Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
81. Istri Galak


__ADS_3

Jika biasanya mereka lebih sering berkumpul di kediaman Luna atau Lyra, kali ini semua kumpul di rumah Devi-Levin selain luas juga alasan pertamanya karena si kembar Devina-Devin. Dan karena kedua bayi baru lahir itu jugalah Queen terus bertanya kapan sang adik keluar dari perut maminya, gadis kecil itu sudah tidak sabar menanti untuk menyambut sang adik dan sebagai ganti karena adiknya belum lahir, Queen setiap hari minta datang ke rumah tantenya.


“Mami dede bayinya bisa di ajak main ayunan gak?” Queen bertanya begitu Dania mengajak Ratu, Rapa serta Queen ke taman belakang.


“Sekarang belum bisa Queen, dede nya masih terlalu kecil,” jawab Luna dengan lembut.


“Ya udah deh kalau gitu, Queen disini aja sama dede bayi. Kalian mainnya bertiga dulu ya, Queen mau nemenin dede bayi aja.” Kata Queen menoleh pada ketiga bocah lainnya yang sejak tadi menunggu.


“Yah, kok, gak ikutan, terus nanti Abang sama siapa?” lesu Rapa berucap.


“Kan ada Dania sama Ratu!”


“Tapi Abang maunya sama Queen,”


“Ish, Abang jangan manja deh!” sebal Queen mendelik malas pada Rapa yang menampilkan wajah memelasnya.


Levin yang sejak tadi menyaksikan bergidik. “Geli gue dengar dua bocah itu ngobrol. Berasa nonton sinetron!”


“Si Rapa juga masih bocah bisa aja ngomongnya. Emang benar buah gak jatuh jauh dari pohonnya, turunan Si Lyra asli ini mah.” Tambah Dimas menggelengkan kepala.


“Mereka lucu tahu, bikin gemas penonton. Jadi pengen gue cepetin pernikahan mereka!” Leo menyahuti.


Pletak. Satu jitakan mendarat di kening Leo. “Sableng emang lo jadi orang tua!” seru Devi mendelik malas.


Setelah bujuk rayu yang di berikan Rapa juga Ratu dan Dania, akhirnya Queen mengalah dan ikut bersama ketiganya ketaman belakang, di tambah karena bayi kembar yang ternyata tidur, membuat Queen tidak lagi punya alasan untuk menolak. Semua orang tua hanya menggelengkan kepala menyaksikan drama antara keempat bocah itu. Terlihat menggelikan, tapi juga lucu.


“Gak kebayang gue gimana besarnya mereka nanti,” ucap Luna menatap kepergian anaknya.

__ADS_1


“Si Rapa mah udah jelas bakal jadi playboy, udah kelihatan dari sekarang soalnya.” Dimas mengangguk menyetujui pernyataan Levin.


“Jadi playboy sebelum nikah gak apa-apa asal jangan sampai nyakitin anak gue aja. Jangan kayak bapaknya!” delik Leo pada Pandu.


“Kenapa gue selalu yang kena sih!” keluh Pandu.


“Kita dulu emang salah, Pan, akui aja,” ucap Amel yang ikut-ikutan lesu dengan Pandu. Toh memang mereka salah, tidak bisa di elakan juga sindiran yang selalu di berikan Lyra atau Leo karena itu memang kenyataannya.


“Coba kalau gue tahunya sejak dulu, beuh abis lo, Pan sama gue!” sahut Levin melayangkan tinjuannya ke udara


“Bukannya kemarin saat lo tahu juga gue udah kena pukul, Bang?” dengus Pandu.


“Itu mah belum seberapa, kalau dari dulu kan bisa gue bawa pergi si Lily…,”


“Ck, enak aja lo! Gak ada yang boleh pisahin gue sama Lyra.” Potong Pandu cepat dan menarik Lyra ke dalam pelukannya. Levin memutar bola matanya malas begitu juga dengan yang lain. Posesifnya Pandu sedang dalam mode on.


Awalnya Pandu melawan karena tidak terima di hajar tiba-tiba seperti itu, tapi setelah Levin mengutarakan kemarahannya barulah Pandu diam dan menerima pukulan sang kakak ipar. Beruntung Lyra berhasil menghentikan kakaknya itu, karena jika tidak, sudah di pastikan bahwa Pandu terbaring lemah di rumah sakit hingga saat ini atau lebih parahnya lagi sudah di timbun tanah.


“Bosan gue dimana kalian selalu membahas masalah itu. Bukannya udah pada maaf-maafan, kenapa masih aja gak berhenti di bahasa setiap kali ada kesempatan? Heran gue.” Luna menggelengkan kepalanya. Duduk bersandar pada kepala sofa sambil mengusap perut buncitnya.


“Karena membahas masa lalu itu menyenangkan, Lun,” ucap Lyra terkekeh pelan begitu mendapati Pandu yang mendelik marah.


“Bagi gue lebih menyenangkan membahas masa depan, dimana hanya ada gue, Leo dan anak-anak,” ucap Luna tersenyum, dan menyusup memeluk Leo dari samping. Leo yang mendengar ucapan istrinya itu pun gemas dan langsung membalas pelukan istrinya, juga melayangkan kecupan pada puncak kepala Luna dengan sayang.


“Cuma mereka berdua emang yang selalu mesra-mesraan gak tahu tempat!” cibir Devi bangkit dari duduknya, melangkah menuju dapur.


“Sirik aja, Lo mentang-mentang belum bisa Bang Levin sentuh!” teriak Leo agar terdengar oleh wanita berwajah jutek itu.

__ADS_1


Devi mengabaikan sahabat satunya itu dan melanjutkan langkahnya menuju dapur, mengecek isi lemari es dan mengambil beberapa buah, juga cemilan dan minuman untuk ia hidangkan kepada sahabatnya, tidak lupa Devi pun meminta ART-nya memasak untuk makan siang mereka nanti, karena Devi sudah cukup hapal, mereka tidak akan pulang sebelum hari beranjak malam.


Kembali ke ruang tengah dengan membawa nampan berisi cemilan juga buah, Devi meletakan itu terlebih dulu di atas meja, sebelum kembali duduk di samping sang suami yang kini para lelaki itu tengah bermain game di ponsel masing-masing.


“Bawain minuman dulu di dapur,” ucap Devi mengambil paksa ponsel di tangan suaminya.


“Ish, Yang, padahal itu bentar lagi aku menang loh? Tanggung, Yang!” rengek Levin berusaha mengambil kembali ponselnya.


“Ambil dulu itu minumannya udah aku siapin di meja makan. Sekalian kasih buat anak-anak udah aku siapin juga,”


“Tap…”


“Levin!”


“Bentar aja, Yang, selesai itu janji!” ucap Levin menautkan jadi tengah dan telunjuknya, dengan wajah yang masih memelas. “Lagian kalau mereka haus, ya biar pada ambil sendiri aja, repot banget mesti di ambilin,” lanjut nya membuat Pandu, Dimas, Leo dan yang lainnya menoleh pada Levin.


“Gue lempar nih ponselnya!” ancam Devi tajam, membuat Levin akhirnya mengalah dan bangkit dari duduknya menuruti perintah sang ibu Ratu. Devi memang seperti itu jika Levin sulit di suruh. Mengancam!


“Macan betina, dasar! Mimpi apa gue sampai bisa punya bini galak gini.” Gumam Levin pelan seraya menberi delikan pada istinya itu. “Apa-apa ngancem, dikit-dikit ngancem …”


“Ngedumel lo, heh?”


“Gak, Yang, cuma lagi latihan beatbox.” Jawab Levin yang tidak berani menoleh pada istrinya.


Levin yang selalu mengaku dirinya tampan itu sering kali berpikir, kenapa dirinya memiliki istri segalak Devi? Padahal mantan-mantannya dulu selalu lemah lembut, penurut, manis, anggun tidak ada yang pernah berani menyuruh Levin apa lagi sampai berani mengancam.


Berbanding kebalik dengan Devi memang, tapi meskipun begitu, Levin entah kenapa selalu nurut dan selalu takluk pada istrinya. Cinta memang membuat siapa saja bisa berubah, termasuk laki-laki sekelas Levin yang dulu mengaku menjadi playboy kelas kakap.

__ADS_1


__ADS_2