
Ancaman Leo beberapa minggu lalu memang ampuh ternyata, atau memang karena hormon kehamilah Luna yang sudah membaik jadi wanita itu tidak lagi menolak berdekatan dengan suaminya apalagi ada adegan mual-mual seperti biasanya karena yang terpenting bagi Leo sekarang adalah dirinya tidak lagi di tolak oleh anaknya yang masih berada dalam perut Luna. Itu berarti penderitaannya sudah berakhir sekarang, tidak akan lagi dirinya uring-uringan frustasi karena tidak bisa menyentuh sang istri karena sekarang wanita hamil itu sudah kembali memberikan izin sepenuhnya.
Siang ini Leo sedang menunggu istrinya bersiap untuk menghadiri undangan yang di berikan sahabatnya, Dimas kemarin sore. Terlalu mendadak memang dan itu membuat Luna yang tengah mengandung sulit untuk memilih pakaian mana yang cocok untuk dirinya kenakan, sampai membuat Leo pusing sendiri karena istrinya itu selalu merengek dan melempar pakaian yang di cobanya.
Merasa tidak cocok, kekecilan, perutnya terlalu terlihat menonjol, kependekan, kepanjangan, bahannya gerah, kurang nyaman dan masih banyak lagi kata yang keluar setara dengan pakaian yang wanita itu lempar ke atas sofa, yang kini bahkan sofa tersebut sudah tidak terlihat karena tertutup semua pakaian Luna yang hampir satu lemari keluar dari persembunyiannya.
“Yang, udah dong jangan kamu turunin lagi itu pakaian dari lemari, kasihan nanti Bi Atin beresinnya,” ucap Leo menghentikan aktivitas Luna yang tengah membongkar isi lemari.
“Ya, abis aku bingung mau pakai baju yang mana, L. Gak ada yang cocok,” rengek Luna berjalan kearah Leo dan duduk di samping suaminya yang sudah rapi dengan stelan jas hitamnya.
“Kamu pakai baju mana aja cantik kok, Yang jadi gak usah lah sampai turun semua gitu dari lemari,”
“Ya, tapi kan aku gak, pede Le,”
Bosan mendengar rengekan sang istri Leo bangkit dari duduknya, berjalan menuju lemari yang ketiga pintunya terbuka lebar. Sejenak memilih-milih pakaian yang masih berada di dalamnya kemudian mengambil salah satu gaun Luna yang berwarna hitam dengan panjang selutut, gaun berbahan satin yang di padukan brukat di bagian atasnya itu terlihat cantik meskipun desainnya sederhana.
Leo kembali menghampiri istrinya, meminta Luna untuk memakai dress yang di pilihkannya.
“Udah jangan protes, lebih baik kamu pakai dulu,” ucap Leo cepat saat melihat mulut Luna yang mulai terbuka hendak melayangkan protesan.
Akhirnya Luna menurut walau dengan wajah cemberut. Selesai mengganti pakaiannya Luna berdiri di depan cermin meneliti penampilannya. Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa wanita hamil kesayangan Leo itu tidak puas. Melangkah menghampiri sang istri Leo langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang, menatap lurus pada cermin yang menampilkan mereka berdua.
“Lihat kita jadi serasi kan?” tunjuk Leo kearah cermin di depannya. “Kamu itu pakai apapun juga tetap terlihat cantik dimata aku. Apa lagi dalam keadaan hamil seperti ini, aura cantiknya semakin keluar.”
“Ta…"
__ADS_1
“Sshutt, jangan pikirkan tentang penilaian orang lain, bisa saja menurut orang lain pakaian yang kamu kenakan tidak cocok, tapi menurut suamimu cocok atau sebaliknya. Jadi, pendapat mana yang lebih penting kamu utamakan?” lembut Leo bertanya. Luna diam, tak menjawab.
“Seorang istri berdandan cantik, bukankah untuk suami?” Luna dengan cepat mengangguk dan Leo tersenyum melihat itu. “Jadi apa harus mendengarkan pendapat orang lain di saat suami kamu sendiri mengatakan bahwa kamu cantik mengenakan pakaian itu?” kali ini Luna menggelengkan kepala. “Lihat, kamu itu cantik, sayang, walau pun wajahnya belum di olesi make up. Kamu memang sudah terlahir cantik di mataku, bahkan meskipun dalam balutan daster compang camping sekali pun.”
Mendengar perkataan terakhir dari suaminya itu, Luna melayangkan pukulan kecil pada dada Leo, namun tak urung senyum malu-malu menyertainya. Melepaskan diri dari lilitan tangan besar Leo, Luna kemudian duduk di meja rias dan mulai memoles wajahnya dengan make up yang sederhana, natural tapi cukup menambah kecantikan wanita hamil itu.
Merasa penampilannya sudah sempurna, Luna berdiri, tersenyum pada suaminya yang sudah mengulurkan tangan siap menggandeng, yang Luna terima dengan senang hati.
Sekeluarnya dari gerbang rumah nyatanya mereka berpas-pasan dengan mobil Pandu yang juga baru saja keluar dari gerbang. Mereka beriringan menuju hotel tempat di laksanakannya pernikahan kedua sahabat yang hari ini akan melepas masa lajangnya. Padahal saat di pesta resepsi Ly-*** beberapa waktu lalu Dimas bilang bahwa pernikahannya akan berlangsung dua bulan lagi, tapi nyatanya ini lebih awal dari ucapan sahabatnya tempo hari.
Sesampainya di hotel tempat diadakannya resepsi pernikahan Dimas-Amel, kedua perempuan hamil itu terbelalak kagum dengan dekorasi yang begitu memanjakan mata, begitu mewah dan elegant membuat siapa saja yang datang akan berdecak kagum.
“Pesta anak orang kaya beda banget ya, Ra?” Lyra mengangguk menyetujui.
Mengandeng tangan pasangan masing-masing, Leo dan Pandu ikut mengantri untuk menyalami mempelai. Lyra sedari tadi sibuk mengedarkan tatapannya ke sekeliling ruangan luas yang di penuhi dengan ribuan orang, mencari keberadaan kakak dan kakak iparnya yang katanya sampai lebih awal tadi, tapi sejuah mata memandang Lyra tidak juga menemukan sosok itu.
Sampai di depan kedua mempelai, Leo lebih dulu menyalami Dimas, melakukan pelukan ala pria dan tidak lupa mengucapkan selamat dan doa. “Gak nyangka gue kalau kita sama-sama nikahin sahabat sendiri,” ucap Leo yang kemudian diangguki oleh Dimas, lalu tertawa bersama.
“Selamat ya, Mel akhirnya lo nikah juga. Gue gak nyangka kalau lo akan berakhir dengan Dimas. Kalian hutang cerita pokoknya! Awas aja kalau selesai bulan madu kalian gak kerumah kita buat cerita, gak akan mau lagi gue anggap kalian berdua sahabat!” ancam Luna.
“Tenang nanti kita main-main kok ke rumah kalian, asal jangan lupa aja jamuannya. Haha,” ucap Dimas yang diakhiri dengan tawa lepas.
Saat giliran Pandu bersalaman dengan Amel dan hendak melakukan cipika-cipiki seperti yang Leo lakukan sebelumnya dengan cepat Lyra menjewer telinga suaminya itu agar menjauh dari pipi Amel.
“Masih berani lo, cium-cium mantan?”
__ADS_1
“Aw, aww... Yang, sakit telinga aku, Yang,” ringis Pandu. Dimas, Leo dan Luna tertawa begitu juga dengan Amel, sama sekali ia tidak merasa tersinggung, marah atau apa pun karena menurutnya itu wajar seorang istri lakukan.
“Gak akan cium, Yang cuma tempelin pipi doang,” ucap Pandu membela diri, karena pada kenyataannya memang itu yang akan dirinya lakukan. Bukan kerena masih memiliki perasaan tapi sebagai seorang sahabat dekat.
“Apapun itu bentuknya, gak ada, ya sentuh-sentuhan sama mantan, salaman aja udah!” galak Lyra berkata yang akhirnya Pandu turuti. Amel hanya terkekeh geli di tempatnya.
“Maafin gue ya, Ra dulu sempat merebut kebahagian lo. Merebut suami lo dengan tidak tahu dirinya. Gue benar-benar minta maaf pernah menghianati lo,” Amel berucap diiringi dengan tetesan air mata. “Mungkin kata maaf memang tidak akan mengobati rasa sakit lo dulu, tapi gue harap lo bisa maafin gue.”
“Lo tersinggung dengan ucapan gue barusan?” tanya Lyra menaikan sebelah alisnya.
Amel dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Sama sekali gue gak tersinggung, tapi memang selama ini gue ngerasa bahwa lo belum sepenuhnya maafin gue. Gue gak tenang dan selalu merasa bersalah selama ini, Ra sama lo,” Amel menunduk malu.
Menyentuh pundak sahabatnya itu, Lyra memeluk Amel dengan erat menepuk-nepuk pundak sahabat yang pernah mengecewakannya seraya berucap, “gue udah maafin lo sejak awal, Mel walau mungkin belum sepenuhnya ihklas, hehe, tapi sekarang gue ihkalas kok.
“Makasih,” ucap Amel dengan tulus.
Lyra melepaskan pelukannya, menatap Amel dengan senyum, tapi hanya bertahan beberapa detik karena setelahnya Lyra melayangkan tatapan tajam dan memberikan delikan pada sahabatnya itu. “ Tapi setelah ini awas aja lo berani deketin laki gue! Gue rebut juga si Dimas dari lo, lumayan dia makin ganteng sekarang,” ancam Lyra yang di akhiri dengan kedipan genit pada laki-laki tampan dalam balutan jas berwarna biru langit itu.
“Masih aja lo genit!” delik Pandu kemudian menarik istrinya kedalam pelukan, semua yang ada di sana tertawa.
Amel bahagia saat ini, bukan karena pernikahannya saja, tapi juga karena teman-temannya. Sekarang ia lega karena persahabatannya kembali seperti semula. Tidak secanggung beberapa tahun belakangan yang jelas Amel sadari bahwa Lyra belum bisa sepenuhnya menerima permintaan maafnya.
“Dasar kalian berempat itu tamu tidak tahu diri, antrian panjang oy, orang-orang mau pada salaman sama pengantin, malah ngerumpi disitu, gak tahu apa gue pegel berdiri terus?!”
Mendengar suara itu yang jelas mereka kenal, langsung keenamnya menghentikan tawa dan menoleh kebelakang antrian sana, dilihatnya Levin juga Devi berada di tengah-tengah antrian para tamu undangan kembali keenam orang itu tertawa, bahkan Leo dan Lyra menjulurkan lidahnya mengejek pada Levin dan Devi.
__ADS_1