
Luna memang benar-benar menginginkan perjodohan anaknya nanti dengan anak dari Lyra-Pandu karena selain mereka bersahabat juga karena Luna ingin anaknya bahagia dan memiliki mertua yang baik, juga karena ingin persahabatan mereka semakin erat. Tidak salah bukan Luna merencanakan masa depan anaknya dari sekarang walau kehadiran malaikat kecil itu baru saja terdeteksi keberadaannya?
Memang benar yang dikatakan Levin bahwa pamali merencanakan semua itu di saat sekarang, tapi entah kenapa Luna begitu menginginkan Rapa menjadi menantunya nanti, menjadi pasangan anak perempuannya dan yakin bahwa Rapa yang kini masih bocah itu menjadi pelindung untuk anaknya.
Saat pagi tadi mengatakan kehamilannya, Luna begitu bersyukur melihat binar bahagia dari semua orang yang berada di sana terutama Leo. Laki-laki itu bahkan langsung memeluknya dan mengecup setiap inci wajah juga perutnya. Beberapa waktu lalu memang Luna sempat ragu dan berpikir ulang mengenai kehamilannya, begitu juga Leo yang tidak lagi meminta Luna untuk hamil mungkin laki-laki itu cukup takut sejak insiden hilangnya Rapa, karena Luna pun merasakan hal yang sama, tapi setelah berpikir ulang dan memantapkan niat, Luna langsung berhenti meminum pil pencegah kehamilan dan sekarang ia bersyukur karena hanya dalam waktu beberapa bulan akhirnya tuhan mempercayakan dirinya untuk mengandung.
Sepulang dari rumah Lyra-Pandu, Leo bergegas naik kekamar dan mengambil kunci mobil membawa istrinya untuk memeriksakan kehamilannya ke rumah sakit untuk mengetahui lebih jelasnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Leo tidak hentinya mengembangkan senyum, mengelus kepala sang istri juga perut rata Luna dengan lembut, bahkan sampai di rumah sakit pun Leo terus menggandeng istrinya itu sampai masuk di ruangan dokter kandungan. Menemani dokter tersebut memeriksa Luna sampai dokter mempersilahkan keduanya untuk duduk.
“Bagaimana, Dok?” tak sabar Leo langsung bertanya saat baru saja bokongnya menyentuh kursi. Dokter bername tag Maria itu tersenyum lembut, maklum dengan ketidak sabaran Leo.
“Mamang benar bahwa istri bapak tengah mengandung dan usia kandungannya baru menginjak usia 6 minggu. Usia itu masih rentan jadi tolong di jaga ya, Pak, jangan sampai istrinya kelelahan dan stress karena itu akan berpengaruh pada kesehatan janinnya dan juga bisa membahayakan ibunya,” ucap Dokter Maria dengan ramah. Leo mengangguk paham.
“Apa kandungan saya kuat, Dok?” kali ini Luna bertanya karena bagaimana pun rasa takut itu ada apa lagi jika kandungannya lemah.
__ADS_1
Lagi Dokter Maria tersenyum. “Sejauh ini kuat dan baik-baik saja, tapi jauh lebih baik kalau ibu rutin meminum vitamin dan susu ibu hamil. Sebentar saya resepkan dulu.”
Selesai menerima resep yang di berikan Dokter Maria, Luna dan Leo pamit undur diri.
Sepanjang jalan menuju apotik Leo tidak lepasnya melingkarkan tangan di pinggang Luna, meminta istrinya itu berjalan lebih hati-hati dan sebisa mungkin Leo melindungi agar tidak ada orang yang menyenggol Luna. Ke posesifan Leo nyatanya sudah di mulai dan Luna senang mendapatkannya.
Selesai menebus obat Leo memutuskan untuk ke supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit membeli susu ibu hamil juga beberapa cemilan, buah dan juga sayuran karena Dokter Maria tadi sempat bilang bahwa ibu hamil harus makan makanan yang sehat dan mengandung banyak vitamin.
Nyatanya kabar bahagia ini begitu cepat menyebar bahkan saat Luna dan Leo sampai di rumah mobil kedua orang tua mereka sudah terparkir di pekarangan dan pintu utama pun terbuka juga suara tawa terdengar. Luna dan Leo saling bertatapan, kemudian keduanya mengedikan bahu dan masuk kedalam rumah yang langsung di sambut oleh pelukan Melinda dan Sari.
“Selamat ya, sayang, akhirnya kamu hamil juga. Mama sama Bunda akan segara jadi Nenek,” ucap Sari dengan nada gembira. Kedua ibu itu menuntun Luna untuk duduk di sofa, bergabung dengan Wisnu, Lukman, Leon, Linda dan Tina yang juga ternyata datang dan langsung memberikan ucapan selamat. Sedangkan Leo sudah ke dapur untuk menyimpan belanjaan.
“Baru 6 minggu Bun,” jawab Luna seraya tersenyum manis.
Sari dan Melinda bergantian mengelus perut Luna yang masih rata memanjatkan doa untuk kesehatan bayi dalam kandungan Luna juga untuk dirinya. Luna begitu terharu, ia bahagia karena semua orang menyambut kehamilannya dengan suka cita.
__ADS_1
Bi Atin datang dari arah dapur dan mengatakan bahwa semua makanan sudah siap di hidangkan. Satu persatu dari mereka bangkit dan berjalan menuju belakang, termasuk Lyra, Pandu, Levin dan Devi yang baru saja datang beserta Rapa dalam gendongan Pandu.
Nyatanya mereka tidak makan di meja makan melainkan di gajebo belakang rumah yang cukup luas, dengan menggelar karpet. Luna tidak tahu kapan mereka membereskan ini karena yang jelas ia begitu bahagia hari ini.
Lukman bilang makan siang yang jelas terlewat kerana kini jam sudah menunjukan pukul 14:21 sebagai bentuk syukuran menyambut kehamilan Luna. Entah apa yang harus Luna kata kan untuk semua ini karena jujur saja ia tidak lagi mampu berkata-kata saking bahagianya.
Leo yang duduk di samping istrinya itu mengalas kan nasi beserta lauknya ke piring dan memberikannya pada Luna diiringi dengan senyum dan tatapan penuh cintanya yang membuat Luna tidak henti-hentinya menggumamkan kata syukur dalam hati.
“Kamu makan yang banyak, Nak karena sekarang kamu makan untuk berdua,” ucap Melinda dengan lembut. Luna mengangguk mengiyakan.
“Enak lo Lun, kehamilan lo di sambut dengan makan-makan kayak gini. Waktu gue hamil mah boro-boro,” ucap Lyra seraya mendelik kearah Leon.
“Heh Princess gak ingat kalau saat itu kamu langsung minta rujak manga dan harus Daddy yang beli? Luna mah baik gak minta apa-apa meskipun udah ketahuan hamil,” balas Leon tak ingin kalah.
“Jadi Daddy nyesel udah beliin Princess rujak Manga waktu itu? Daddy mau pehitungan sama Princes, hah?!”
__ADS_1
“Mulai deh main drama.” Keluh Linda menggeleng-gelengkan kepala membuat semua yang ada di sana tertawa, sedangkan Leon dan Lyra masih saling melemparkan tatapan permusuhan.
“Ra, ingat anak lo udah gue boking dari sekarang untuk jadi mantu gue nanti.” Luna membuka suara. Semua orang yang baru saja menyelesaikan makannya itu menoleh pada Luna dengan kening berkerut kecuali Pandu, Levin dan Devi, sedangkan Leo manyun dan Lyra mendengus kesal.