
Luna begitu cantik malam ini dalalm balutan gaun selutut berwarna baby pink dengan pita kecil yang melingkar, memperlihatkan tonjolan perut buncitnya, juga Leo yang sudah tampan dalam balutan kemeja dengan warna senada dengan gaun yang di kenakan Luna kemudian di padukan dengan kemeja hitam dan dasi hitam membuat keduanya terlihat begitu serasi, dan jangan lupakan, Queen yang memakai gaun yang sama dengan sang Mami, terlihat cantik dan manis.
Malam ini mereka akan menghadiri acara reuni SMA yang diadakan di hotel milik ayah Leo, tepatnya di ballroom hotel itu sendiri. Reuni ini memang sebelumnya sudah lebih dulu di rencanakan, bahkan dari jauh-jauh hari. Tapi kesibukan semuanya-lah yang selalu menghambat dan baru terealisasikan malam ini.
Pandu dan keluarga kecilnya sudah lebih dulu berangkat, karena mengingat keluarga itu yang menjadi ketua panitia dalam acara malam ini. Tidak lupa bukan bahwa pasangan Lyra-Pandu dulu menjabat sebagai Ketua dan wakil OSIS, jadi di saat Reuni ini pun kedua orang itu lah yang di tunjuk.
Tidak hanya mereka berdua memang, karena masih ada beberapa orang lainnya juga yang menjadi penanggung jawab acara. Leo memang sebelumnya di tunjuk, tapi jelas, Leo bukanlah orang yang mau di repotkan dengan semua itu jadi, sudah pasti Leo menolak dan memilih untuk menjadi tamu.
Memarkirkan mobil terlebih dulu, Leo kemudian membukakan pintu untuk anak dan istrinya, menggandeng Luna juga menuntun sang putri tercinta untuk masuk ke dalam hotel, menaiki lift yang akan mengantar mereka menuju tempat acara.
Ballroom yang sudah di dekor sedemikian rupa indah itu membuat Leo dan Luna takjub, bahkan Queen pun ikut mengamati dan berdecak kagum. Ruangan luas dengan beberapa meja bundar berukuran besar juga kursi-kursi yang mengililingi masih terlihat kosong karena memang belum banyak orang yang datang mengingat jam masih menunjukan pukul 07.15 malam, sedangkan acara akan berlangsung pukul delapan nanti.
“Selamat malam rakyak-rakyatku,” sapa Leo begitu menghampiri segerombolan orang yang berada di dekat panggung depan sana. Semua yang ada di sana menoleh dan membalas sapaan Leo.
“Gila lo, Le makin ganteng aja di lihat-lihat,” kata salah satu perempuan yang ada di dalam gerombolan itu.
“Ya jelas, Leo mah dari dulu selalu ganteng, makanya dulu lo naksir!” balas Leo, kemudian semua yang ada di sana tertawa, sedangkan Luna memutar bola matanya malas mendengar kepercayaan diri suaminya itu.
“Papi, Queen mau ketemu Bang Rapa sama Ratu,” Queen merengek seraya menggoyang-goyangkan tangan Leo untuk mendapatkan perhatian ayahnya.
Leo menunduk melihat anaknya, begitu juga kelima orang yang ada di sana, termasuk perempuan yang tadi mengatakan Leo ganteng.
“Oh iya, Papi belum lihat mereka juga, k emana ya,” celingukan Leo mencari keberadaan kedua bocah turunan Pandu-Lyra itu, tapi sayang keberadaan mereka berempat tidak juga Leo temukan.
“Si Pandu sama Lyra, lo pada lihat gak?” tanya Leo pada kelima orang itu.
__ADS_1
“Tadi ada disini, sempat ngobrol-ngobrol juga, tapi gak tahu ke mana lagi sekarang,” jawab salah satu dari mereka.
“Tunggu sebentar dulu ya, Queen, nanti Abang sama Ratu pasti juga ke sini,” ucap Leo pada anaknya. Queen akhirnya mengangguk, tapi matanya tidak berhenti menatap sekeliling.
“Gak nyangka gue, lo udah punya anak, Le, secantik itu pula! Gila, pengen tahu gue istri lo secantik apa,” kata salah satu dari mereka yang jelas saja membuat Luna membelalakan matanya. Keberadaannya apa tidak terlihat oleh orang itu? Pikir Luna. Ck, yang benar saja.
“Lo gak lihat ini perempuan di samping gue?” Leo menunjuk pada Luna, diikuti kelima orang itu.
“Buta semua kali teman-teman kamu itu, Le,” Luna berkata malas.
“Sorry-sorry, gak sadar gue,” kata seorang laki-laki di samping Luna, merasa tak enak dan juga malu, terlihat dari ekpresinya yang terlihat salah tingkah. Hanya dengusan pelan dan delikan malas yang Luna berikan.
“Kok gue rasanya gak asing ya, sama bini lo, Le?” tanya perempuan tadi.
“Ya jelas, ini Luna, yang dulu suka bareng-bareng Lyra, Amel, Devi. Anggota OSIS juga,” Leo sedikit mengingatkan.
"Iya lah, cantik, secara guenya aja ganteng," kata Leo menegapkan bahunya, kemudian merapikan jas yang di kenakannya. Semua yang ada di sana mendelik malas. Memang Leo dan kepercayaan dirinya tidak bisa di pisahkan.
“Bukannya lo juga temenan sama mereka, Le?” mengagguk, Leo membenarkan.
“Jir, bisa gitu. Si Pandu nikah sama Lyra, lo sama Luna …”
“Dimas aja nikah sama Amel,” ucap Leo, dan itu sukses membuat kelima orang disana semakin terkejut.
“Gila-gila, ini benar-benar gila! Gak nyangka gue. Ini sih sama aja dengan lingkungan sahabat yang kunikahi.” Salah satu dari mereka berkata dengan heboh, menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.
__ADS_1
“Nikah sama sahabat sendiri itu menyenangkan asal lo tahu, Ben.” Kata Leo melayangkan tinjuan pada tangan laki-laki yang berdiri di sebelahnya.
Obrolan semakin berlanjut dan menyenangkan, tapi itu untuk mereka, karena Luna yang tidak terlalu mengenal kelima orang itu justru merasa bosan begitu juga dengan Queen.
“Queen kita duduk aja disana yuk, Mami pegal,” ucap Luna pada anak pertamanya itu. Queen mengangguk dan melepaskan tangannya dari sang papi, melangkah menuju meja bundar yang ada tak jauh dari panggung. Leo lebih dulu pamit pada teman-temannya kemudian menyusul Luna dan Queen.
Kursi yang semula kosong, satu per satu terisi oleh para tamu yang baru saja berdatangan, banyak dari mereka yang membawa pasangan serta anak istri sebagaimana Leo. Tidak sedikit pula yang datang sendiri dan itu menjadi bahan olok-olokan bagi mereka yang sudah berpasangan.
Suasana di ruangan luas ini semakin riuh, saling menyapa dan melepas rindu dengan kawan yang sudah lama tak berjumpa, tapi tidak sedikit juga yang saling pamer, menyombongkan diri.
Bertukar kabar adalah salah satu kegiatan wajib dalam acara reuni seperti ini dan reuni ini pun selain sebagai ajang temu kangen dengan sahabat, tapi juga di jadikan ajang reuni bersama mantan dan gebetan, seperti halnya Leo yang memang dulu di kenal playboy, namun tidak satu pun memiliki mantan. Leo memanglah playboy aneh.
Mereka-mereka yang dulu dekat dan mengenal Leo tidak menyangka bahwa pria itu akan menikah dengan Luna. Banyak pula yang tidak menyangka bahwa Dimas akan berakhir dengan Amel yang menjadi primadona sekolah dulu, tapi kenyataan itu mau tidak mau harus mereka percayai karena bukti berada di depan mata. Berbeda dengan Pandu dan Lyra, semua org yang mengenal ternyata sudah mengira akan hal itu, karena sejak sekolah dulu Lyra memang kerap kali mengakui Pandu sebagai miliknya, walau Pandu tak banyak menanggapi.
“Cek… cek…! Selamat malam semua."
“Malam."
“Masih pada kenal sama gue?” tanya Lyra yang menjadi MC pada malam hari ini. “Iya lah, pasti ingat. Mana mungkin juga lo pada lupa sama gue, secara bidadari Kebaperan ini,” lanjut Lyra yang kemudian mendapat sorakandari semua tamu yang hadir pada malam hari ini.
Lyra melanjutkan ocehannya yang sesekali mengundang tawa semua orang. Memang tidak ada yang berubah dari perempuan ceriwis itu, walau sudah memiliki dua anak.
Pembukaan juga sambutan-sambutan dari beberapa orang termasuk ketua panitia acara ini sudah selesai. Dan kali ini acara di lanjutkan dengan hiburan, dimana puncak acara berada, dan semakin terasa kehangatan juga nostalgianya, dimana kegilaan yang dulu sempat mereka lakukan kini kembali mereka kenang, membuat acara semakin meriah.
Tanpa di duga-duga oleh siapapun termasuk Luna yang sejak tadi duduk di samping laki-laki itu, Leo berjalan menaiki panggung, mengambil mic dan mengetes suaranya sebelum akhirnya mengedarkan pandangan kesekeliling dimana teman-taman sekolahnya dulu hadir di tempat ini, meskipun tidak semua.
__ADS_1
Dulu mereka berkumpul pada saat upacara atau makan di kantin, dan entah sudah beberapa tahun ini terlewat mereka saling berpisah satu sama lain hingga akhirnya di pertemukan kembali pada malam hari ini.