Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
48. Welcome To The World Queen


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu, tapi Luna belum juga sadarkan diri padahal dokter bilang keadaan wanita itu sudah berangsur membaik.


“Kamu betah banget sih sayang tidurnya, gak kangen apa sama aku? Bangun dong, Yang, nih anak kita nangis terus pengen di gendong Maminya.” Leo terus saja berbicara pada Luna yang tidak juga membuka matanya, padahal bayi mereka sejak tadi menangis tidak mau berhenti meskipun sudah di beri susu formula yang khusus untuk bayi baru lahir.


“Anak kita sejak kemarin sudah di izinin pulang, Yang, tapi masa iya kamu masih aja tidur di sini, gak kangen kamar kita di rumah apa? Lebih nyaman, Yang dan pasti bisa sambil aku peluk. Disini sempit nanti badan kamu pegal-pegal kalau kelamaan tidur disini,”


Nyatanya celotehan-celotehen Leo tidak sama sekali mendapat respon dari Luna, sedangkan Sari dan Lukman geleng-geleng kepala seraya berdoa dalam hati supaya menantunya itu tidak mendadak gila gara-gara selalu bicara ngaco seorang diri.


Kamar rawat Luna memang sedang sepi saat ini, hanya ada, Sari, Lukman Leo dan bayinya juga Luna yang belum sadarkan diri, sedangkan orang tua Leo lebih dulu pulang untuk istirahat, begitu juga dengan Lyra dan kedua orang tuanya beserta Rapa. Pandu, Dimas dan Levin tentu saja ketiga laki-laki yang sudah beristri itu pergi bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga masing-masing, Amel pun sudah kembali bertugas karena meskipun anak pemilik rumah sakit tetap saja dia harus propesional apa lagi masih dalam masa koasnya. Sedangkan Devi perempuan yang akhir-akhir ini banyak makan itu juga ikut pulang karena harus menemani Lyra yang tengah hamil besar.


Leo bersyukur juga sih karena dengan tidak adanya orang-orang itu membuat dirinya aman dari bullyan apa lagi dua hari belakangan ini Leo memang gemar sekali bicara sendiri. Bahkan Levin sampai berkata bahwa dirinya seperti orang depresi. Padahal Leo merasa tidak segila itu juga.


“Queen, Papi mau keluar sebentar ya, cari udara segar. Papi takut benar-benar gila kalau seperti ini terus. Bilang sama Mami kamu Papi mau cari istri baru kalau Mami gak mau bangun juga.”


Leo berdiri dari duduknya kemudian memberikan kecupan di kening kedua perempuan tercintanya. Setelah izin kepada Sari dan Lukman, Leo pergi keluar, niatnya ingin mencari udara segar, menghilangkan kesedihan juga rasa lelahnya. Leo duduk di kursi yang tersedia di taman yang cukup jauh dari kamar rawat Luna di temani dengan segelas kopi yang sebelumnya ia beli di kantin.


Kantung mata juga lingkaran hitam di sekitar mata Leo membuktikan bahwa laki-laki itu tidak tertidur beberapa hari ini, raut lelah pun begitu jelas terlihat di wajah tampan itu.


“Aku bahagia kamu sudah melahirkan darah dangingku, Lun, tapi akan semakin lengkap kebahagiaanku jika kamu bangun dan berkumpul bersama kami. Aku tidak tahu apa yang membuat kamu begitu betah tertidur tiga hari ini, apa kamu kecewa karena aku tidak dengan baik menjagamu sampai kamu terjatuh dan harus melahirkan dengan cara seperti ini?”


Menghembuskan napasnya panjang dan berat Leo kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan mendongak menatap langit yang kelabu dan sepertinya hari ini akan turun hujan. “Langit aja sampai tahu gimana sedihnya aku tanpa kamu, Lun.”

__ADS_1


Leo meneguk kopinya yang hanya tersisa sedikit lalu berdiri dan melemparkan gelas pelastik itu sampai masuk kedalam tempat sampah yang berada tidak jauh darinya dan melangkahkan kaki kembali menuju kamar rawat Luna.


Wajah laki-laki itu masih saja lesu, seolah tidak ada semangat yang mengiringi setiap langkahnya sampai di depan pintu ruangan Luna, lebih dulu dirinya menarik napas dan kembali menghembuskannya, mengatur wajahya agar tidak terlihat semengenaskan tadi dan baru lah ia menekan tuas pintu tersebut.


Baru saja pintu itu terbuka matanya langsung bertatapan dengan mata perempuan yang dirinya rindukan, mata yang beberapa hari ini tertutup kini sudah terbuka. Leo menggisik –gisik matanya menggunakan jari tangannya, untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah, membuktikan bahwa yang di lihatnya bukan sekedar halusinasi.


“Kamu udah bangun Lun?” Leo bertanya seraya berjalan mendekat menuju brangkar yang Luna duduki saat ini. Satu cubitan Leo berikan di pipi Luna yang berisi.


“Aww, sakit Leo!”


“Astaga ternyata kamu benar-benar sudah bangun!” seru Leo bahagia.


“Luna kapan sadarnya, Ma?” tanya Leo pada ibu mertuanya yang duduk di kursi samping ranjang rawat Luna.


“Kok, gak ngasih tahu aku?”


“Ponsel kamu ketinggalan di meja, Le.”


Leo meraba sakunya kemudian menoleh kearah meja dan benar saja bahwa ponselnya ada di sana. “Kamu kok bangunnya saat aku gak ada sih? Padahal dari kemarin aku selalu nungguin di samping kamu, ngajak kamu ngobrol, dan selalu nunggu kamu sadar karena aku ingin saat kamu terbangun wajah aku yang lebih dulu kamu lihat dan membuat kamu terharu dengan kesetian yang aku berikan dalam menjaga kamu.”


“Awalnya aku benar-benar mau terharu loh, Le, tapi mendengar kalimat terakhir kamu itu kok jadi buat aku jijik ya?” ucap Luna dengan ekpresi pura-pura ingin muntah. Leo mendelik kesal, tapi tak urung, ia memeluk istrinya.

__ADS_1


“Makasih sayang, terima kasih karena sudah melahirkan putri kita dengan selamat, memepertaruhkan nyawamu sendiri untuk melahirkan malaikat kecil yang akan menjadi pelengkap pernikahan kita. Terima kasih Luna, terima kasih karena kamu mampu bertahan hingga bisa kembali di tengah-tengah kita. Terima kasih untuk kebahagian yang sudah kamu berikan ini, kini aku merasa lengkap dengan adanya kamu dan putri kita, Cleona Queenisa.”


Luna benar-benar terharu mendengar setiap kata yang di ucapkan suaminya, air matanya menetes tak tertahankan. Luna benar-benar mencintai suaminya, mencintai ayah dari anaknya dan ia berjanji untuk selalu mencintai laki-laki itu dalam keadaan apa pun dan sampai kapan pun.


Sari dan Lukman pun tidak kalah terharunya, sebagai orang tua mereka merasa beruntung dan bahagia memiliki menantu seperti Leo, meskipun laki-laki itu petakilan dan lebih sering bercanda, tapi ketulusannya dalam mencintai Luna tidak sebecanda itu.


“Jadi nama anak kalian Cleona Queenisa?” Sari bertanya.


Leo mengangguk bangga. “Keluarga wajib manggil dia Queen.”


“Welcome to the world, Queen!”


Leo, Luna, Sari dan Lukman langsung menoleh ke arah suara riuh itu dan mendapati Devi, Lyra, Pandu, Levin juga Amel dan Dimas disana, ke enam orang sahabat Leo-Luna itu berjalan mendekat dan mengelilingi brangkar Luna.


“Queen, sudah jelas artinya ratu. Nah kalau Cleona apa?” Devi bertanya setelah sebelumnya mencium pipi Luna seperti apa yang di lakukan yang lainnya.


“Cleona, Cinta Leo Luna. Haha.”


Lemparan anggur yang di lakukan Lyra berhasil membungkam tawa Leo. Membuat laki-laki itu melotot tajam, melayangkan protesan pada sahabat sejak kecilnya itu, tapi tetap saja Leo mengunyah buah berwana ungu itu.


“Cleona itu artinya Rupawan. Dengan harapan semoga putri gue nanti menjadi sosok Ratu yang Rupawan, bukan hanya rupa, tapi juga dengan sifat dan sikapnya.” Jelas Leo singkat. Semua yang ada di sana mengangguk paham begitu juga Luna yang duduk dengan memangku anaknya.

__ADS_1


Senyum Luna tidak pernah luntur dari bibirnya dan tatapan matanya terus tertuju pada wajah cantik anak yang dilahirkannya beberapa hari lalu. Malaikat kecil yang akan menyempurnakan kebahagiaannya, buah hati yang melengkapi pernikahannya dengan Leo.


“Queen, jadilah pelengkap kebahagian orang tuamu.” Bisik hati Lukman.


__ADS_2