
Satu jam kemudian Bi Atin datang bersama Pandu juga Lyra, dan kedua orang tua Leo menyusul setelahnya. Melinda langsung menghampiri anaknya yang terduduk lesu sambil menunduk, lalu memeluk laki-laki kesayangannya itu dan menepuk pelan punggung Leo yang bergetar.
Melinda cukup tahu bagaimana anaknya, laki-laki itu tidak pernah bisa menyimpan kesedihannya jika sudah berada di pelukan Melinda.
“Bunda, Abang takut.” Lirih, Leo berucap dalam pelukan bunda-nya itu.
“Jangan takut Bang, kita harus yakin bahwa istri dan anak kamu akan baik-baik saja.” Melinda berusaha menenangkan.
Sejak tadi Leo memang mengharapkan itu, tapi entah kenapa hatinya tetap saja tidak merasa tenang. Ketakutan itu seolah nyata dirinya rasakan.
“Astaga Le, apa yang terjadi sama Luna?” Amel yang baru saja datang langsung bertanya, gurat kekhawatiran jelas terlihat, dan Leo tahu bukan hanya dirinya yg khawatir, melainkan juga sahabat-sahabatnya dan mungkin orangtuanya juga.
Leo menggeleng lemah. “Gue juga gak tahu pastinya, Mel, saat itu gue lagi tidur dan tiba-tiba terdengar suara jeritan Luna, dan waktu gue lihat, dia udah terduduk di lantai kamar mandi sambil nangis dan darah yang keluar melewati pahanya,” Leo sedikit menjelaskan apa yang dirinya ketahui, karena untuk kronologinya Leo sendiri pun tidak tahu.
Amel paham dan kini perempuan cantik itu sudah menangis dalam pelukan sang suami. Tidak jauh berbeda dengan Lyra juga Devi yang baru saja datang, ketiga perempuan itu menangis berjamaah di pelukan suami masing-masing.
Semua orang duduk di kursi tunggu depan ruang operasi, menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga pintu ruangan tersebut terbuka dan keluarlah seorang suster dengan membawa seorang bayi mungil yang sudah bersih dan dalam keadaan terbungkus selimut hangat.
“Selamat Bapak, bayinya perempuan. Dia sehat dan tidak kurang satu apa pun,” ucap suster tersebut dengan senyum ramahnya.
__ADS_1
Ucap syukur semuanya lantunkan. Leo berjalan lebih dekat dengan tatapan yang tertuju pada bayi mungil yang matanya terpejam itu. Seolah paham, suster ber-name tag Riska itu memberikan bayi dalam gendongannya kepada laki-laki yang tebaknya sebagai ayah dari si bayi.
Leo meneteskan air matanya penuh haru, begitu juga dengan Sari dan Melinda yang kini sudah berdiri di sisi kanan kiri Leo, di ikuti Wisnu dan Lukman yang tersenyum haru melihat cucu pertama mereka.
Sahabat Leo pun tak ingin ketinggalan, keenamnya berdiri mengelilingi Leo yang masih memangku buah hatinya untuk pertama kali itu.
“Calon mantu kita ini, Pan." Ucap Lyra tiba-tiba, membuat semua orang sekilas menoleh, tapi tidak memberi respon apa pun. Pandu mengangguk sambil tersenyum haru, kemudian tangannya bergerak menyentuh perut buncit Lyra.
“Keadaan istri saya bagaimana, sus?” Leo yang sadar bahwa belum juga ada kabar tentang istrinya langsung bertanya. Senyum yang semula suster itu berikan perlahan memudar.
“Maaf Bapak, Ibu sedang dalam penanganan dokter karena kekurangan darah, tapi Bapak dan semuanya tidak perlu khawatir, karena stok darah yang di butuhkan pasien banyak jadi, insya allah Ibu Luna akan terselamatkan. Mohon di bantu dengan doa untuk dukungannya.” Ujarnya kembali mengukir senyum.
Bagai tertimpa reruntuhan dada Leo benar-benar sesak saat ini, meskipun suster tersebut mengatakan bahwa Luna akan baik-baik saja, tapi kabar ini tetap saja membuat Leo sedih dan merasa bersalah.
“Maaf Pak, boleh saya ambil bayinya untuk di tempatkan di ruangan khusus bayi? Nanti Bapak dan Ibu bisa menemuinya disana.” Kata suster dengan senyum ramah seraya maju beberapa langkah, mendekat ke arah Leo.
Dengan hati-hati Leo mengecup kecil pipi anak pertamanya itu yang masih dalam keadaan menangis, kemudian berbisik, “Queennya Papi jangan nangis, ya, sayang, doakan Mami untuk tetap bertahan dan dapat berkumpul bersama kita semua.” Setelahnya Leo menyerahkan sang bayi pada suster itu lagi.
Keenam sahabat Leo mengikuti suster menuju ruangan khusus bayi, sedangkan Leo dan kedua orang tua juga mertuanya masih duduk di kursi tunggu ruang operasi, menunggu dokter keluar dan menyampaikan keadaan Luna saat ini. Berharap bahwa kabar baik yang akan mereka terima.
__ADS_1
“Bunda, apa Luna akan baik-baik saja?” tanya Leo dengan lirih dalam pelukan sang bunda.
“Luna perempuan yang kuat sayang, kamu harus yakin bahwa istrimu akan baik-baik saja. Dia akan bertahan untukmu dan bayi kalian.” Ujar Melinda mengelus lembut punggung sang putra untuk menenangkan.
“Papa tahu kamu cemas, Le, tapi jangan perlihatkan kelemahan kamu ini. Luna butuh dukungan kamu, dukungan kita semua. Kita berdoa ya, serahkan semuanya sama Tuhan.” Lukman menepuk pelan bahu Leo, memberikan sedikit kekuatan agar menantunya itu lebih tegar.
Cukup lama menunggu akhirnya pintu ruang operasi terbuka dan dokter yang menengani Luna keluar bersama beberapa orang suster. Leo langsung menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan istrinya.
“Tadi istri Bapak memang sempat mengalami kritis karena saking banyaknya darah yang keluar, tapi sekarang keadaannya sudah lebih baik, hanya saja belum sadarkan diri.” Dokter tersebut menjelaskan. Leo dan yang lainnya setidaknya bisa bernapas lega saat ini.
“Sebentar lagi Ibu Luna akan di pindahkan ke ruang perawatan, dan Ibu, Bapak bisa menjenguknya di sana,” ucap ramah dokter itu. Sari juga yang lainnya mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
“Kalau begitu saya pamit Pak, Bu, permisi.” Lagi, semua yang ada di sana mengangguk dan memepersilahkan dokter itu pergi.
“Terima kasih ya, Bang, sudah memberikan kami seorang cucu yang cantik. Dan selamat karena sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang ayah,” ucap Melinda tersenyum lembut kemudian memeluk anak satu-satunya itu.
“Jadi ayah yang baik, Nak, didiklah anakmu dengan kasih sayang dan kelembutan. Papa percaya kamu mampu.”
“Jadilah pelindung pertama untuk anak kamu, Bang, karena anak perempuan pasti akan mengandalkan ayahnya. Jadi, sebisa mungkin untuk kamu selalu ada untuk putrimu.”
__ADS_1
Leo menganggukan kepala menerima nasihat-nasihat dari orang tua dan mertuanya itu. Dalam hati ia bertekad untuk menjadi orang tua yang baik untuk putrinya, menjadi suami yang berguna untuk istrinya dan menjadi kepala keluarga yang dapat melindungi keluarganya.
“Cepat sadar sayang, aku rindu kamu, dan anak kita membutuhkan ibu sepertimu yang akan menjaga, merawat dan menyayanginya. Kita berkumpul bersama menyambut kebahagian yang baru saja Tuhan berikan.” Leo berharap bahwa bisikan hatinya ini dapat Luna dengar di alam bawah sadarnya dan membuat wanita itu bangun secepatnya.