-lagi Leo harus berlari menuju kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang jelas tidak ada yang keluar selain cairan bening karena memang belum ada apapun yang masuk kedalam tubuhnya kecuali air hangat yang di berikan istrinya.


Queen menangis terisak, menghampiri Papinya yang bertumpu pada wastafel. Sedih dan tidak tega melihat sang kesayangan sakit seperti ini, jelas Luna pun tidak kalah cemasnya.


“Papi…”


“Papi baik-baik aja kok, Nak, mending kamu berangkat sekolah, ya, nanti kesiangan,” ucap lembut Leo berusaha menampilkan senyum untuk meyakinkan anaknya bahwa dirinya baik-baik saja.


“Queen gak sekolah, boleh? Mau jaga Papi aja,” ucapnya dengan sesenggukan.


Leo dengan cepat menggelengkan kepala.


“Putrinya Papi harus sekolah dong, biar pintar. Papi akan segera sembuh kok, janji!” bujuk Leo dengan suara lemahnya.


Selesai mengantarkan Queen hingga naik ke mobil Pandu, Luna kembali ke kamar dengan segeras air hangat juga semangkuk bubur ayam yang baru selesai Bi Atin buat.


“Makan dulu, ya, habis itu kita ke rumah sakit,”


Leo tak banyak membantah, hanya menuruti apa yang di minta istrinya, melahap bubur yang di suapi Luna dengan tak berselera, tapi demi istri dan anaknya tidak lagi khawatir Leo mencoba memaksakan makanan itu masuk, namun baru saja beberapa suap rasa mual itu nyatanya kembali lagi, dan dengan cepat Leo menuju kamar mandi.


Entah sudah keberapa kalinya Leo muntah-muntah pagi ini karena kini wajah laki-laki itu sudah benar-benar pucat dan tubuhnya pun lemas. Satu tetes air mata keluar dari sudut mata Luna, merasa sedih dengan keadaan pria yang di cintainya itu.


“Kita ke rumah sakit sekarang, ya,”


Luna mengambil dompet juga kunci mobil Leo dan bergegas keluar, memanggil Pak satpam untuk meminta menyupiri mereka menuju rumah sakit, sebelum itu, ia minta bantuan Pak satpam terlebih dulu untuk menuntun Leo yang begitu lemas.


Di sepanjang perjalanan, Leo tidak hentinya mengeluhkan pusing dan mual dan itu membuat air mata Luna terus menetes, tidak tega dengan keadaan sang suami. Beruntung jalanan tidak begitu macet, membuat mereka bisa lebih cepat sampai di rumah sakit.

__ADS_1


Memiliki sahabat seorang dokter memang sangat membantu, dan itu memudahkan Luna dan Leo saat ini, tapi tetap saja ia tidak main masuk begitu saja karena sebelum kesini Luna sudah lebih dulu membuat janji dengan sahabatnya itu melalui telpon saat pagi tadi dirinya menemukan Leo muntah-muntah di kamar mandi, Luna langsung menghubungi Amel dan membuat janji temu. Maka dari itu tidak perlu lagi ia mengantri menunggu giliran.


“Bisa sakit juga lo, Le?” Amel terkekeh pelan dan mempersilahkan laki-laki itu untuk tidur di ranjang pemeriksaan.


“Gue juga manusia kalau-kalau lo lupa!” kekehan Amel bertambah begitu mendengar dengusan lemah sahabatnya.


“Keluhannya apa?” tanya Amel seraya mengecek suhu tubuh, tekanan darah, detak jantung dan lainnya.


Luna menyebutkan apa saja yang di alami suaminya sejak pagi ini, di tambah dengan keluhan-keluhan Leo lainnya yang memang laki-laki itu rasakan. Amel menganggukan kepala paham dan meminta Leo juga Luna untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


“Gue pengen ketawa boleh gak?” tanya Amel yang sejak tadi sudah menahan tawanya. Itu tentu membuat Luna dan Leo mengernyit bingung.


“Kok, malah ketawa, Mel? Ini kondisi suami gue gimana? Kita kesini pengen periksa loh bukan mau lo ketawain?” kesal Luna.


“Haha… oke-oke, ekhm!” Amel berusaha menghentikan tawanya. “Gini Le, Lun setelah gue periksa, sebenarnya Si Leo gak sakit apa-apa…”


“Maksud lo gimana sih, hah? Udah jelas laki gue dari pagi muntah terus, dan ngeluh pusing, mana bisa lo bilang dia gak sakit apa-apa?”


“Ck, jangan potong dulu kenapa sih, gue belum selesai jelasin ini! maksud gue, laki lo emang gak menderita sakit apa-apa, mual dan pusing itu wajar kok buat orang ngidam, apa lagi lo lagi hamil, Lun. Ya, bisa di bilang laki lo lagi mengalami morning sickness.” Jelas Amel dengan gemas.


“Kan, yang hamil istri gue Lun, bukan gue?” bingung Leo, tak paham dengan penjelasan singkat yang di berikan sahabatnya itu.


“Ini nih lo harus paham Le, Lun. Tidak semua ibu hamil mengalami ngidam, karena suami pun bisa mengalami gejala-gejala kehamilan sebagimana yang pada umumnya di alami sang istri ketika hamil. Kalau di dunia medis ini di kenal dengan nama couvade syndrome. Lo gak perlu cemas, Le karena ini wajar terjadi, dan bukan hanya lo, banyak kok suami-suami di luar sana mengalami hal semacam ini bahkan gejala ngidam juga bisa terjadi pada sahabat atau orang-orang terdekat istri lo.” Jelas Amel lebih terperinci. Luna dan Leo diam mencoba mencerna apa yang sudah di jelaskan sahabatnya itu.


“Jadi, maksud lo, gue yang ngidam?” Amel menjentikan jarinya dan mengangguk.


“Tapi lo tenang aja, Le ini hanya sementara aja kok, dan semoga aja lo gak ngalamin semua gejala hamilnya,” ucap Amel di akhir dengan tawa. Luna setelah paham dengan penjelasan Amel ikut tertawa, sedangkan Leo mendesah lesu.


“Sabar ya, sayang, ngidam itu enak kok, walau sedikit menyiksa,” ledek Luna dan kembali tertawa bersama Amel.

__ADS_1


__ADS_2