
Pukul delapan pagi, Devi sudah bertandang kerumah Lyra dimana di rumah itu juga Luna sudah duduk anteng dengan perut buncitnya dan sepiring tiramisu di pangkuannya. Lyra yang nyatanya baru saja selesai memandikan Rapa masih kucel-kucelnya dalam balutan daster rumahan dengan rambut acak-acakan dan perut yang sudah sedikit membuncit membawa serta Rapa dalam gendongannya membuat Devi yang melihat ngeri sendiri.
“Rapa sama Aunty sini, kasihan itu Bunda sama Dedek bayinya,” ucap Devi seraya mengambil alih Rapa dari gendongan Lyra.
Menghela napas lega, Lyra akhirnya berjalan dengan leluasa dan normal, menjatuhkan diri ke sofa dan ikut duduk bersama Luna.
“Capek banget gue pagi ini, si Pandu emang sialan pergi pagi banget sampai gak mandiin anaknya dulu,” keluah Lyra.
“Lo benar, Ra semenjak pada kerja tu laki malah jarang banget ada di rumah. Kesal gue! Apa lagi si Leo semalam pulang larut banget. Pengen banget gue kunciin dia di luar kalau aja anaknya gak minta di elus.” Dengus Luna yang dengan kasar melahap sendok yang berisikan potongan tiramisu.
Devi menyusul duduk bersama Rapa, menatap kedua perempuan hamil itu bergantian, menggelengkan kepala mendengar keluahan-keluahan keduanya. “Dari pada lo ngeluh dan bikin kesal sendiri, lebih baik lo mandi dan dandan yang cantik deh, Ra, bentar lagi Amel datang dan ngajak kita untuk ke cafenya yang baru di buka seminggu lalu.”
“Yang benar lo, Dev?” Luna bertanya antusias. Devi menjawab dengan anggukan. “Kok dia gak bilang gue?” lagi Luna bertanya.
“Amel bilang udah hubungin lo, tapi gak lo angkat,” balas Devi.
“Masa iya?” Luna terdiam sesaat sebelum kemudian memukul keningnya sendiri. “Gue lupa kalau bebapa hari ini gak pegang ponsel gara-gara males,” ucapnya cengengesan sedangkan Devi memutar bola matanya malas.
“Kayaknya gue gak ikut deh, Dev ribet kalau bawa-bawa Rapa apa lagi dengan perut gue sekarang … gak mudah asal lo tahu,” ucap Lyra dengan hembusan napas lesu.
“Tenang ada gue sama Amel yang akan jagain Rapa,” balas Devi seraya tersenyum tulus.
“Rapa aktif banget Dev, gue gak yakin lo kuat,” kata Lyra dengan ringisan kecil saat bayangan anaknya yang begitu aktif melintas. Nyatanya anak berusia satu setengah tahun itu hanya wajahnya saja yang mirip Pandu, sedangkan tingkah pecicilan dan tidak bisa diamnya menurun dari Lyra.
__ADS_1
“Udah gak perlu takut, sekarang lo cepat mandi dan siap-siap deh sebelum Amel datang,” titah Devi gemas.
“Eh bentar-bentar, bukannya Amel kuliah kedokteran dan dia juga udah kerja di rumah sakit keluarganya? Kenapa malah buka cafe segala coba?” heran Lyra yang di setujui Luna.
“Dasar memang kalian itu ibu-ibu kurang update. Amel memang jadi dokter, tapi sejak dulu kan dia pengan jadi pebisnis, ya salah satunya café gini, tapi berhubung orang tuanya yang, ya kalian tahulah bagaimana …? Ck. Udah lah nanti aja ceritanya lebih baik lo sekarang mandi dan siap-siap. Jelasnya biar nanti Amel sendiri yang cerita.”
Tidak lama Amel datang, perempuan cantik itu selalu tampil memukau dan berkelas yang kadang membuat Luna iri, tapi selalu dengan cepat ia tepis dan lebih mensyukuri dirinya sekarang.
Dengan anggunnya Amel duduk setelah sebelumnya cipika cipiki bersama Luna dan Devi juga memberikan cubitan gemas pada Rapa yang anteng dalam pangkuan Devi menonton tayangan kartun kesukaan bocah itu.
“Lyra mana?” tanya Amel seraya mengedarkan tatapan kesekeliling.
“Lagi siap-siap,” ucap Luna menjawab. Amel menganggukan kepalanya pelan.
Amel yang baru beberapa menit duduk terpaksa harus kembali berdiri, dan mengikuti langkah sahabatnya menuju rumah yang bersebelahan dengan yang saat ini dirinya kunjungi.
“Laki lo mana, Mel?” Luna bertanya saat baru saja mereka berdua keluar dari gerbang rumah Lyra.
“Kerja lah, nyari duit buat nafkahin gue," jawab Amel terkekeh kecil.
“Gue kira pasangan orang kaya gak butuh kerja lagi. Tinggal ongkang kaki, duit ngalir setiap bulannya,” balas Luna yang juga ikut terkekeh.
“Oh iya, kalau lo buka café terus kerjaan lo sebagai dokter gimana?” Luna bertanya, mencari jawaban atas keheranannya sedari tadi.
__ADS_1
“Gue belum resmi jadi dokter, Lun masih koas dan terkadang juga jadi asisten Om gue yang memang menjadi kepala rumah sakit. Lagian untuk berada di posisi itu gak mudah. Mekipun itu rumah sakit milik keluarga gue, tapi tetap aja gue masih perlu belajar banyak.” Jelas Amel yang diangguki paham oleh Luna.
Setelah semuanya selesai dan siap Amel, Luna, Devi, Lyra serta Rapa masuk kedalam Mazda 2 merah milik Amel yang dikemudiakan oleh perempuan itu sendiri melaju meinggalkan pekarangan rumah Lyra.
Jalanan cukup macet, tapi tidak membuat keempat perempuan di tambah satu bocah laki-laki itu bosan kerana selalu saja ada tawa akibat celotehan Rapa yang mulai mempelajari kata-kata baru.
Amel merasa bahwa dirinya sudah begitu lama tidak tertawa selepas ini bersama ketiga sahabatnya sejak kecanggungan itu terjadi. Beruntung ia memiliki teman-teman yang baik seperti Luna, Devi dan Lyra walau ia sadar beberapa tahun lalu telah membuat kecewa sahabat satunya itu.
Amel menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Menoleh kebelakang dan ikut bernyanyi balonku yang di nyayikan Rapa dengan kata yang masih berantakan dan suara menggemaskan bayi itu, tapi seketika suara tawa dan tepuk tangan mereka bertambah dengan suara isak tangis yang berasal dari Luna yang duduk jok penumpang samping Amel. Suara klakson juga berbunyi dari arah belakang dan itu membuat Amel harus dengan segera melajukan kembali kendaraannya. Devi juga Lyra menoleh sedangkan Amel memilih fokus pada jalanan karena tidak ingin terjadi apa-apa pada dirinya juga empat nyawa lainnya.
“Lo kenapa nangis, Lun?” Devi bertanya dengan kening berkerut.
“Iya Lun, lo kenapa? Barusan perasaan masih ketawa, kenapa jadi tiba-tiba mewek?” Lyra ikut buka suara. Amel menoleh sebentar sebelum kembali pada jalanan di depannya.
“Ada yang sakit perut lo? Atau ada sesuatu yang lo pengen?” Amel bertanya dengan nada khawatir.
Dari semua pertanyaan yang di layangkan ke tiga sahabatnya tidak ada yang Luna jawab. Perempuan hamil itu tetap menangis dan bahkan semakin kencang. Berakali-kali menyeka air matanya kasar tanpa mau bicara sepatah kata pun, membuat ketiga orang lain di dalam mobil itu kebingungan.
“Lun ngomong dong, kita jadi bingung ini. Lo tiba-tiba nangis gitu aja, mana gue paham Lun?” desak Devi yang sudah gemas dengan bungkamnya ibu hamil satu itu.
Luna menatap satu persatu sahabatnya seraya memberikan senyum manisnya dan mengusap air mata yang membasahi pipi berisinya itu. “Gue gak apa-apa kok,” ucap Luna kemudian memalingkan wajah kearah jendela.
Jelas bukan itu jawaban yang di inginkan ketiganya, tapi mereka pun tidak mungkin memaksa, tapi nanti setelah perasaan ibu hamil itu membaik, mungkin mereka bisa bertanya lagi atau bisa saja Luna akan menceritakannya sendiri nanti.
__ADS_1