
Bukan kah seharusnya di rumah sakit tidak diizinkan untuk ribut? Suasana harus tenang dan tidak boleh banyak orang, tapi sepertinya khusus di ruang kamar rawat Luna semua itu di sah ‘kan karena selama tiga hari ini ruangan itu tidak pernah sepi pengunjung seperti café yang baru saja buka dengan suasanya yang tidak membosankan.
Ini adalah hari terakhir Luna berada di rumah sakit, sedangkan besok dokter sudah memperbolehkannya pulang karena keadaan Luna pun sudah membaik. Dan kerena itu juga lah semua sahabat Leo-Luna juga orang tua mereka berada di sini dengan segala macam makanan yang cukup banyak di bawa oleh Melinda dari rumah, sebagian Pandu dan Levin beli belum lagi Bi Atin yang khusus datang membawakan makanan begitu tahu bahwa Luna sudah sadar.
Amel Bahkan sampai menggelerkan tikar di tengah ruangan yang luas ini cukup untuk mereka semua dan menata semua makanan yang ada di tengah-tengah, Luna yang melihat kegilaan ini hanya mampu menggelengkan kepala dari ranjang tempat duduknya sekarang. Rapa yang sepertinya begitu senang dengan acara ini, berlarian kesana kemari mengelilingi banyaknya orang disana, sekali-kali menghampiri Luna dan memberi kecupan pada pipi bayi mungil berusia tiga hari itu dengan bantuan Leo agar bisa sampai dan duduk di samping Luna yang memangku buah hatinya.
“Berasa lagi piknik masa,”
“Biarin Le, kapan lagi coba kita bisa seperti ini?” semua orang mengangguk menyetujui pernyataan yang di berikan Levin, kapan lagi bisa piknik di rumah sakit.
“Biar gak percuma kamu bayar mahal di rumah sakit ini Bang,” tambah Wisnu dan ini tentu saja di setujui sepenuhnya oleh Leo, membuat Melinda dan Luna geleng kepala.
“Gimana Mel, udah lo bilang ‘kan soal diskon?” Leo menaik turunkan alisnya.
“Lo benar-benar serius, Le minta diskonan untuk bayar biaya Luna selama di rumah sakit?” Lyra bertanya.
“Ya, serius lah bego!”
__ADS_1
“Gue kira cuma becanda doang,” Devi, Lyra dan Levin menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.
“Memang benar hemat dalam kurung pelit bin medit itu nama tengah dan belakangnya si Leo.” Levin menggelengkan kepala.
“Bukan sekedar diskon Le, khusus buat Luna gue lunasin pembayarannya.”
Perkataan Amel itu membuat Leo bersorak bahadia bahkan pria satu anak itu sudah jingkrak-jingkrangan dengan membawa serta Rapa dalam pangkuannya, sedangkan Luna, Lyra, Devi menoleh pada Amel dengan tatapan seolah ‘lo serius!’ dan para orang tua menatap Leo dengan geli.
“Ini serius ya, Mel? Awas aja kalau besok gue bawa Luna keluar terus di cegat satpam gara-gara belum bayar.”
“Takut banget lo kalau bini gue bohong!” delik Dimas.
“Lepas bego!”
Leo terkekeh kecil kemudian melepaskan pelukannya pada Dimas, memang Leo selalu bisa membujuk siapa saja agar dapat geratisan, tapi Amel dan Dimas melakukan ini bukan karena bujuk rayu laki-laki itu yang selalu minta diskonan, tapi karena memang keinginan mereka.
Amel juga Dimas tahu, Leo bukan lah orang tidak mampu bahkan mungkin untuk membeli rumah sakit ini saja keluarga Luna dan Leo mampu. Ini Amel dan Dimas berikan sebagai bentuk kado juga ucapan selamat untuk Luna yang baru saja melahirkan putri cantiknya.
__ADS_1
“Thank Mel, Dim gue terharu banget kalian udah ngelunasin tagihan rumah sakit selama istri gue disini. Ah, bahagianya gak mampu gue utarakan. Pokoknya makasih banget untuk kedua sahabat tercintaku ini," ucap Leo seraya melayangkan kiss jauh pada Amel dan Dimas membuat kedua orang itu bergidik jijik dengan respon berlebihan Leo.
Luna tentu saja beterima kasih, malu juga sebenarnya pada kedua sahabatnya itu, tapi Luna tahu Leo tidak benar-benar meminta itu karena jauh sebelum ini pun Leo sudah mempersiapkan semua biaya yag harus dia keluarkan. Ingat, Luna tahu betul bahwa suaminya tidak sepelit itu apa lagi untuk istri dan keluarganya, tapi mendengar gratisan ya, sudah pasti Leo paling depan yang tidak akan menolak. Memalukan memang.
“Tahun depan gue jadi bangun supermarket! Yes!” seru Leo semangat mengepalkan kedua tangannya di udara dengan wajah berbinar senang.
“Najis, bayar rumah sakit minta diskonan, tapi mau bangun supermarket yang biayanya lebih, wow. Gila emang anaknya si Wisnu.” Leon menggelengkan kepala, takjub pada anak dari sahabat baiknya itu, tidak jauh berbeda memang dengan Ayahnya.
“Kenapa Om? Iri sama Leo? Atau mau nambahin modalnya? Dengan senang hati Leo terima,” ucap Leo menaik turunkan alisnya seraya menengadahkan tangan pada Leon.
“Papa dukung kamu, Le.” Lukman mengacungkan kedua jempolnya.
Satu bungkus snack yang masih utuh Leon lemparkan hingga mengenai kepala laki-laki sableng model Leo itu dengan gerutuan kecil yang terus mengatai Leo, membuat semua yang ada di sana tertawa.
Tawa riuh juga obrolan tidak berbobot ini nyatanya berlangsung hingga malam bahkan Rapa sampai tertidur saking lelahnya berada di antara banyaknya orang dewasa yang bahkan tingkahnya melebihi anak seusianya.
Satu persatu dari mereka pamit pulang termasuk Sari dan Lukman mengakhiri kegilaan yang hakiki pada malam ini. Box bayi yang di letakan tidak jauh dari ranjang Luna sudah sepi, tidak ada pergerakan atau rengekan dari bayi mungil itu karena memang hari pun sudah semakin malam. Luna sendiri sudah tertidur begitu juga dengan Melinda dan Wisnu yang tertidur berdempetan di sofa panjang sudut ruangan.
__ADS_1
Leo satu-satunya orang yang masih melek itu menatap istrinya dengan lekat, senyum syukur ia sunggingkan kemudian tangannya bergerak untuk mengelus pipi Luna yang berisi. “Terima kasih untuk kebahagiannya, sayang aku janji untuk berusahan menjadi suami yang kamu inginkan, suami yang kamu butuhkan dan suami yang kamu harapkan. Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anak kita, dan aku berjanji untuk selalu memberikan kebahagiaan untuk kalian.”
Satu kecupan Leo berikan pada kening istrinya, kecupan yang mewakili perasaan bahagia Leo sampai air matanya menetes saking terharunya dengan semua kebahagian yang dirinya dapatkan selama hidup bersama Luna, perempuan yang dulu menjadi sahabatnya, dan kini justru berubah menjadi istrinya.