Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
82. Cumi Oh Cumi


__ADS_3

Berhubung besok adalah hari minggu, semua memutuskan untuk menginap di kediaman Levin-Devi malam ini. Itu pun atas usul Levin yang mengajak mereka untuk kumpul dan ber-barbeque karena merasa sudah lama tidak mereka lakukan semenjak memiliki anak masing-masing.


Leo sore tadi sudah pulang untuk mengambil keperluan anaknya juga sang istri sekaligus mencari asinan buah rambutan yang entah kenapa begitu Leo inginkan. Mungkin karena masa ngidamnya yang belum berakhir.


Tapi jika di ingat kembali memang sudah cukup lama Leo tidak menginginkan sesuatu selain mual yang masih kerap kali terasa meski tidak separah sejak di awal-awal.


Malam menjelang, Pandu dan Dimas baru saja kembali dari supermarket, membeli bahan-bahan untuk Barbeque juga cemilan serta minuman untuk teman ngobrol mereka, sedangkan Leo dan Levin menyiapkan panggangan juga menggelar tikar di depan kolam renang, dan Luna yang dalam keadaan hamil tidak di izinkan untuk ikut membantu karena perempuan itu memang tidak boleh sampai kelelahan yang akan beresiko mempengaruhi kehamilannya. Tidak ada pilihan lain selain menurut, akhirnya Luna hanya berdiam diri di dalam rumah bersama Devi juga bayi kembar sahabatnya itu, sedangkan anak-anak yang lain tetap di izinkan berada di luar bersama para Ayah juga Lyra dan Amel.


“Yakin lo, Dev mau ngurus si kembar, sendiri?” tanya Luna. Mereka berada di kamar Devi menemani Devina dan Devin yang baru saja bangun dari tidurnya.


“Berdua lah sama Levin, masa iya gue urus sendiri!”


“Ck, maksud gue tanpa bantuan pengasuh. Bang Levin kan gak selalu ada di rumah. Laki lo kerja, dan kalau lo ngurus si kembar sendiri apa gak kerepotan?” Luna menjelaskan maksudnya, walau sedikit kesal karena sahabatnya itu tidak pernah bisa langsung paham, atau karena memang pura-pura tak paham.


“Gue kan ibu yang tangguh, cuma ngurus dua bocah doang mah, gampang!”


“Najis sombong!” delik Luna mencebikan bibirnya.


Devi tertawa, puas dengan kekesalan sahabatnya satu itu. Memang membuat sahabat-sahabatnya kesal menjadi kesenangan sendiri bagi Devi apa lagi jika sudah Levin yang dirinya buat kesal, bahagia banget Devi. Apa lagi di saat suaminya itu sudah menampilkan wajah cemberut dan memelasnya, Devi paling suka dan gemas pada pria tua itu.


“Ada Mama yang bantu gue nanti, Lun. Lagian kalau pakai pengasuh makin nambah pengeluaran gue,” ucap Devi yang tengah mengganti popok bayi laki-lakinya.


“Lo mau ngikutin jiwa hemat laki gue?”


“Ya, kalau bisa menghemat kenapa enggak, coba? Lagian anak-anak gue kan nanti akan semakin tumbuh, biayanya juga akan semakin bertambah jadi, ya, hitung-hitung sekalian nabung lah buat masa depan mereka.” Jawab Devi ringan.

__ADS_1


“Gaji Bang Levin sebulan juga gak akan habis kali, Dev buat kebutuhan kalian. Sisanya bisa di tabung untuk masa depan sekolah anak-anak.”


“Ya, memang, tapi lo juga harus tahu Lun bahwa dunia itu berputar, tidak selamanya kita berada di atas, ya, meskipun amit-amit itu terjadi pada kita, tapi Tuhan yang punya segalanya ini bisa kapan aja mengambil apa yang sedang kita nikmati ini. Ingat, Lun semua ini hanya titipan!”


Dibalik judes, cuek dan galaknya Devi ternyata inilah daya tarik seorang Devi yang membuat Levin bertekuk lutut. Devi bisa bijak di saat-saat tertentu dan dia pun bisa gila di saat-saat tertentu pula. Devi bisa menyesuaikan dengan keadaan yang sedang dirinya hadapi dan Luna begitu bangga pada sahabatnya itu.


Dulu Devi tidak banyak bercerita mengenai kehidupannya begitu pula dengan Amel. Lyra pun yang bar-bar, petakilan dan selalu ceplas-ceplos itu tidak semua wanita itu ceritakan tentang kehidupan maupun perasaannya. Selalu ada yang hanya di simpan dalam hati begitu pun dengan Luna sendiri. Sahabat memang tempatnya berbagi, tapi tidak semua hal harus di bagi dan di ceritakan.


Dalam persahabatan tidak harus menuntut untuk tidak ada rahasia di antara mereka masing-masing karena dengan berlalunya waktu pun mereka semua akan tahu dengan sendirinya. Seperti kisah Amel dan kesedihannya, dengan kemarahan dan ketegaran Lyra yang di pendamnya dan dengan sifat bijaknya Devi yang kadang tak di sadari.


Kini Luna tahu tentang bagaimana saja karakter dari sahabatnya. Masalah yang mereka hadapi dan kesedihan yang mereka rasakan, sedikit demi sedikit itu Luna ketahui dengan berjalannya waktu tanpa harus dirinya paksa untuk menceritakan. Sahabat sesungguhnya adalah mereka yang mau memahami bukan mereka yang justru memaksa.


“Udah mateng nih, Yang, cuminya!” teriak Leo dari arah dapur membuat Luna yang tengah melamun sedikit terkejut dan langsung menghampiri sang suami.


“Sambal kecapnya mana?” Luna menaikan sebelah alisnya begitu melihat hanya cumi bakar madunya saja yang tersaji di meja makan.


Tak lama Devi datang menyusul dan ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Luna, menatap berbinar pada hidangan di depannya. “Vin, bakarin cumi buat aku, ya!” teriak Devi pada suaminya yang ada di halaman belakang.


“Ada juga daging sama sosis, Yang!” Levin mejawab dengan berteriak juga, seperti mereka tengah berada di hutan.


“Jangan teriak-teriak, Vin, si kembar lagi tidur!”


“Itu kamu juga teriak, Yang,” balas Levin yang masih menyahuti dengan teriakan.


“Ya, makanya lo ke sini biar gue gak teriak!”

__ADS_1


Luna dan Leo yang berada dekat dengan perempuan itu sampai menutup kedua kupingnya saking sakitnya gendang telinga mereka. “Kalau pasangan orang utan, ya gini, dekat aja main teriak-teriak untung di rumahnya sendiri, kalau di rumah gue udah gue usir lo berdua!”


"Dasar pasangan suami istri gila!" gumam Leo sangat pelan, karena bisa berabe jika sampai di dengar wanita galak itu


Tak lama Levin datang dengan satu piring berisi daging juga sosis yang baru saja selesai di panggang dan meletakan piring tersebut di hadapan Devi.


“Aku mintanya cumi, loh, bukan daging sama sosis, Vin,” ucap Devi begitu melihat apa yang di bawa suaminya.


“Cuminya abis, Yang, cuma tinggal sisa ini,”


“Lo jadi laki gimana sih sampe gak inget bini, heran gue! Gak mau pokoknya gue pengen cumi, titik!” kekeh Devi membuang muka dari suaminya itu.


Di saat kesal panggilan pasangan ini memang selalu berubah dan mungkin jika orang lain yang melihat pasti akan menyangka bahwa kedua orang ini sedang bermusuhan.


“Lo, mah kebiasaan mintanya yang gak ada mulu, masa iya gue harus pergi ke pasar dulu buat beli tuh cumi! Yang ada aja kenapa sih, Dev!” greget Levin yang ingin sekali melempar istrinya.


Luna dan Leo hanya menyaksikan, menonton perdebatan pasangan unik itu sambil menikmati cumi panggang dengan cocolan sambal kecap. Kadang Luna bingung sendiri dengan maunya Devi, di depan matanya makanan yang dia inginkan ada, tapi selalu saja menginginkan yang lain dalam menu yang sama. Contohnya cumi panggang ini, yang di depan mata seolah ingin menerkam, tapi tetap saja memaksa sang suami untuk membeli kembali. Entah memang karena benar-benar menginginkan makanan itu atau karena hanya ingin mengerjai suaminya, karena sejak dulu pun perempuan itu memang sulit untuk di tebak.


“Ya, gue maunya cumi, Vin gak mau yang lain! Kalau emang gak ada lagi ya, lo beli dong! Supermarket masih buka jam segini.”


“Noh cumi ada di depan lo, kenapa gak lo makan?”


“Gue pengen yang baru, Levin!”


“Aish! Cumi oh cumi kenapa lo nyusahin gue!” geram Levin menahan kekesalannya pada sang istri.

__ADS_1


“Sabar Bang, sabar,” ejek Leo yang kemudian tertawa bersama Luna, menertawakan Levin dengan wajah frustasi dan pasrahnya.


__ADS_2