Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
52. Rencana Para Ayah


__ADS_3

Pukul lima sore Leo pulang dengan wajah lesu yang langsung tergantikan oleh binar bahagia begitu melihat anaknya cantiknya, hendak memberikan kecupan pada Queen dengan cepat Luna menahan dan menyambunyikan bayinya itu dengan tubuhnya.


“Kamu itu kotor Leo habis dari luar, jangan dulu cium-cium Queen kalau belum mandi!”


“Dikit aja masa gak boleh sih, Yang, aku kangen anak aku loh,”


“Mandi dulu, setelah itu baru boleh pegang Queen!” putus Luna tidak bisa di bantah. Leo mengangguk pasrah, tapi sasaran ciumannya beralih pada pipi Luna dengan kilat dan berlari menuju kamarnya sebelum mendapat amukan dari istrinya itu.


“Laki gue kemana dulu coba, masa Si Lele pulang laki gue kagak?” Lyra berucap seraya menoleh kearah dimana pintu utama terletak.


Satu jitakan Luna berikan pada sahabatnya. “Kantor laki kita beda kalau-kalau lo lupa.”


“Tapi kan peraturan sama jam kerjanya gak beda jauh,”


“Tapi kesibukannya belum tentu sama,” ucap Devi yang di angguki setuju oleh Luna. Memang hanya Devi sepertinya yang tidak terlalu mempersalahkan segala hal dan tidak pernah ambil pusing.


Tak lama orang yang di bicarakan ketiga perempuan itu datang. Pandu duduk di samping istrinya setelah mendaratkan kecupan pada kening Lyra. Tak lama Levin menyusul wajahnya tidak kalah lelah dari Pandu dan melakukan hal yang sama, mengecup kening istrinya juga menyapa bayi dalam perut istri masing-masing.


“Kamu bukannya diam di rumah malah keluyuran kesini,” gerutu Levin yang sudah membaringkan tubuhnya dengan paha Devi yang menjadi bantalan.


“Di rumah gak ada teman, kan kamu tahu sendiri kalau Mama sama Papa lagi liburan masa iya aku sendirian di rumah? Ih, gak asik!” Levin mengangguk juga pada akhirnya kemudian melayangkan kecupan pada purut Devi yang sedikit buncit.

__ADS_1


Tak lama Leo keluar dari kamarnya, sudah segar dengan rambut yang masih setengah basah langsung melompat dan duduk di sofa sebelh istrinya, mengambil alih bayi cantik itu untuk ia gendong dan melayangkan ciuman-ciuman kecil pada seluruh wajah Queen.


“Leo jangan di cium-cium terus nanti kulitnya merah-merah, tidurnya juga dia gak akan nyaman!” protes Luna pada suaminya yang tidak juga menghentikan aksinya menciumi putri cantiknya.


“Teori dari mana itu?” Leo jelas tidak percaya, di mana ada coba di ciumi membuat tidur bayi tidak nyaman dan kulitnya akan merah-merah? Kalau di ciumnya sama nyamuk sih baru Leo percaya.


"Kamu mah di bilangin gak percayaan banget sih!"


"Ya, lagian aneh-aneh aja masa ada anak di cium terus bisa bikin bayi gak nyenyak tidur, kamu aja harus aku cium sama peluk dulu baru bisa nyenyak tidurnya."


Luna mendengus kesal, berdebat dengan Leo hanya akan membuatnya lelah karena laki-laki itu tidak pernah ingin mengalah.


Malas menanggapi suaminya, Luna melangkah menuju dapur berniat untuk mambantu Bu Atin menyiapkan untuk makan malam meraka, tapi saat tiba di dapur ternyata semua hidangan sudah siap, dan itu berhasil membuat rasa lapar Luna naik ke permukaan dan perutnya langsung meronta minta di isi.


“Udah Non, Bibi aja udah makan duluan barusan sambil masak, hehe.” Jawabnya cengengesan.


“Bagus itu, jadi boleh dong Luna titip baby Queen selama Luna sama yang lainnya makan?”


Acungan jempol Bi Atin berikan sebagai jawaban dan Luna kemudian meminta Bi Atin untuk mengambil Rapa sekaligus memberi tahu yang lainnya untuk makan. Tak lama dari kepergian Bi Atin kelima orang itu sudah datang menyambangi ruang makan dimana banyak makanan terhidang di atas meja, membuat Pandu, Levin dan Leo yang jelas-jelas baru pulang kerja itu langsung duduk di kursi masing-masing di ikuti para istri.


Luna sebagai nyonya rumah lebih dulu mengalaskan nasi untuk Leo tidak lua beserta lauk yang di sukai laki-laki itu di susul oleh yang lainnya dan kini mereka menikmati makan malam dengan diawali doa yang di pimpin oleh Leo sendiri.

__ADS_1


“Di rumah kita harus mulai bangun taman untuk main anak-anak deh, Le? ngorbanin taman belakang gak apa-apa kayaknya,” usul Pandu membuaka pembicaraan di tengah aktivitas makan mereka.


Lebih dulu Leo menelan makanan di dalam mulutnya yang sudah ia kunyah sebelumnya, satu anggukan dia berikan menyetujui usulan sahabatnya itu. “Setuju gue, lagian main di rumah setidaknya lebih aman dari pada di taman komplek.”


“Di rumah gue jungkat jungkit, jaring laba-laba sama besi panjat, nah di rumah lo, Le Ayunan, mangkok putar sama perosotan. Dan Di rumah lo nanti, Bang, taman bermainnya harus lengkap karena rumah lo jauh dari kita.”


“Nanti gue pindahin dufan kerumah gue bila perlu,” jawab Levin dengan sombongnya.


Luna, Lyra dan Devi hanya saling menoleh tanpa mengatakan apa-apa, tidak juga memberikan komentar atau masukan pada ketiga pria yang tengah merencanakan pembuatan taman untuk anak-anak mereka karena ingin memberikan kepercayaan sepenuhnya pada para suami yang menginginkan anak-ananya merasa betah berada di sekitaran rumah. Biarkan ini menjadi rencana para Ayah, sedangkan para Ibu hanya menunggu hasilnya.


“Tapi jangan lupain tingkat keamanannya juga, ***, Le,”


“Itu mah udah jelas Bang, nanti deh gue cari orang yang paham untuk mengurus ini.” Leo dan Levin hanya mengangguk menyetujui.


“Semua ini lo yang modalin, ***?”


“Nah-nah, jiwa hemat bin Missqueen Si Lele bentar lagi kambuh nih,” ucap Lyra yang sudah was-was.


“Gue cuma nanya, Ly!”


“Gue mah udah hapal di luar kepala Le, nanti ujung-ujungnya lo minta gratisan. Gak ada ya, pokoknya dari sekarang gue peringatin, untuk pembangunan itu modal masing-masing!”

__ADS_1


“Si Lyra mah kalau udah nyangkut duit, nyambernya paling cepat! Emang gak ada bedanya lo sama Si Leo.” Devi menggeleng-gelengkan kepala.


“Bukan gitu, Dev, tapi kan bentar lagi gue lahiran, biayanya nambah karena anaknya juga nambah. Lagi pula kan kita harus nabung buat masa depan Rapa dan calon anak gue ini, apa lagi calon besan udah minta hajat mewah. Bisa jatuh miskin gue yang ada.” Lyra berkata seraya mendelik tajam pada Leo.


__ADS_2