Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
43. Drama Hari Libur


__ADS_3

Kamar lantai atas yang bersebelahan dengan kamar Leo-Luna mulai di renovasi, di buat senyaman dan seaman mungkin untuk anaknya nanti dan ini semua Leo yang menginginkan agar semua menggunakan perabotan yang baru. Manusia berjiwa hemat yang mendekati pelit itu banyak maunya, tapi ketika di pinta pembayaran selalu melakukan protes padahal dia sendiri yang menginginkan ini dan itu.


“Mel, biaya persalinan Luna nanti jangan lupa kasih diskon besar-besaran, ya buat gue? Uang gue udah terkuras banyak untuk renovasi soalnya,” ucap Leo yang tidak bosannya meminta diskonan pada anak si pemilik rumah sakit yang akan menjadi tempat Luna melahirkan.


“Ngakunya sahabat, tapi minta diskonan. Ck, dasar teman tidak tahu diri. Harusnya, ya, Le ke usaha sahabat itu lo dukung dengan cara bayar lebih, bukan malah minta kurang,” cibir Dimas.


“Itu namanya harga teman, Dim. Dimana teman kesusahan, ya di bantu,” balas Leo.


“Heh, Le, dalam bisnis itu gak ada namanya harga teman. Asal lo tahu, Le uang itu gak ada sodaranya,” ucap Dimas tak mau kalah. Leo mendengus, tak lagi bisa menjawab, dan ke kalahan Leo itu lah yang mengundang tawa semua orang yang ada di rumah Lyra-Pandu ini.


“Rapa jangan ikut-ikutan ngetawain Papi juga dong,” ucap Leo pada bocah dalam pangkuannya yang juga ikut menertawakan, membuat Leo semakin cemberut.


“Dev, kok lo gemukan ya?” celetuk Lyra membuat semua yang semula tertawa beralih menoleh pada Devi. Perempuan cantik itu mendengus tak suka.


“Gimana gak gemuk orang dia kalau makan rakusnya ngalahin buto ijo,”ucap Levin mencubit gemas pipi Devi yang kini lebih berisi.


“Tapi bagus sih Dev lo gemuk, itu artinya nikah sama Bang Levin membuat hidup lo makmur!” ujar Luna.


“Hidup gue emang makmur banget Lun, si Levin mah tiap pulang kerja bawain segala makanan, gimana gue gak gemuk? Tapi gue bersyukur sih, seenggaknya laki gue gak punya jiwa hemat berlebihan,” balas Devi sekaligus menyindir.

__ADS_1


“Aish, kenapa selalu gue yang kena, padahal gue juga gak sesusah itu juga ngeluarin uang,” desah Leo.


“Sabar, ya, sayang, aku tahu kok kamu itu gak susah ngeluarin uang, kamu hanya ingin menggunakannya untuk hal-hal yang di rasa perlu,” ucap Luna dengan tersenyum, menatap wajah lesu Leo yang di buat-buat itu dengan Lembut. “Sekarang aku lapar, pengen makan. Berhubung gak ada yang masak jadi, kamu mau kan ngeluarin uang untuk pesan makanan sekarang?”


Tangan Leo terulur, mengusap lembut rambut panjang istrinya seraya menatap tak kalah lembutnya. “Pujian kamu itu selalu manis tahu gak, Yang, tapi hanya di awal, sama seperti janji doi, manis ketika di ucapkan namun pahit pada akhirnya.” Semua yang ada di sana tertawa dengan dengusan kesal Leo.


“Biasanya drama Lyra yang gue lihat. Sekarang malah kalian berdua,” ucap Amel di sisa-sisa tawanya. “Tahu gini, dulu saat kuliah gue ngambil jurusan belakang layar deh, biar jadi sutradara dan liput drama lo pada.”


“Tapi sorry, gue gak minat jadi artis, karena gue gak gila sensasi,” kata Lyra mengibas-ngibaskan tangannya.


“Gue mah gak harus jadi artis segala, karena tanpa itu pun gue udah terkenal,” ucap Leo dengan bangga.


Satu bantal sofa melayang, tapi dengan cepat Pandu tangkis. Seolah tahu bahwa Ayahnya di jahati, dengan cepat Rapa mengayunkan tangannya pada wajah Leo dan itu cukup keras sampai bunyi ‘plak’ terdengar dan membuat Loe terkejut begitu juga yang lainnya, tapi beberapa detik kemudian semuanya tertawa, sedangkan Leo cemberut dan pura-pura menangis.


Rapa yang merasa bersalah pada Papi gadungannya itu mengecup telapak tangan Leo yang menutupi wajahnya, seraya berkata, “Pi-Pih angan angis. Chutt!”


“Papi nangis pokoknya, marah sama Rapa,” ucap Leo pura-pura merajuk.


“Geli gue lihat lo ngerajuk gitu, Le pengen banget gue tendang rasanya,” Dimas bergidik jijik, Leo tidak memerdulikan ucapan sahabatnya itu dan terus berpura-pura menangis membuat Rapa juga ikut menangis, bahkan lebih kencang.

__ADS_1


“Loh- loh kok Rapa malah ikut nangis juga, Papi kan gak jahatin kamu. Udah ya, sayang, shut jangan nangis lagi ya, Papi minta maaf oke,” Leo berusaha menenangkan bocah itu.


Lyra juga Pandu sebagai orang tua hendak mengambil anaknya itu dari pangkuan Leo tapi Luna dengan cepat mencegah. “Biarin. Pengen tahu gue, laki gue yang selalu ngaku ayah idaman itu bisa apa enggak bujuk Rapa berhenti nangis,” ucap Luna kemudian mengalihkan tatapannya pada Leo yang kini sudah berdiri memangku Rapa dan membawa bocah itu menuju dapur.


Tangis Rapa masih terdengar, membuat Lyra dan Pandu merasa cemas dan kasihan, tapi saat hendak bangkit dari duduknya untuk menyusul, suara tangisan Rapa lebih dulu berhenti membuat ke dua orang tua bocah itu menghela napas lega.


Tak lama kemudian Leo dan Rapa kembali bersamaan dengan Luna yang selesai mengotak-ngatik ponsel suaminya yang tergeletak di sofa begitu saja.


“Bujuk Rapa yang nangis aja aku udah bisa, Yang, cocok ‘kan jadi ayah idaman buat anak kita nanti,” ucap Leo dengan bangga, dan kembali duduk di samping istrinya.


Luna mengangguk. “Cocok dong, memangnya kalau bukan kamu, siapa lagi yang jadi ayahnya anak aku nanti?” kata Luna sembari bergelanyut manja di tangan suaminya.


Satu kecupan Leo layangkan pada kening Luna. “Gak akan ada siapa pun selain aku yang jadi Ayah Queennya kita.”


Luna mengangguk dengan diiringi senyum manisnya kemudian memberikan kecupan singkat pada pipi Leo. “Dompet kamu di bawa kan, Yang?” tanya Luna masih dengan senyuman yang belum luntur. Leo tanpa menaruh curiga apa pun mengangguk seraya merongoh saku celananya, memperlihatkan benda persegi yang di maksud sang istri dan kembali menyimpan benda itu di tempat semula.


Setengah jam berlalu, di isi dengan obrolan–obrolan seru lainnya, menggoda Rapa bahkan main kejar-kejaran bersama bocah 1,5 tahun itu sampai suara bel terdengar, tanpa ada yang menyuruh, Leo berjalan menuju depan dengan Rapa yang lebih dulu berlari, Leo bahkan sampai tertawa, merasa lucu karena bocah itu berlari seperti seorang bebek.


Di ruang tengah yang di isi oleh Luna, Levin, Dimas, Pandu, Lyra, Devi juga Amel fokus menonton tayangan di layar datar yang menempel pada tembok. Tidak ada suara lain selain suara dari televisi. Dan entah siapa yang memulai karena kini bahkan semua orang di tempat itu mulai menghitung, dan tepat pada hitungan ke tig…

__ADS_1


“LUNA, LO JADI ISTRI PINTAR BANGET BERKATA MANIS SAMPAI DOMPET GUE KEBOBOLAN GINI! 500 RIBU! GILA, INI BISA BUAT MAKAN KITA SEBULAN, TAPI LO ABISIN SEHARI.”


__ADS_2