
Leo benar-benar terkejut dan marah begitu malihat kondisi anaknya yang tidak dalam keadaan baik-baik saja, orang tua mana yang tidak akan panik dengan dan ketakutan mendapati anaknya seperti itu apa lagi kondisi Leo yang saat itu benar-benar dalam keadaan lelah.
Selesai menyerahkan anaknya kepada dokter yang bertugas di UGD dan mendapati kenyataan bahwa anaknya terserang tipes. Untuk pertama kalinya mendengar anaknya sakit seperti itu membuat Leo jelas terluka sampai tak sadar telah melukai hati istrinya.
Queen sudah di pindahkan keruang perawatan, dan gadis kecil itu kini sudah tertidur nyenyak akibat obat yang sudah di berikan oleh dokter. Leo bisa bernapas lega saat ini. Kebetulan Dimas dan Amel berada di sini menemani, membuat Leo memutuskan untuk pulang lebih dulu, membersihkan diri sekaligus menemui istrinya.
“Kalau gitu gue pulang dulu, titip anak gue bentar ya,” pinta Leo kepada kedua sahabatnya yang mereka angguki dengan tulus, karena kasihan juga melihat wajah kusut dan lelah Leo saat ini.
Di gelapnya malam, Leo mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata, dalam hati di sepanjang perjalanan ini Leo terus memikirkan bagaimana cara dia meminta maaf pada Luna yang tadi sempat dirinya bentak-bentak, Leo tahu istrinya itu pasti begitu terluka hatinya saat ini menerima kemarahannya yang ia akui begitu berlebihan.
Sesampainya di rumah Leo langsung masuk dan mendapati rumah begitu sepi. Namun pintu tidak sama sekali terkunci dan lampu pun hanya beberapa yang nyala. Bi Nani memang sedang tidak berada di rumah karena wanita baya itu tengah mengambil cutinya untuk menjenguk keluarganya di kampung sana.
Leo lebih dulu ke dapur untuk meneguk segelas air, dan ia sedih melihat makanan yang sore tadi istrinya siapkan sama sekali tidak ada yang menyentuh bahkan makanan itu pun sama sekali tidak dalam keadaan di tutup.
Menghela napas lelah Leo melanjutkan langkahnya menuju lantai atas dimana kamarnya berada untuk mengecek keadaan istrinya yang ia kira sudah tertidur, tapi sayang, nyatanya Leo tidak mendapati keberadaan wanita itu di sana, bahkan kasur pun masih dalam keadaan rapi. Berdecak kesal Leo membuka pintu kamar mandi yang sayangnya tidak menemukan yang di carinya.
Leo kembali keluar dari kamarnya dan mulai masuk ke kamar Queen yang bersebelahan dengan kamarnya, kamar itu dalam keadaan gelap, sama seperti kamarnya, dan keadaan di sama masih sama seperti saat dirinya tinggalkan tadi sore. Meraih tas kerja dan jasnya yang tadi sempat ia lembarkan Leo keluar dari kamar anaknya dan mulai membuka satu persatu ruangan kamar untuk memeriksa anaknya, tapi lagi-lagi ia kecewa karena tidak mendapati istrinya dimana pun di rumah ini dan rasa khawatir mulai menyerang Leo.
“Luna, Lun. Luna!” Leo terus berteriak memanggil, namun sosok itu tidak juga menampakan diri bahkan sahutanpun tak ada sampai akhirnya Leo memutuskan untuk menghubungi ponsel istrinya.”
__ADS_1
“Arrghh sial! Kenapa harus mati segala?!” geram Leo kesal pada ponselnya yang tidak juga bisa menyala.
Melangkah cepat Leo kembali kekamarnya dan segara mencari charger dengan perasaan tak menentu antara khawatir juga kesal. Membuka satu persatu laci nakas, mata Leo tidak sengaja menemukan kotak kecil berwarna hitam, tapi bukan itu yang menjadi fokus utama Leo, karena ada satu benda yang membuat Leo lebih tertarik untuk mengambilnya.
“Garis dua? Bukankah itu berarti … Luna hamil?” tanya Leo lebih pada dirinya sendiri.
Penasaran dengan kotak yang berada tidak jauh dari benda persegi panjang itu Leo mengambilnya dan di dalam kotak itu terdapat kertas berwarna biru langit dengan tulisan Luna yang begitu Leo hapal.
Dear suamiku sayang,
Hallo Papi Leo, selamat ulang tahun, sayang semoga di usiamu yang semakin tua ini, Tuhan memberimu umur yang Panjang, memberimu kedewasaan dan Rejeki yang di lancarkan. Jangan menjadi tua yang menyebalkan, Le karena kamu sudah sangat menyebalkan sejak pertama kali kita bertemu.
Kamu tahu, aku begitu kebingungan akan mempersiapkan apa untuk kejutan ulang tahunmu ini, sampai akhirnya aku memilih pura-pura kesal dan marah padamu. Maaf kan aku Le, aku tidak bermaksud mengabaikan mu, aku tidak bermaksud membuat kamu bingung dan uring-uringan dengan sikapku yang tiba-tiba ini, aku hanya ingin memberi kejutan yang berkesan untuk kamu, dan itu sudah menjadi rencanaku beberapa hari ini.
Dan kamu tahu benda apa yang tengah kamu pegang itu? Ya, itu alat untuk test kehamilan dan ini yang menjadi kejutan utamaku untuk kamu, menjadi kado utama juga yang langsung tuhan berikan. Bagaimana, senang bukan? Apa kemarahan dan kekesalanmu terbayar dengan kabar ini? Aku harap iya, dan jika memang tidak, aku memaksa untuk kamu tidak lagi marah dan kesal padaku.
Belum juga selesai isi surat itu Leo baca air matanya lebih dulu menetes, apa lagi mengingat betapa kasarnya dia tadi dan satu ingatan menjurus pada kejadian dimana Luna terjatuh saat dirinya menepis kasar istrinya hingga membuat perempuan cantik itu terjatuh dan Leo juga ingat ringisan Luna sempat dirinya dengar sebelum benar-benar keluar dari rumah membawa Queen ke rumah sakit.
Menyesal dan khawatir Leo rasakan saat itu juga dan segera menghubungi nomor ponsel Luna yang sialnya berbunyi di bawah bantal. Tersadar dengan semua panggilan tak terjawab dari nomor mertuanya Leo segera menghubungi nomor tersebut yang sayangnya tidak juga di angkat menambah kekhawatiran Leo.
__ADS_1
Berlari menuruni tangga dan menghampiri satpam rumahnya yang tadi sempat dirinya abaikan akibat ingin cepat menemui istrinya. Terlihat, laki-laki setengah baya itu tengah duduk menonton televisi seorang diri di posnya yang langsung menghampiri Leo begitu melihat majikannya yang datang dengan wajah yang kusut.
“Pak, tahu istri saya kemana?” Leo bertanya langsung.
“Loh, Den Leo gak tahu?” herannya.
“Ya, kalau saya tahu mana mungkin tanya!” kesal Leo.
“Tadi, Non Luna pingsang di teras dan kebetulan Bu Sari datang jadi langsung di bawa kerumah sakit …”
“Rumah sakit mana Pak?” cepat Leo bertanya memotong ucapan satpamnya itu.
“Saya tidak tahu, karena Bu Sari langsung mengendarai mobil saat itu.”
Tanpa mengucapkan apapun lagi Leo berlalari kembali kedalam rumah untuk mengambil kunci mobil, tidak perduli keadaannya yang masih berantakan Leo langsung menaiki mobilnya dan melajukan dengan kecepatan penuh sampai membuat satpam rumahnya terkejut dan menggelengkan kepala.
Beruntug jalanan lenggang pada malam hari ini, membuat Leo bisa dengan cepat sampai di rumah sakit terdekat dengan harapan bahwa istrinya ada di sana. Menghampiri bagian resepsionis Leo menanyakan data mengenai istrinya, dan pikirannya nyartanya benar, istrinya berada di rumah sakit ini, yang juga sama dengan Queen di rawat.
Setelah mengetahui di mana kamar rawat Luna, Leo langsung pergi menuju kesana, membuka sedikit pintu itu untuk memastikan sebelum akhirnya masuk dan mendapati istrinya tertidur di sana, jejak air matanya masih membekas di sudut mata Luna yang juga mengenai bantal bersarung putih itu.
__ADS_1
Hati kecil Leo seakan tercubit dan rasanya begitu perih, ia begitu menyesal telah berbuat kasar pada istrinya, menyesal telah membuat wanita yang di cintainya terluka hingga begitu tega membiarkan Luna menangis hingga tertidur seperti ini.
“Maafkan aku sayang, maaf telah melukai hati dan perasaanmu.”