
Sari yang sadar akan adanya seseorang masuk langsung terbangun, duduk si sofa yang menjadi tempat tidurnya tadi dan menengok kearah brangkar Luna, disana menantunya duduk dengan kepala menunduk dan bahu bergetar. Penasaran, Sari berjalan menghampiri menantunya itu, menepuk pelan bahu Leo membuat laki-laki itu refleks menoleh.
“Kamu kenapa, Le?”
“Mama, bagaimana keadaan Luna? Apa yang di katakan dokter? Kandungannya?” bertubi-tubi Leo melayangkan tanya dengan nada khawatir yang jelas dapat indra Sari tangkap.
“Ngobrolnya di luar saja, yuk, kasihan Luna, dia baru saja terlelap.” Lembut Sari berucap seraya melangkah keluar dari kamar rawat Luna dan duduk di kursi tunggu yang sepi karena hari yang memang sudah begitu malam.
“Queen mana?”
“Queen sudah tidur, Ma tadi setelah dokter memberikan obat,”
Jawaban Leo tersebut nyatanya membuat Sari terkejut. “Queen sakit?”
Leo mengangguk. “Queen juga ada di rumah sakit ini, Ma di ruang anak no 12.”
“Sakit apa? Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Sari dengan khawatir.
“Sudah cukup baik, Ma.”
Sari menghela napas lega mendengar itu, tapi tetap rasa penasaran mengenai masalah yang menimpa anak menantunya membuat Sari mengeluarkan tanya mengenai masalah apa yang sedang terjadi di antara Luna dan Leo, sampai akhirnya laki-laki itu membuka suara dan menjelaskan semuanya.
__ADS_1
“Maafin Leo, Ma maaf karena Leo sudah membentak Luna, maaf karena Leo sudah menyakiti hati dan fisik Luna hingga membuat anak Mama berada di rumah sakit saat ini, maaf sudah menjadi suami yang tidak baik untuk anak Mama,” ucap Leo sembari terisak penuh penyesalan.
“Jadi kamu belum tahu bahwa istri kamu sedang hamil?” satu gelengan Leo berikan. “Lalu kamu tahu dari mana kalau Luna berada di sini?”
“Tadi Leo pulang untuk menjemput Luna sekaligus membersihkan diri, tapi Mama tahu sendiri aku tidak menemukan Luna di rumah, ponsel aku mati dan berniat mencari charger sampai akhirnya aku menemukan surat dan alat tes kehamilan itu. Aku menyesal, Ma aku menyesal sudah berlaku kasar padanya, aku yakin dia pasti kecewa dan marah pada Leo.”
Sari cukup paham saat ini dengan apa yang terjadi diantara anak-anaknya. Sari tahu disini Leo salah karena sudah berlaku kasar pada Luna, tapi sari pun tidak bisa sepenuhnya menyalahkan menantunya itu bagaimana pun sebagai orang tua Sari tahu pasti bagaimana paniknya ketika tahu bahwa sang anak sakit, di tambah dengan keadaan yang sedang lelah. Sari mengerti dengan keadaan Leo saat itu, tapi ia juga tidak bisa membenarkan akan sikap laki-laki itu juga karena bagaimana pun hati perempuan itu akan terluka saat mendapat bentakan dari suaminya apa lagi dalam keadaan hamil yang sudah jelas perasaannya begitu sensitive.
“Sekarang bagaimana keadaan Luna, Ma, apa yang dokter katakana?”
“Istri kamu baik-baik saja, tapi … kandungannya saat ini begitu lemah membuat dokter mengharuskan Luna untuk istirahat di sini beberapa hari kedepan sampai keadaannya kembali membaik.”
Penjelasan singkat yang Sari berikan membuat Leo semakin tertunduk, merasa bersalah. Dalam hati ia merutuki dan memaki dirinya sendiri atas kebodohan yang sudah dirinya perbuat, kini ia yakin bahwa Luna akan sangat membencinya.
“Sejak tadi dia tidak bicara apa-apa, Le, hanya menangis hingga akhirnya tertidur. Tadi memang sempat bangun, mengatakan bahwa dia harus menemui Queen, tapi suster mencegah karena Luna yang memang harus benar-benar istirahat.”
Satu lagi pukulan tak kasat mata itu mengenai tepat di hati Leo, membuat penyesalannya semakin bertambah dan menumpuk sampai dirinya sendiri pun enggan untuk memaafkan kebodohannya sendiri.
“Kamu kembali ke kamar Queen aja, ya, Nak, jaga anak kamu, biar Mama yang akan menjaga Luna. Orang tua mu pagi nanti akan datang, biar kita bisa gentian jaga mereka.”
“Leo mau lihat Luna dulu bentar Ma,” Sari mengangguk, mempersilahkan menantunya untuk menemui Luna di kamar rawatnya.
__ADS_1
Melangkah pelan berusaha tidak membuat suara agar tidak mengganggu tidur istrinya Leo mendekat dan duduk di kursi sebelah ranjang rawat Luna, mengambil tangan istrinya yang bebas dari selang infus itu lalu mengecupnya pelan, air mata kembali menetes dan Leo benci pada dirinya yang selalu menjadi cengeng jika itu berhubungan dengan Luna.
“Maafin aku, Yang, maaf sudah menyakiti kamu, melukai perasaan kamu, dan maaf membuat bayi kita celaka. Maafkan kebodohan ku, maafkan sikap kasarku, dan maafkan segala kesalahanku, aku menyesal Lun, tolong jangan benci aku untuk semua yang aku perbuat hari ini dan mungkin juga hari-hari sebelumnya,” Lagi Leo mengecup tangan mungil Luna cukup lama, kemudian menyeka air matanya.
“Aku kembali ke kamar Queen ya, sayang, janji besok aku kembali. Dan aku berharap kamu tidak membenciku,” mengecup kening Luna singkat kini Leo beralih menatap perut Luna yang masih rata, lalu tangannya terulur mengelus lembut permukaan yang tertutup selimut itu. “Baby yang kuat ya, sayang, maafin Papi yang sudah menyakiti Mami kamu, juga kamu. Maafin kesalahan Papi, Nak dan Papi mohon jangan benci Papi kamu yang brengsek ini.” Satu kecupan Leo berikan pada perut Luna sebelum akhirnya keluar dari kamar rawat istrinya itu untuk kembali menemani anaknya yang sudah cukup lama dirinya tinggalkan.
Pamit pada Sari lebih dulu Leo kemudian melangkah cepat menuju ke ruangan anaknya, tidak enak juga dirinya pada Amel dan Dimas yang berada di sana menunggui Queen padahal kedua orang itu juga berada dalam keadaan lelah apa lagi Meldi, anaknya juga ikut, pasti akan tidak nyaman untuk dia yang baru saja berusia dua tahun.
“Sorry Mel, Dim gue kelamaan,” ucap Leo begitu sampai di kamar rawat anaknya, dan kedua orang yang tadi di minta menjaga Queen masih terjaga di sofa sana, dengan Meldi yang berada di pangkuan Dimas dan terlelap disana.
“Loh, kok, malah makin kacau gini? Bukannya tadi lo bilang mau jemput Luna sekalian mandi?” heran Dimas bertanya.
“Tadi gue emang pulang, tapi belum sempat mandi karena nyari Luna yang ternyata ada di rumah sakit ini juga,” Leo menjelaskan singkat seraya menyandarkan punggung lelahnya pada sandaran kursi yang ada di samping brangkar anaknya.
“Maksud lo, Luna sakit juga?” tanya Amel yang jelas masih tidak paham.
“Istri gue hampir keguguran, dan sekarang harus istirahat total untuk kembali pulih.”
“Luna hamil?” serempak sepasang suami istri itu bertanya dengan nada terkejut.
Leo mengangguk. “Dan dengan bodohnya gue hampir aja buat dia celaka. Luna hampir keguguran gara-gara gue dorong sampai dia jatuh, gue bahkan tadi sempat bentak-bentak dia. Begitu tahu Queen sakit, gue benar-benar panik sampai akhirnya lepas kendali dan marah-marah pada Luna dan berakhir dengan dia masuk rumah sakit, akibat ketololan gue sendiri, gue hampir aja kehilangan bayi gue.”
__ADS_1
Nyatanya kesedihan yang Leo rasakan sampai kepada Dimas dan Amel yang mendengar cerita laki-laki itu juga keadaan kacau sahabatnya yang membuktikan bahwa Leo benar-benar terpukul dengan kejadian yang menimpanya ini.
“Gue paham ke khawatiran lo, Le, tapi seharusnya lo bisa mengendalikan emosi. Gue harap gak ada lain kali untuk kejadian seperti ini lagi.”