Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
37. Siapa Dia?


__ADS_3

"Ly, kenapa Luna bisa pingsang gini?” tanya Leo saat mereka sudah sampai di rumah sakit dan Luna sedang di tangangi dokter.


Lyra berdecak kesal. “Dasar laki-laki, udah tahu punya bini lagi hamil pula masih aja jalan sama perempuan lain. Ingat Le, lo udah pernah janji sama gue ga akan pernah nyakitin Luna, gak akan pernah khianatin dia, oke, gue emang gak tahu ada hubungan apa lo sama perempuan tadi, tapi Luna cukup terluka melihat itu apa lagi saat di lampu merah tadi bini lo sampai nangis kejer asal lo tahu!” ucap Lyra berapi-api.


“Maksud lo apa sih, Ly. Sumpah gue gak paham,” ucap Leo mengernyit bingung.


“Jangan sampai lo gue doain bego beneran!” dengus Lyra.


“Kenapa sih perempuan selalu bertele-tele? Kenapa gak langsung bilang intinya aja? Ly, lo tahu gue lagi panik dan khawatir dengan keadaan Luna, gue gak bisa mikir sekarang. Jadi, tolong lo langsung bilang aja apa…”


“Gara-gara lihat lo sama perempuan tadi kondisi Luna jadi seperti ini,” ucap Lyra memotong dengan cepat perkataan sahabat sedari kecilnya itu.


“Perempuan?” tanya Leo memastikan.


Pandu melayangkan tinjuan pada lengan sahabatnya yang tiba-tiba pelupa itu. “Yang bini gue maksud mungkin Brielle, Le. Dan bisa aja gara-gara dia juga bini lo salah paham,” ucap Pandu.


Leo berpikir keras, mencoba mengingat hingga beberapa detik kemudian menggeplak kepalanya sendiri. “Astaga, gue lupa!"


Lyra menatap sahabatnya itu dengan kening berkerut, tentu saja dirinya bingun, pasalnya ia baru mendengar nama aneh yang di ucapkan suami juga sahabatnya. Dan tentang siapa perempuan itu masih menjadi tanda tanya.

__ADS_1


“Pan, lo bisa susul dia gak? Bawa kesini atau lo anteri sekalian kerumah, gue gak mungkin ninggalin istri gue disini,” ucap Leo sedikit memohon.


“Oke, gue…”


“Siapa yang izinin kamu?” sanggah Lyra cepat. Melayangkan tatapan tajam pada suaminya yang membuat Pandu ciut seketika.


“Ly please, lo ikut deh kalau memang curiga laki lo macem-macem. Yang penting pandu bisa bawa Brielle pulang ke rumah gue secepatnya,” mohon Leo pada sahabat kecilnya itu.


“Jangan bilang kalau cewek itu selingkuhan lo? Sampai segitu pedulinya lo sama dia.” tuduh Lyra yang membuat Leo membelalakan matanya.


“Ck, nanti gue ceritain, yang penting sekarang lo buruan pergi dan bawa Brielle ke rumah gue dengan selamat.”


Tidak lama sejak keprgian Lyra-Pandu. Dokter keluar dan menghampiri Leo menjelaskan keadaan istrinya yang bisa membua Leo menghela napas lega. Ya, keadaan Luna memang baik-baik saja begitu juga kandungannya, tapi tetap saja dokter menyarankan untuk beberapa hari ini Luna harus di rawat. Dan tanpa pikir panjang Leo langsung menyetujui yang penting istrinya sehat berikut bayi dalam kandungan Luna.


Setelah selesai mengurus kamar rawat inap untuk istrinya Leo kembali ke IGD untuk menyerahkan bukti tersebut pada suster di sana, dan Luna langsung di pindahkah ke kamar rawat VIP untuk dua hari kedepan.


Leo duduk di kursi yang berada di sisi kanan brangkar Luna, anita hamil itu sudah bangun dari beberapa menit yang lalu sebelum di pindahkan ke kamar inapnya ini, tapi hingga sekarang pun nyatanya istri cantik seorang Leo belum juga enggan menatap suami tampannya itu.


Sekarang berhubung Leo sudah tahu akar dari masalah kecemburuan sang istri lebih memilih membiarkan wanita itu menebak-nebak dalam pikirannya, bukan tidak kasihan, tapi Leo yakin kalau pun di jelaskan sekarang Luna tetap tidak akan percaya. Apa lagi sekarang keadaan wanita itu belum stabil paska bangun dari pingsannya dan Leo juga yakin emosi perempuan itu pun belum stabil jadi lebih baik sekarang Leo diam, yang penting masih berada di samping Luna.

__ADS_1


Satu jam kemudian Melinda, Sari dan para suaminya datang setelah sebelumnya Leo mengabarka bahwa Luna masuk IGD lewat pesan singkat. Ke empat orang itu langsung menghampiri Luna, menanyai segala macam hal dengan raut khawatir.


“Heh Bang, kamu apain mantu Bunda sampai masuk rumah sakit gini?” tanya galak Melinda pada anak satu-satunya itu.


“Abang gak ngapa-ngapain Bunda,” balas Leo lembut seraya memberikan senyum manis pada wanita cinta pertamanya itu.


“Jangan bohong kamu, Bang?” delikan penuh ancaman Melinda berikan pada anaknya itu.


“Duh heran deh pangeran, selalu aja di curigain mulu,” keluh Leo mendramatisir. Satu jitakan Wisnu berikan, membuat Leo meringis sakit.


Pintu kamar rawat Luna kembali terbuka dan menampilkan sosok Amel, Devi, Dimas dan Levin dengan Rapa berada di gendongannya. Semua masuk dan menyalami tangan keempat orang tua itu dan berdiri mengelilingi ranjang Luna.


“Keadaan lo baik-baik aja kan, Lun?” Amel yang lebih dulu membuka suara. Luna menjawab dengan anggukan kecil dan senyuman tipis membuat semua yang ada di sana menghela napas lega.


“Gara-gara lo tahu gak!” tunjuk Devi kearah Leo yang bersebrangan dengannya. “Untung aja Luna gak kenapa-napa. Kalau sampai terjadi sesuatu gue pastiin gue sendiri yang kirim lo ke neraka!” ancam Devi tajam, membuat Lukman, Wisnu, Melinda dan Sari menoleh pada anaknya dan Devi dengan kening berkerut bingung.


Leo hendak menjawab, tapi pintu lebih dulu terbuka terbuka di susul dengan seorang perempuan yang berlari menghampiri Leo dan langsung memeluk laki-laki itu dengan keadaan menangis membuat semua orang terkejut, termasuk Leo sendiri dan Luna yang memalingkan wajahnya enggan menatap.


“Leo, I’m afraid.”

__ADS_1


__ADS_2