
"Mami, Mi …!”
Leo terbangun dari tidur singkatnya saat mendengar Queen yang terus memanggil Maminya, padahal saat ia tengok mata gadis kecil itu masih terpejam, hanya saja tidurnya seakan tak nyaman.
“Queen, Queen ini papi, Nak,” lembut Leo menepuk-nepuk pipi anaknya agar terbangun, tapi sang putri masih juga terpejam dengan terus memanggil Maminya. Leo cukup sedih dengan ini, apa yang harus dirinya katakan pada Queen mengenai Luna?
“Mami… hiks…”
Leo menyentuh kening dan leher anaknya memastikan suhu tubuh Queen yang syukurnya sudah menurun, tidak sepanas sore tadi saat ia membawanya ke rumah sakit, tapi tetap saja kening anaknya itu basah oleh keringat dingin yang bermunculan.
“Bangun, sayang. Ini Papi Queen,”
Membuka matanya Queen menangis menatap sang ayah. “Papi, Mami mana, Pi? Queen mau Mami, Pi, hiks…”
Leo kini beralih duduk di brangkar yang di tiduri Queen, memeluk anaknya itu untuk membuat Queen sedikit tenang dan kembali tidur mengingat jam masih menunjukan pukul 02:15, masih cukup malam untuk anaknya terbangun.
“Nanti kita ketemu Mami ya, Nak, sekarang Queen tidur lagi, ini masih malam,” ucap lembut Leo sembari mengelus kepala gadis kecil itu.
“Mau Mami, Pi,” rengek Queen masih dengan tangisnya.
“Mami lagi istirahat sayang, besok kita ketemu Mami, ya, tapi sekarang kamu harus kembali tidur agar cepat sembuh dan bisa cepat ketemu Mami,”
Anggukan kecil Queen berikan, membuat senyum tersungging di bibir Leo. Kembali membaringkan anaknya, Leo masih terus mengusap-usap rambut anaknya, agar kembali tertidur, hingga tak lama, mata Queen perlahan menutup dan napasnya kembali teratur. Leo menyeka sisa air mata di pipi dan sudut mata Queen kemudian mengecup kening anaknya itu dengan penuh kasih sayang. “Cepat sembuh, Nak, Papi tidak tega melihat kamu sakit seperti ini, Papi tidak ingin kehilangan keceriaan kamu.”
Rasa kantuk yang tadi sempat menyerang kini tidak lagi, Leo terjaga hingga hari mulai beranjak pagi. Meraih ponsel yang semalam ia charger, kemudian mengetikan sesuatu untuk sahabat yang juga tetangganya, setelah itu Leo melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang benar-benar terlihat menyeramkan saat ini, dimana terdapat lingkaran hitam dan juga garis lelah di sana. Leo bahkan baru teringat bahwa sejak kemarin ia sama sekali tidak memasukan apapun kedalam perutnya, walau hanya setetes air. Rasa lapar yang sejak pulang kerja ia tahan nyatanya hilang begitu saja saat mendapati anaknya sakit.
__ADS_1
Duduk kembali di kursi samping ranjang anaknya, Leo memejamkan matanya, dan terlelap saking lelahnya Leo saat ini, tapi lagi-lagi itu tidak berlangsung lama kerena nyatanya kedatangan seseorang membuat tidurnya kembali terganggu.
“Dari kapan Queen sakit?”
Lyra dan Pandu datang memenuhi panggilannya tidak lupa membawa serta pesanan yang Leo minta yang tak lain adalah baju untuk dirinya ganti, karena sudah merasa tidak nyaman sejak kemarin masih menggunakan kemeja yang sama, di tambah dengan badan yang lengket oleh keringat, membuat Leo semakin tak nyaman.
“Kemarin,” jawab Leo singkat.
“Bukannya Luna juga ada di rumah sakit ini?” kembali Lyra bertanya, Leo menjawab dengan anggukan. “Terus, kenapa kemarin Tante Sari nelpon nyari lo?”
Leo menghela napas berat, menundukan kepalanya lesu. Lyra dan Pandu di buat penasaran, sedangkan kedua anak Lyra-Pandu yang ikut serta sudah menghampiri ranjang dimana Queen masih terbaring.
“Ceritanya panjang, Ly,”
“Gue gak nyangka lo sebego itu, Le,” Lyra menggeleng-geleng tak percaya.
“Gue refleks, Ly, gue terlalu panik saat itu.”
“Ck, mandi sana lo!” titah Lyra dengan kesal, membuat Leo mengernyitkan keningnya tak paham. Ia jelas tahu bahwa sahabatnya itu ingin sekali marah, tapi masa iya Leo harus mandi dulu untuk mendapat amukan nenek sihir itu?
“Pergi mandi Leo, sebelum gue benar-benar bunuh lo saat ini juga! Lo gak tahu kalau cewek PMS marahnya melebihi macan?” sentak Lyra kesal, dan itu sukses membuat Leo bergidik ngeri, memilih masuk kedalam kamar mandi dari pada harus kembali meladeni sahabatnya itu. Leo belum siap mati, karena bagaimana pun anak dan istrinya masih membutuhkan dirinya.
Tak lama dirinya keluar, nyatanya Queen sudah terbangun dan dokter pun baru saja keluar, selesai memeriksa keadaan putri dari Leo-Luna itu. Sudah dalam keadaan segar, Leo menghampiri anaknya, mengecup kening Queen singkat kemudian menanyakan keadaan gadis cantik itu.
“Queen pengen ketemu Mami, Pi,”
__ADS_1
“Sebentar, Papi izin dokternya dulu ya?” satu anggukan gadis kecil itu berikan, membuat Leo bernapas lega, karena setidaknya Queen tidak menjadi anak yang keras kepala.
Bersamaan dengan tuas pintu yang baru saja Leo tekan, deringan ponselnya berbunyi membuat Leo balik badan untuk mengambil benda pipih itu di atas nakas samping ranjang rawat Queen.
“Hallo Ma, ya sudah, Leo kesana sekarang.” Sambungan Leo putuskan sepihak, menoleh pada Lyra juga Pandu dan meminta kedua sahabatnya itu untuk menemani Queen sebentar.
Leo bergegas keluar setelah mendapat anggukan setuju dari kedua sahabatnya yang ia mintai untuk menjaga Queen saat mendapat telpon dari Sari. Jarak ruangan Luna dan Queen memang tidak terlalu jauh jadi, tidak butuh waktu lama untuk Leo sampai di kamar rawat istrinya yang saat ini sudah ramai oleh Wisnu, Lukman, dan Melinda.
“Berani kamu ya, bikin mantu Bunda jadi seperti ini, siapa yang ngajarin, hahh?” Melinda yang melihat anaknya masuk langsung menghampiri Leo dan mengomeli anaknya itu, menjewer telinga anaknya sampai membuat Leo meringis kesakitan.
“Bunda Abang udah dewasa loh, masa masih di jewer juga,” ringis Leo protes.
“Siapa suruh kamu jadi laki-laki yang kasar? Siapa yang ngajarin kamu jadi laki-laki yang bego? Leo nya Bunda laki-laki yang baik, laki-laki yang lembut dan memeperlakukan perempuan dengan hormat, bukan kasar seperti ini! Kenapa gak bisa kendalikan emosi? Mau kamu, Bunda pisahkan dengan Luna, hah?!"
“Jangan dong Bun, masa tega sih sama Abang? Abang ngaku salah, Bun, maaf, Abang gak bisa kontrol emosi, maafin Abang. Abang terlalu panik saat itu, maaf,” ucap Leo menunduk menyesal.
Melinda yang semula menjewer telinga anaknya kini berhambur memeluk Leo, menangis terisak seraya mengucapkan kekecewaannya pada Leo.
Pukulan-pukulan di punggung Leo, ia rasakan, tapi Leo menerima itu. Ia menyadari kesalahannya, dan kemarahan sang Bunda memang pantas dirinya dapatkan, bahkan mungkin jika semua orang marah, termasuk Sari dan Lukman yang tak lain adalah orang tua dari perempuan yang sudah dirinya sakiti.
“Bunda gak mau Nak, Bunda gak mau kamu seperti itu, Bunda gak mau kamu memiliki sikap kasar terlebih pada istrimu, wanita yang seharusnya kamu jaga dan kamu muliakan. Kamu tahu itu sama seperti kamu menyakiti Bunda, menyakiti ibumu. Bunda tidak ingin kamu berdosa, Nak.”
“Abang minta maaf, Bun, janji tidak akan mengulangi kesalahan seperti itu lagi, maafin Abang.”
Sari, Wisnu, Luna dan Lukman menyaksikan itu bersama-sama, bahkan Luna sampai ikut menangis bersama kedua orang beda usia di depannya, Luna tidak membenci suaminya, ia tidak marah pada Leo yang sudah membentaknya bahkan mendorong hingga berakhir seperti sekarang ini, karena ia tahu keadaan Leo saat itu memang wajar, orang tua mana yang tidak panik mendapati anaknya sakit apa lagi baru pertama kali di hadapkan dengan keadaan itu. Karena dirinya sendiri pun sama paniknya.
__ADS_1