
Menyiram tanaman di sore hari ini, Luna dengan di temani sang putri tertawa dan bercanda, terdengar begitu bahagia, sekaligus juga ia mengenalkan nama-nama tanaman yang ada di taman depan rumahnya sampai suara gerbang di buka terdengar, di susul dengan masuknya mobil hitam yang sudah keduanya hapal mengalihkan ibu dan anak itu.
Queen melempar selang yang di pegangnya sampai tidak sengaja air menyemprot pada Luna dan membuat wajah serta baju wanita hamil itu menjadi basah.
"Yakkk!"
Mendengar pekikan sang Mami, Queen yang masih berada tak jauh dari posisi berdiri ibunya itu terkejut dan langsung menutup mulutnya merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
“Sorry, Mami,” sesal Queen meringis kecil.
“Awas, ya, kamu Queen, Mami balas kamu!” ucap Luna seraya mengarahkan selang yang di pegangnya itu pada Queen dan membiarkan air itu menyemprot pada tubuh kecil Queen membuat wajah serta bajunya basah.
Queen malah justru bahagia dengan itu dan melompat-lompat di bawah guyuran air yang di arahkan sang mami.
“Loh, kok malah pada main air? Ini udah sore loh, sayang,”
Mendengar suara suaminya itu, Luna mematikan selang airnya dan berjalan menuju sang suami, menyalami tangan Leo juga mengambil tas kerja suaminya.
“Yah, Mami, kok, malah behenti sih,” protes Queen lesu, tak rela acara main airnya harus terhenti.
“Gak baik main air sore-sore seperti ini Queen, nanti kamu sakit,” Leo menegur putri kecilnya itu.
__ADS_1
“Main air itu seru tahu, Pi,”
“Iya papi tahu, tapi ini udah sore, nanti masuk angin. Lebih baik sekarang masuk.” Titah Leo dengan lembut.
Akhirnya Queen mengangguk. Memang tidak akan penah berhasil berdebat dengan sang Ayah. Namun sebelum menuruti papi-nya itu, Queen diam-diam mengambil selang yang semula di lemparnya. Beruntung karena ternyata krannya masih menyala dan langsung saja Queen mengarahkan selang air tersebut ke arah Leo dan Luna, kemudian berlari ke dalam rumah seraya tertawa puas.
“Cleona Queenisa!” teriak kesal Leo dan Luna bersamaan membuat tawa Queen semakin keras terdengar.
Bi Atin yang mendengar teriakan majikannya juga tawa menggelegar Queen, segera berlari menghampiri keributan karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi rasa penasarannya itu malah berubah dengan keterkejutan juga kesal dengan apa yang dilihatnya.
“Neng Queen!” Bi Atin ikut meneriaki bocah itu tidak kalah kesalnya dengan Leo dan Luna, tapi sayang kekesalannya harus bertambah dengan kedatangan dua majikan dewasanya itu yang sama-sama membuat teras kotor.
🍒🍒🍒
Di meja makan malam ini tidak seramai biasanya karena hanya mereka berempat yang duduk di sana. Lyra, Pandu beserta anak-anaknya tidak ikut makan bersama kali ini karena harus menghadiri acara makan malam bersama keluarga besarnya di kediaman ayah Lyra, tapi meski hanya berempat tidak membuat ruang makan ini sepi karena ada saja yang membuat suasana menjadi ramai walau di isi dengan perdebatan antara ayah dan anak itu.
Selesai menyantap makan malam, Luna dengan di bantu Bi Atin, membereskan piring-piring kotor bekas mereka, juga menyimpan yang masih tersiasa ke dalam lemari makan. Setelah selesai, Luna berjalan menuju lemari es dan mengambil sesuatu dari sana untuk ia sajikan pada anak juga suaminya, tidak lupa juga Bi Atin yang tengah mencuci piring ia panggil untuk kembali bergabung.
“Woahhh, apa ini Mi?” tanya Queen dengan berbinar, begitu Luna memberikan satu gelas pudding sumsum manga yang di buatnya tadi siang. Tidak lupa Luna juga memberikan satu-satu pada Leo dan Bi Atin.
“Euumm, enak banget, Non,” puji Bi Atin begitu melahap sesendok kecil pudding tersebut. Luna tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
“Bi tolong berikan ini dulu buat Pak Maman,” ucap Luna seraya memberikan satu gelas lagi pudding untuk satpamnya itu. Bi Atin mengangguk dan bangkit dari duduknya.
“Tumben kamu bikin beginian?” tanya Leo heran, karena tidak biasanya istrinya itu membuat dessert seperti ini.
Tersenyum, Luna menjawab, “gara-gara lihat iklan pudding di tv jadi kepikiran buat bikin ini. Gimana enak gak?” tanya Luna meminta penilaian sang suami.
“Bukan enak lagi, tapi enak banget. Apa lagi yang buatnya kamu,” jawab Leo memberikan dua acungan jempol pada sang istri kemudian melayangkan sebuah kecupan pada pipi chuby Luna.
“Sering-sering bikinnya, ya, Mi. Queen suka banget sama pudingnya, lembut. Manisnya pas, susunya berasa, dan manganya ... uhh, nikmat!” Queen berucap selayaknya juri dalam sebuah ajang lomba masak.
Luna begitu senang karena semuanya menyukai hasil masakannya. Pujian dari orang-orang tercintanya itu lebih berarti dari pada pujian dari orang lain, karena cukup hanya dengan anak dan suami suka pada apa yang kita buat atau kita masak itu sudah mampu membuat seorang istri atau seorang ibu bahagia. Sesederhana ini sudah membuat Luna bahagia. Tidak perlu dengan berlian yang di beri suaminya atau hal-hal mewah lainnya. Karena sebuah pujian dari suami dan anak sudah mampu membuat Luna sebahagia ini. Apalah arti kemewahan jika tak ada kehangatan keluarga.
Luna menggelengkan kepala begitu melihat anak dan suaminya sudah sama-sama terbaring di sofa ruang tengah, padahal hanya beberapa menit saja kedua orang itu Luna tinggal untuk mengangkat telpon dari sang Ibu, tapi kedua orang kesayangannya malah sudah nyenyak dengan membiarkan tayangan televisi yang menonton mereka berdua.
Kembali ke dalam kamar, Luna mengambil selimut untuk anak dan juga suaminya, membiarkan kedua kesayangannya itu untuk tidur di sofa dengan saling memeluk karena Luna pun tidak tega jika harus membangunkan keduanya. Tidak mungkin juga jika dirinya harus menggendong Queen menuju kamar bocah itu, apa lagi dalam keadaan hamil seperti ini, biasa bahaya nanti.
Menyelimuti keduanya, Luna sedikit membungkuk untuk mengecup kening Leo juga Queen, mengucapkan selamat malam setelah itu ia matikan televisi juga lampu dan baru lah kembali ke kamarnya untuk tidur, karena memang malam pun semakin larut dan kantuk sudah menyerang.
Bukan untuk pertama kalinya Luna tidur seorang diri seperti ini, sebab bukan untuk pertama kalinya juga Leo dan Queen tidur di sofa. Kedua kesayangannya itu selalu menghabiskan waktu dengan bercanda atau Leo yang mengajak belajar anaknya dan ending-nya selalu berakhir dengan ketiduran.
“Baby malam ini kita tidur tanpa Papi dulu, jangan rewel, ya, Nak, biarkan Kak Queen yang mendapat pelukan Papi malam ini,” ucap Luna pada anak dalam perutnya, memberikan usapan lembut pada perut buncitnya sampai Luna tidak membutuhkan waktu lama untuk tertidur.
__ADS_1