
Entah sudah berapa lama Luna dan Brian saling diam membisu, menikmati makanan masing-masing tanpa adanya lagi sebuah obrolan seru seperti sebelumnya. Luna sesekali menatap laki-laki di depannya yang lebih memilih menunduk, tidak tahu apa yang sedang laki-laki itu pikirkan saat ini, karena Luna sendiri tidak ingin mencari tahu.
“Lo datang sendiri ke sini?” Brian kembali membuka suara setelah cukup lama bungkam. Tidak dapat lagi Luna lihat wajah cerah laki-laki di depannya begitu juga dengan nada suara yang tidak seceria sebelumnya. Laki-laki itu kini terkesan dingin dan pendiam. Luna sampai tidak menyangka bahwa perubahannya bisa secepat ini.
“Gue datang ke sini sama suami dan anak gue,” jawab Luna seadanya.
“Terus mereka ke mana?”
Senyum kecil Luna berikan. “Lagi jalan-jalan.”
“Lo gak ikut?” untuk kesekian kalinya laki-laki itu melayangkan pertanyaan.
Luna menggeleng. “Gue gak kuat jalan bareng mereka, terlalu cepat. Apa lagi dalam keadaan hamil seperti sekarang ini,” jawab Luna kembali memberikan senyum kecil.
“Lo lagi hamil?” nada sedikit tinggi juga raut wajah yang mendukung keterkejutan laki-laki itu pun membuat Luna terkekeh geli dengan reaksi berlebihan dari pria di depannya itu. Heran juga sebenarnya, Brian bisa tidak menyadari bahwa Luna sedang mengandung, padahal sudah dapat terlihat dari tubuh Luna yang sedikit gemuk saat ini.
“Saking senangnya ketemu lo lagi, sampai buat gue gak sadar dan melihat perubahan lo. Sorry, Lun," sesalnya sekaligus merutuki dirinya sendiri. Luna hanya memberikan senyuman tipis dan mengangguk untuk memaklumi.
“Gak apa-apa kalau gue duduk sama lo gini? Suami lo gak akan marah?” tanyanya was-was.
“Su…”
“Ya, jelas gue marah. Ngapain lo deketin bini gue? Cari mati lo?!”.
Luna dan Brian sama-sama menoleh pada arah suara, disana Leo berdiri dengan kantung belanjaan di tangan kanan-kirinya. Rahang laki-laki itu mengeras dan tatapan matanya menatap tajam pada Brian yang masih duduk di depan Luna. Queen lebih dulu duduk di kursi samping sang mami dan langsung menikmati kentang goreng milik Luna, mengabaikan para orang dewasa yang berada dalam ketegangan.
“Lo siapa berani deketin istri gue?” tajam Leo bertanya.
“Gue Brian, teman kuliah istri lo dan Pandu dulu. Lo gak ingat gue? Kita sekelas kok saat itu dan lagi gue juga kadang suka gabung sama kalian,” ucap Brian memperkenalkan diri sekaligus mengingatkan laki-laki yang menjadi suami dari wanita pujaannya dulu, mungkin hingga saat ini. Tapi Brian sepertinya harus segera mundur, karena merusak rumah tangga orang bukanlah gaya Brian.
__ADS_1
“Malas gue ingat-ingat lo. Gak penting!” kata Leo dengan nada sombongnya. Luna sempat membelelakan matanya, tidak menyangka bahwa suaminya itu akan bersikap sombong seperti ini, membuat Luna merasa tak enak hati pada Brian yang sudah berbaik hati menyapa.
“Maafin Leo, ya, Bri. Dia emang suka seenanknya kalau lagi cemburu.”
“Siapa yang cemburu?” tanya Leo masih dengan tatapan tajamnya.
Luna mencebikan bibirnya. “Yakin kamu gak cemburu?”
“Dih, ngapain juga cembur. Sorry gak level!”
“Najis songong! Gue jalan sama laki-laki lain aja, baru tahu rasa lo!” ucap Luna memutar bola matanya malas.
“Silahkan. Gih pergi yang jauh sana,” ucap Leo seolah tidak perduli. Luna mendengus kesal, sedangkan Brian bingung di hadapkan dengan situasi ini. Berbeda dengan pengunjung lain yang diam-diam menonton perdebatan rumah tangga ini, menunggu dengan penasaran bahkan ada juga yang sampai mengabadikan melalui foto dan video ponsel masing-masing.
“Benar nih, nyuruh aku pergi?” tanya Luna memastika.
“Ya, kalau mau pergi, pergi aja sana!”
Luna hendak menarik tangan Brian yang masih terlihat bingung, tapi dengan cepat Leo menepiskan itu. “Berani lo pergi sama laki-laki lain, gue gak akan segan-segan kurung lo di rumah!”
“Tadi nyuruh pergi, sekarang ngancem-ngancem!” cibir Luna.
“Duduk Luna, sebelum aku patahin tangan dia!” tunjuk Leo pada Brian yang masih berada dalam posisinya semula, berdiri di antara Leo dan Luna.
“Kenapa jadi gue yang kena?” heran Brian.
“Semua ini emang salah lo, yang berani-beraninya deketin istri gue dan bikin gue emosi!”
Brian menggelengkan kepala, tidak tahu harus bagaimana lagi menjawab suami dari Luna ini. Emosi Leo yang meledak-ledak membuat Brian memilih untuk diam, dari pada meladeni dan berakhir di seret satpam, sekarang saja ia sudah malu karena menjadi tontonan pengunjung café, jadi Brian sepertinya lebih memilih untuk pamit undur diri dari pasangan suami istri itu.
__ADS_1
“Ya udah, bagus, pergi sana lo. Awas aja sampai berani deketin istri gue lagi, gue lempar lo dari atap mall ini!”
“Leo, ish, gak sopan banget sih,” tegur Luna mencubit pinggang suaminya itu. Menatap Brian tak enak hati dan meminta maaf, takut laki-laki itu tersinggung dengan ucapan Leo yang sembarangan dan terkesan tak sopan itu. Saat emosi, Leo memang suka seenaknya kalau bicara, tanpa mau peduli bahwa seseorang itu akan marah karena tersinggung.
“Ya udah, Lun, gue pamit, ya, takut juga nanti laki lo makin ngamuk.”
“Sekali lagi maafin suami gue, Bri,”
“Gak apa-apa kok, Lun gue paham. Maklum juga kalau dia cemburu.” Jawab Brian seraya tersenyum manis sebelum akhirnya melangkahkan kaki untuk pergi dari tempat itu.
Luna duduk, setelah melihat kepergian Brian hingga laki-laki itu keluar dari café ini. Di sampingnya Queen tengah asik melahap tiramisu milik Luna yang masih tersisa, bahkan kini sekitaran mulut bocah itu sudah belepotan, membuat Luna mengglengkan kepalanya dan mengambil tisu basah dari dalam tasnya, kemudian membersihkan bibir anaknya.
“Papi, pesenin Queen kentang goreng lagi dong, jangan lupa sama cumi goreng tepungnya. Ah, satu lagi, jus jeruk sama es krim juga.” Kata Queen dengan semangat.
“Banyak banget sih, sayang,”
“Queen laper, Mi, tadi keliling mall sampai bikin Queen cape. Jadi, perutnya bunyi-bunyi terus,” Queen menjawab dengan polosnya.
“Papi pesenin, tapi Queen yang bayar sendiri ya, Papi udah rugi banyak sama kamu hari ini!” dengus Leo begitu mengingat kembali uang yang dirinya keluarkan hanya untuk belanjaan Queen.
“Ya udah, gak apa-apa Queen bayar sendiri. Sini, mana uangnya?” kata Queen seraya menengadahkan tangannya pada sang papi.
Leo menaikan sebelah alisnya, menatap anaknya dan tangan mungil yang menengadah di depannya. “Ini maksudnya apa?” heran Leo.
“Papi tadi suruh Queen bayar sendiri ‘kan?” Leo mengangguk. “Ya udah, sini uangnya, biar Queen bayar sendiri,” lanjutnya lagii. Luna yang melihat wajah cengo suaminya tertawa geli.
“Tau ah, Papi gak paham,” ucap Leo yang kemudian bangkit dari duduknya.
“Papi kamu gitu kalau lagi cemburu. Otaknya jadi lemot!”
__ADS_1
“Aku masih bisa dengar ucapan kamu, sayang!” kembali Luna dan Queen tertawa.
Sudah lama, atau mungkin terbilang baru kali ini, Luna mendapati Leo yang cemburu sampai berlebihan seperti ini, karena biasanya laki-laki itu lah yang membuat Luna cemburu, mengingat ada saja perempuan yang mendekati suaminya, tapi dengan kecemburuan suaminya barusan membuat Luna sebagai wanita juga sebagai istri merasa bahagia atau mungkin bisa di katakan bangga? Ah, ya, tentu saja Luna bangga, karena dengan kecemburuan suaminya seperti tadi membuat Luna merasa begitu di cintai. Dan bukti bahwa sebagai suami, laki-laki itu tidak ingin sampai kehilangan wanitanya.