
Satu minggu berlalu dan masih juga tidak ada perubahan dari kondisi Dimas. Laki-laki itu masih betah dalam tidurnya seolah tengah bermimpi indah yang membuat pria tampan itu enggan untuk bangun.
Setiap hari Lyra, Pandu, Luna, Devi, Leo dan Levin datang bergantian untuk menjenguk sahabat satunya itu, dan selama satu minggu ini pula air mata Amel menetes tak ada habisnya. Sudah berulang kali setiap mereka menjenguk, selalu membujuk wanita itu untuk pulang, tapi Amel tetap kekeh menolak. Perempuan itu selalu mengatakan bahwa dirinya tidak ingin meninggalkan sang suami. Beruntung dia tidak selalu menolak jika siapa saja memintanya untuk makan, meskipun hanya di makan sedikit, tapi setidaknya ada asupan kedalam tubuh Amel.
Keluarga Amel sempat datang menjenguk, kemarin, tapi hanya sebentar, mengecek kondisi anak dan menantunya. Setelah itu kembali pergi karena urusan mereka yang tidak bisa di tinggal lebih lama. Hanya sebuah pelukan singkat yang kedua orang tua itu berikan pada sang putri yang sedang berada dalam kesedihan mendalam membuat semua yang berada di sana menyaksikan saat itu meringis miris begitu pun kedua orang tua Dimas yang sedikit banyak tahu bagaimana besannya itu.
Siang ini yang menunggu hanya Luna, Leo dan Amel, sedangkan yang lain belum datang termasuk orang tua Dimas. Damar, selalu datang saat malam hari untuk menginap menemani sang kakak ipar.
Duduk di kursi tunggu bertiga tanpa banyak percakapan, lebih tepatnya Amel yang selalu memberikan jawaban singkat dan seadanya membuat Leo dan Luna yang ingin membuat wanita itu keluar dari zona sedihnya harus gagal dan memilih terdiam pula karena tidak enak juga jika Luna dan Leo hanya mengobrol berdua apa lagi bercanda di depan perempuan yang tengah sedih dan galau.
“Mel, Apa tidak sebaiknya Dimas di pindahin ke rumah sakit lo? Selain karena jaraknya lebih dekat dari rumah kita masing-masing, disana juga mungkin lo akan lebih nyaman. Lo punya ruangan sendiri, setidaknya untuk istirahat dan lagi, kalau disini lo mesti bayar mahal. Buat apa coba punya Rumah Sakit kalau lo masih nebeng rumah sakit orang? Manfaatin Mel, selain gak usah bayar, bukannya Rumah Sakit lo juga punya dokter handal? Semua Alat lengkap. Apa lagi coba ?”
Apa yang di ucapkan Leo dengan panjang lebar itu sepertinya lebih tepat di sebut dengan hasutan dari pada usulan membuat Luna mendengus apa lagi saat soal biaya ikut laki-laki itu bahas. Memang jiwa hemat Leo sepertinya sudah dalam level tertinggi. Menyayangkan uang yang akan Amel dan keluarga Dimas keluarkan untuk biaya Rumah Sakit ini, padahal semua mungkin tahu hanya untuk ini tidak akan membuat keluarga kaya itu jatuh miskin.
“Nanti gue bicarakan ini sama mertua gue,” jawab Amel yang sepertinya tengah mempertimbangkan usulan Leo.
“Kan, lumayan uangnya bisa lo tabung buat masa depan anak lo nanti, atau kalau mau lo sumbangin gue gak akan keberatan untuk menerima,” ucap Leo cengengesan membuat Luna menepuk jidatnya sendiri dengan tingkah memalukan suaminya ini.
“Ini bukan soal biaya, Le …”
“Iya-iya gue percaya. Buat orkay kayak kalian mah uang segitu mana ada artinya,” ucap Leo memotong ucapan Amel.
Mendengus kesal Amel memilih untuk tidak menghiraukan sahabat satunya itu sampai tidak lama kemudian mertua Amel datang membawa serta Meldi yang langsung berhambur memeluk sang Mommy yang sedikit membuat wanita muda itu menyunggingkan senyum tipis. Luna, Leo dan Ibunya Dimas bersyukur dengan ini. Sedikit demi sedikit Amel bisa merespon orang-orang di sekitarnya, tidak seperti beberapa hari kebelakang yang hanya diam dengan tatapan kosong. Meskipun kerap kali masih sering menangis, tapi mereka paham bahwa itu memang wajar.
“Makan siang dulu yuk, Mel,” ajak Luna begitu dirasa perutnya sudah meronta minta di isi.
“Jangan nolak! Ini anak gue pengen makan bareng Auntynya.” Cepat Luna berkata begitu dilihatnya Amel hendak melayangkan penolakan.
__ADS_1
“Ta…”
Memberikan wajah memohon Luna berhasil membuat Amel mengangguk dan ikut ke kantin bersamanya juga Leo, sedangkan Ibu Dimas dan Meldi memilih menunggu karena keduanya sudah makan lebih dulu sebelum datang.
“Lo mau pesan apa, Mel?” Luna bertanya begitu ketiganya duduk di meja kantin.
“Kopi aja,” jawabnya tanpa semangat.
“Ck, akan Mel, bukan malah minum kopi. Lo kan dokter, masa iya gak tahu bahwa meminum kafein terlalu banyak itu gak baik? Sejak tadi pagi lo cuma minum kopi, Mel!”
“Gue gak lapar,”
“Udah biar gue pesenin sama kayak punya Luna aja, ya?” kata Leo yang kemudian pergi setelah mendapat anggukan dari Luna.
“Mel!” tegur Luna begitu di dapatinya Amel yang malah melamun. “Jangan terlalu di pikirin, Mel itu hanya akan membuat lo sakit. Lebih baik lo doakan suami lo agar cepat sadar dan bisa berkumpul bersama kita kembali,”
Air mata Amel sudah menggenang di pelupuk matanya. Hanya satu kedipan saja, ia yakin bahwa air itu akan jatuh dan negalir. Amel tidak ingin menangis sebenarnya, tapi mengingat kondisi sang suami membuatnya tidak bisa menahan itu.
“Bukannya selama bersama Dimas lo bahagia, Mel?”
Amel mengangguk cepat. “Iya, dan sekarang sumber bahagia gue justru malah terbaring tidak sadarkan diri. Dan itu karena gue," kini Amel mulai terisak.
Luna yang semula duduk bersebrangan dengan perempuan itu pindah kesamping sahabat cantiknya, memeluk dan menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya, iba dengan apa yang di alami wanita itu.
“Mau gue pinjemin bahu laki gue gak nih? Lebih nyaman,”
Suara di belakang mereka membuat keduanya menoleh dan ternyata mendapati Lyra, Pandu, Levin dan Devi.
__ADS_1
“Gimana? Mau pinjam bahu laki gue?” ulang Lyra seraya menaikan sebelah alisnya sembari bersedekap dada.
“Gak, makasih! Lebih nyaman bahu Dimas dari pada laki lo!”
“Bukannya dulu lo juga nyaman di pelukan laki gue?” sindirnya masih dengan nada tenang. Pandu yang menjadi objek perdebatan kedua wanita itu sudah merasa tak nyaman dan ingin sekali segera membawa istrinya pergi agar tidak ada pertengkaran. Ini benar-benar tidak pernah dirinya sangka akan terjadi. Aalahkan ia dengan masa lalu nya yang brengsek.
“Kenapa lo berkoarnya sekarang, sedangkan dulu diam aja? Kenapa nyinyirnya sekarang bukan saat dimana gue masih sama laki lo?” kesal Amel yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Lyra yang malah membahas masa lalu di saat seperti ini. Ia benar-benar tidak siap.
“Yang,” Pandu menarik tangan Lyra yang justru dengan cepat perempuan itu tepis. Levin yang tidak tahu apa permasalahan yang ada merasa bingung sendiri.
“Diam deh, ***.” Tenang Lyra berkata pada suaminya itu, masih diam menatap Amel yang wajahnya kini sudah memerah kesal.
“Gue pengen bahasnya sekarang, gimana dong? Dulu gue memilih bersikap elegan makanya gak ada adegan cakar-cakar sama lo apa lagi acara minggat,” ucap Lyra tenang.
“Ck, itu mah bukan elegan, tapi lo nya yang bego!” dengus Devi memutar bola matanya malas.
“Loh-loh ini ada apa kok mukanya pada tegang?” tanya Leo begitu datang ke meja dimana istri dan sahabatnya duduk tadi. Namun tidak ada satu pun yang merespon.
“Yang bego mah dia, cemburu kok malah minggat, ck, pada akhirnya kan jadi mewek, nyesel deh sekarang.” Balas Lyra seraya menunjuk Amel dengan dagunya.
“Berhenti, Ra, lo gak lihat sikon banget sih! Kalau mau marah ya harusnya dari dulu, bukan sekarang. Bukannya lo bilang udah maafin Amel? Kenapa sekarang malah jadi gini? Harusnya lo tahu sahabat lo lagi ketimpa musibah, dia lagi di rundung kesedihan, bukannya ngehibur malah…!”
“Ck, ini gue lagi ngehibur! buktinya Amel gak nangis kayak tadi lagi,” ucap Lyra cengengesan, dan itu membuat semua yang ada di sana mendengus seraya menoyor Lyra termasuk Pandu.
“Cara menghibur lo anti mainstream banget Ra!” kata Luna yang langsung melahap nasi goreng yang di pesan suaminya itu.
“Jadi yang barusan itu kamu hanya buat drama, Yang?” tanya Pandu menatap lembut sang istri, di wajahnya terlihat sekali kelegaan karena tidak ada pertengkaran yang terjadi diantara kedua perempuan itu. Yang satu masa lalu yang sudah di lupakannya dan yang satu ibu dari anaknya, istrinya dan akan tetap menjadi masa depan yang di perjuangkannya.
__ADS_1
Pandu tidak tahu bagaimana jadinya jika pertengkaran itu terjadi barusan. Bukan karena membela Amel, tapi Pandu hanya tidak ingin kembali membahas masalah yang di sesalinya hingga saat ini. Ia sudah terlalu bahagia sekarang bersama Lyra dan anak-anaknya, dan untuk Amel biar lah menjadi kepingan masa lalu yang dulu menjadi perantara Tuhan untuk memberinya pelajaran hidup agar dia lebih dewasa dan tidak menyia-nyiakan apa yang sudah dirinya miliki. Yaitu istri sebaik Lyra.
“Gak juga sih, aku sekalian ngasih sindiran aja sebenarnya.”