Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
54. Kemarahan Leo


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dan istirahat sejenak Luna kini melangkah menuju dapur untuk memasak, menyiapkan makan malam untuk anak dan suaminya nanti. Dengan gesit ia menyiapkan semua bahan yang akan di gunakannya hari ini, membuat sesuatu yang menjadi favorite kedua orang tersayangnya.


Luna lebih dulu mencuci beras dan langsung menanaknya, membersihkan ikan yang akan dirinya goreng, memotong sayuran juga bawang dan bahan lainnya. Luna menggerakan tanganya dengan gesit dan lincah karena memang sudah mengenal dekat dengan alat-alat dapur itu apa lagi semenjak memiliki Queen, Luna memang menjadi sering berkutat di dapur membuat apa saja untuk anak dan suaminya.


Di tengah aktivitas memasaknya terdengar suara deru mesin mobil yang sudah begitu Luna hapal, suaminya sudah pulang dan itu membuat Luna teringat akan kejutan yang akan diberikannya nanti malam tepat saat jam menunjukan pukul dua belas malam.


Tersenyum-senyum sendiri membuat Luna lupa jika saat ini dirinya masih berada di depan kompor yang menyala, dan hampir saja ikan yang tengah di gorengnya itu gosong karena terlalu lama dirinya melamun. Mengingat memang sejak kemarin ia pun mendiamkan Leo tanpa sebab yang membuat laki-laki itu uring-uringan, Luna yakin bahwa rencananya tidak akan tercium oleh Leo.


Masakannya hampir selesai ketika Leo menghampiri masih lengkap dengan kemeja kerja yang sudah kusut, jas yang di sampirkan di lengan juga tas kerja yang masih laki-laki itu jinjing dan jangan lupakan wajah lelah Leo yang sepertinya hari ini benar-benar terasa berat untuk laki-laki itu.


Satu kecupan Leo berikan di kening Luna yang membuat langkah wanita itu tertahan, meskipun tanpa kata, tapi dalam hati Luna tersenyum bahagia karena meskipun dalam keadaan mereka yang sama-sama mendiamkan, Leo tidak pernah lupa untuk mengecup keningnya saat berangkat maupun pulang kerja.


“Queen mana?” tanya Leo begitu Luna sudah kembali bisa melanjutkan langkah menuju meja makan untuk menyimpan satu-persatu makanan yang sudah di masaknya.


“Kamar.” Satu jawaban singkat itu yang Luna berikan dengan nada dingin dan tanpa menoleh sedikit pun pada Leo yang masih berdiri di tempatnya. Leo hanya mengangguk kecil kemudian pergi dari sana, meninggalkan dapur juga Luna tanpa mengatakan apa-apa lagi.

__ADS_1


Ujung mata Luna mengikuti kepergian Leo yang langkahnya saja terlihat begitu lelah dengan kepala yang menunduk. Sebenarnya Luna tidak tega, ia pun tidak kuat melihat suaminya seperti itu, tapi ini ia lakukan bukan dengan sengaja, Luna mendiamkannya bukan tanpa sebab, ini demi kelangsungan rencananya untuk memberikan kejutan pada laki-laki yang hamir 7 tahun ini menjadi suaminya.


“Luna!”


Suara teriakan Leo dapat Luna dengar dengan jelas, tapi tetap dirinya tidak menghiraukan itu dan memilih untuk melanjutkan menghidangkan hasil karya masakannya. Ingat ia masih menjalankan aktingnya! Jadi, saat panggilan bernada teriakan itu kembali terdengar masih tidak ia hiraukan. Luna nyatanya masih anteng dan tenang di dapur, mencuci perabotan yang habis dirinya gunakan.


“Luna, apa kamu tidak mendengar aku sejak tadi manggil kamu?” tanya Leo yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya, membuat Luna terkejut dengan itu di tambah dengan wajah keras Leo dan aura tidak menggenakan dari suaminya itu, dan jangan lupakan nada suara laki-laki itu yang tidak seperti biasanya.


“Apa-apan sih kamu, hah! Pake teriak-teriak segala, ini rumah Le, bukan hutan!” kesal Luna menatap tajam suaminya.


“Makanya kalau suami manggil itu samperin, setidaknya nyaut bukan pura-pura budek!” tajam Leo berkata dengan wajah keras juga memerah. “Sejak kapan Queen sakit?” Luna mengerutkan kening, tidak paham dengan kalimat terakhir suaminya.


“Sekali lagi aku tanya, LUNA SEJAK KAPAN ANAK AKU SAKIT!!!”


“Aku gak tahu!” jawab Luna spontan karena terlalu terkejut dengan nada suara Leo yang semakin naik di tambah dengan rahangnya yang semakin mengeras dan ekpresi wajah yang begitu menyeramkan bagi Luna.

__ADS_1


“Apa? Kamu bilang kamu gak tahu? Kamu gak tahu kalau Queen sakit?” melihat gelengan kepala Luna yang polos membuat amarah Leo semakin memuncak, tangannya sudah terkepal erat, menandakan bahwa dirinya benar-benar marah saat ini. “Lalu kamu ngapain aja seharian ini sampai gak tahu bahwa Queen sakit? Ngapain aja, hah!” geram Leo membentak.


Luna tidak mendengarkan kelanjutan ucapan bernada marah Leo, karena saat kesadarannya kembali, dengan cepat ia berlari menaiki undakan tangga untuk sampai di kamar anaknya. Luna langsung mendekat kearah ranjang Queen, dimana gadis kecil itu terbaring dengan tubuh menggigil, wajahnya merah dan keringat mengucur dari pelipis dan kening bocah itu.


Tangan Luna refleks menyentuh kening juga leher anaknya, dan betapa terkejutnya Luna saat mengetahui betapa panasnya suhu tubuh Queen saat ini. Tangan Luna di tarik kasar oleh Leo yang entah sejak kapan datang, menyingkirkan Luna dari tempatnya duduk. Leo segera mengangkat tubuh tak berdaya Queen yang terus bergumam tak jelas dalam tidurnya, sedangkan Luna masih dalam keadaan terkejutnya atas sikaf kasar Leo yang baru kali ini dirinya lihat dan dapatkan.


“Kamu boleh kesal kepadaku, kamu boleh marah sekeras apapun itu padaku, kamu boleh mendiamkan dan mengabaikan aku, aku menerimanya Lun, walau aku sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan kamu seperti itu, tapi tolong, jangan abaikan anakku juga!”


Setelah mengucapkan itu Leo pergi, keluar dari kamar Queen, Luna tersadar setelah beberapa detik terdiam akibat keterkejutannya dan langsung berlari menyusul Leo yang baru saja sampai di undakan tangga.


“Kamu mau kemana Le?” teriak Luna yang masih mengejar Leo yang tidak menghiraukan panggilannya.


“Leo, kamu bawa anak aku kemana, Le?!”


Tangan Luna yang berhasil meraih Leo nyatanya laki-laki itu hentakan dengan kasar, membuat Luna terjerembab jatuh terduduk di lantai, sedangkan Leo yang amarahnya masih memuncak tidak sama sekali menghiraukan ringisan Luna, terus membawa Queen dalam gendongannya menuju luar rumah, tidak perduli walau Luna terus memanggil dan meminta untuk ikut.

__ADS_1


Berusaha untuk berdiri walau rasa sakit itu menyertai Luna berjalan tertatih menuju luar, berharap bahwa suaminya bersedia menunggu, tapi sayang harapan Luna hanyalah sebuah angan, dan kekecewaan terpaksa ia telan begitu mobil milik Leo melaju meninggalkan pekarangan rumah.


Luna menangis di teras depan, tubuhnya luruh dan terduduk di dinginnya lantai marmer dan tak lama ringisan kembali Luna keluarkan kala rasa sakit itu kembali menyerang, rasa sakit yang begitu amat sangat dirinya rasakan sampai pandangannya kabur dan keadaan sepenuhnya menggelap.


__ADS_2