
“Le, anterin aku ke rumah Mama dulu ya, atau aku naik taxi aja?” kata Luna saat keluar dari kamar, sudah Rapi dengan dres hamil dengan panjang selutut berwarna toska, tas selempang kecil berwarna putih senada dengan platshoes nya.
“Yuk berangkat, aku udah izin Ayah untuk masuk agak siang,” ucap Leo seraya mengulurkan tangan siap mengandeng tangan istri cantiknya itu.
Semalam Lukman telpon dan mengabarkan bahwa Sari sakit, jelas itu membuat Luna yang notabene seorang anak khawatir meskipun Wisnu mengatakan bahwa sakitnya Sari hanya kerena kecapean.
“Yang…”
“Gak konsisten banget sih kamu kalau manggil aku, kadang Leo, kadang Yang. Tentuin deh mau panggil aku dengan sebutan apa,” ucap Leo menggerutu.
Luna terkekeh geli. “Aku ‘kan manggilnya tergantung mood, Le.”
Leo memutar bola matanya malas dan kembali fokus pada jalanan yang saat ini lampu merah sudah berubah hijau.
Leo turun lebih dulu saat selesai memarkirkan mobil dan mematikan mesinnya, sedikit berlari menuju pintu samping dan membantu istrinya untuk keluar. Perut buncit Luna memang sedikit membatasi gerak wanita cantik itu, tapi sejauh ini Leo belum pernah mendengar keluhan dari istrinya itu kecuali jika merasa tak nyaman dan meminta di usap.
Saat hendak masuk menuju kamar orang tuanya, Luna dan Leo berpas-pasan dengan Lukman yang sepertinya kembali dari dapur dilihat dari nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air yang di bawanya.
“Kalian baru datang?” Leo dan Luna bersamaan mengangguk. Ketinganya masuk kedalam kamar utama dan terlihat di ranjang besar itu, Sari terbaring dengan wajah pucat yang lesu, Luna langsung menghampiri sang Mama dan memeluknya dengan sayang.
“Mama sakit apa? Sudah ke dokter?” tanya Luna seraya menyentuh kening dan leher Sari untuk mengecek suhu tubuh wanita kesayangannya itu.
__ADS_1
“Semalam Mama udah di periksa dokter kok, Lun dan dokter bilang Mama hanya kecapean aja,” jawab Sari dengan nada suara lemahnya, berusaha menampilkan senyum untuk meyakinkan sang anak semata wayang.
“Makanya Mama tuh diam aja deh, jangan segala ngurus ini itu. Papa juga biarin aja, gak usah Mama urusin,” ucap Luna seraya memberi delikan pada Lukman yang duduk di sisi ranjang ranjang sebelah kanan dimana Sari berbaring.
“Ya, mana bisa Mama gak ngurusin Papa coba, kalau nanti dia malah nyari istri baru emang kamu mau punya Mama tiri?” dengan cepat Luna menggelengkan kepala dan bergidik ngeri.
“Awas aja kalau sampai Papa nikah lagi, Luna gak akan segan-segan lempar Papa ke sumur,” acam Luna tajam.
“Lagian siapa juga yang mau nikah lagi, sembarangan aja kamu tuh kalau bicara,” protes Lukman tak kalah tajamnya.
“Ya, kali aja nyari daun muda, apa lagi lihat Mama sakit gini,” ucap lemah Sari dengan sedikit menyunggingkan senyumnya.
Leo memperhatikan bagaimana Lukman mengurus istrinya yang tengah sakit, begitu hati-hati, sabar dan penuh kasih sayang membuat Leo teringat kedua orang tuanya dan jelas dalam hati ia berharap menjadi kepala keluarga yang hebat seperti Ayah dan mertuanya. Menjadi orang tua hebat seperti mereka untuk anaknya nanti.
“Pa, Ma Leo gak bisa lama-lama, harus ke kantor karena akan ada meeting sehabis ini,” ucap Leo hati-hati, sejujurnya ia tidak enak untuk pergi, tapi bagaimana lagi tanggung jawabnya di kantor pun tidak bisa ia tinggalkan.
“Ya sudah kamu berangkat aja, Le, kerja yang benar biar jadi pengusaha sukses kayak bapak mu,” kata Lukman pengertian. Sari hanya mengangguk lemah sebagai jawaban sedangkan Luna turun dari ranjang dan menghampiri suaminya.
“Yuk, aku antar sampai depan,” ucap Luna melingkarkan tangan di pinggang suaminya. Leo mengangguk kecil seraya tersenyum.
Setelah menyalami kedua mertuanya Leo dan Luna keluar dari kamar Sari dna berjalan bersama menuju teras depan. “Aku berangkat kerja dulu ya, kamu baik-baik disini, nanti aku jemput sepulang kerja. Ingat harus hati-hati dan jangan lupa makan,” peringat Leo. “Baby jangan rewel dan bikin Mami kamu kesusahan ya, Papi berangkat kerja dulu.”
__ADS_1
Mengecup kening Luna juga perut buncit istrinya baru lah Leo masuk kedalam mobil dan melajukannya meninggalkan pekarangan rumah Lukman-Sari. Luna melambaikan tangannya sampai mobil yang di kendarai Leo hilang di balik gerbang yang kembali pak satpam tutup.
Luna kembali masuk kekamar Sari yang baru saja selesai meminum obat yang di berikan Lukman. Kembali duduk di sisi kasur sebelah kiri, Luna ikut membaringkan tubuhnya di samping sang Mama, memeluk wanita tercintanya itu dengan manja dan penuh kerinduan. Meskipun susdah memiliki suami dan sebentar lagi anak memiliki anak tapi tetap saja jiwa anak-anak tidak akan pernah hilang apa lagi jika sudah berada di samping ibu.
“Papa gak di peluk juga nih,” goda Lukman pura-pura merajuk.
“Sini Papa bobo samping Luna. Luna kengan tidur bareng kalian,” ucap Luna seraya menepuk bagian kasur yang kosong. Lukman menurut, tidur menyamping menghadap anaknya yang berbaring terlentang dengan perut besar yang menonjol.
“Ma, apa melahirkan itu sakit?” dengan mata menatap langit-langit kamar, Luna bertanya pada sang Mama. “Luna takut Ma, banyak orang bilang bahwa melahirkan itu serasa berada di ujung kematian, Apa benar?” lanjut Luna, kali ini menoleh pada sang Mama yang juga tidur menyamping menghadapnya.
Tersenyum lembut Sari mengelus pipi anak perempuannya itu. “Melahirkan memang sakit, tapi hanya di awal, karena setelah tangis bayi yang kamu lahirkan terdengar maka rasa sakit itu terbayar lunas, berganti dengan rasa haru dan bahagia. Dulu Mama juga meraskaan hal yang sama seperti kamu, ketakutan saat menjelang persalinan, tapi berkat Papa kamu yang selalu menemani dan memberikan dukungan membuat Mama akhirnya mampu melawan rasa takut itu.”
Sari tersenyum menenangkan, meremas lembut jari tangan anaknya yang dingin, memberi sedikit kekuatan agar rasa takut itu dapat Luna hilangkan. Memang wajar merasakan takut paska menjelang persalinan karena bagaimana pun nyawa menjadi pertaruhan. Sari cukup mengerti dengan ketakutan yang di rasakan anaknya karena ini memang menjadi pengalaman pertama anaknya.
Dua minggu bukan waktu yang lama dan itu membuat Luna cemas juga takut menjelang persalinannya nanti. Walau pun Leo sudah berjanji bahwa pria itu akan selalu ada menemaninya di ruang bersalin nanti, tapi tetap saja rasa takut itu tidak hilang dari benaknya. Entah dari mana timbulnya rasa takut itu padahal dokter mengatakan bahwa kandungannya baik-baik saja juga kondisinya pun dalam keadaan baik dan normal.
Sering kali Luna bertanya dalam hatinya, apa semua perempuan yang hamil akan merasakan kecemasan yang sama dengan dirinya? Tapi mengetahui Lyra saat akan melahirkan Rapa beberapa waktu lalu, Luna merasa bahwa sahabatnya itu tenang-tenang saja dan tidak terlihat cemas maupun ketakutan.
“Jangan terlalu di pikirkan, Lun nanti malah membuat kandungan kamu tegang dan itu bisa bahaya untuk janin kamu. Ingat ibu hamil itu tidak boleh stres apa lagi menjelang persalinan.”
Luna menarik napas kemudian membuangnya perlahan, tersenyum dan memeluk sang Mama. Mamanya benar, dirinya tidak boleh stress dan terlalu memikirkan semua itu, karena yang harus dirinya lakukan sekarang adalah tenang dan berdoa agar dilancarkan hingga persalinan nanti.
__ADS_1