
Semalam Leo dan yang lainnya benar-banar puas menertawakan Levin yang di kerjai oleh istrinya sendiri, bagaimana tidak? Dari mulai pergi untuk membeli cumi dan langsung membakarnya setelah selesai di bersihkan, menuruti keinginan Devi yang mengotot ingin makanan itu. Tapi memang pada dasarnya niat Devi hanya mengerjai suaminya, begitu cumi selesai di panggang, Devi malah sama sekali tidak menyentuhnya, bahkan meliriknya pun tidak, membuat Levin yang sudah bersusah payah dan lelah benar-benar kesal pada sang istri yang sama sekali tidak merasa bersalah.
Paling seru memang menyaksikan adu mulut pasangan Devi dan Levin, dimana tidak ada yang pernah mau mengalah sampai suara tangis anak-anak-lah yang mampu menghentikan dan keduanya berlaku seolah tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Unik, mengesalkan dan menghibur untuk siapa saja yang menyaksikan.
Di pagi hari begitu sarapan berlangsung, nyatanya kekesalan Devin belum juga menghilang, terlihat dari raut wajahnya yang masih tak enak di lihat, cemberut dan sesekali menggerutu. Luna yang melihat pun hanya mampu menggelengkan kepala, tidak paham dengan rumah tangga sahabatnya, tapi Luna tahu meski pun sering berdebat dan saling mengerjai atau membuli mereka tetap suami istri yang saling menyayangi dan mencintai.
Perdebatan hanya mereka jadikan sebagai hiburan, pemanis dalam rumah tangga mereka karena tidak semua pasangan suami istri di jalani dengan kemanisan dan keromantisan. Setiap pasangan punya caranya masing-masing dalam membentuk sebuah keharmonisan rumah tangga, sama seperti halnya dengan rumah tangga dirinya juga sahabat-sahabatnya yang lain.
“Aunty Dev, dede bayinya boleh di bawa ke rumah Queen gak?” tanya polos Queen saat hendak pamit untuk pulang.
“Gak bisa, sayang, dede bayinya masih sangat kecil, dan lagi kalau nginap, nanti kalau dede bayinya haus gimana? Lain kali aja, ya,” ucap Devi dengan lembut agar Queen bisa memahami. Walau cemberut, Queen tetap mengangguk.
“Dede, Kak Queen pulang dulu ya,” mengecup pipi kedua bayi mungil itu secara bergantian, Queen kemudian melangkah mengikuti kedua orang tuanya, sesekali menolah ke belakang dengan tatapan tak rela.
Leo melajukan mobilnya, meninggalkan pekarangan rumah Levin-Devin, menyusul yang lainnya yang sudah lebih dulu pergi. Queen masih menoleh ke arah belakang sampai mobil yang Leo kendarai melaju melewati gerbang rumah besar itu.
“Lain kali kita nginap di rumah adek kembar lagi, ya, Queen jangan sedih, nanti cantiknya ilang, loh." Bujuk Luna.
“Sebentar lagi juga, kan, Queen punya adik bayi. Jadi, jangan sedih dong, nanti adik bayi dalam perutnya Mami ikutan sedih. Queen mau nanti Maminya kesakitan lagi?”
Queen dengan cepat menggeleng begitu sang papi berkata seperti itu, lalu memeluk perut buncit maminya. Queen berkali-kali melayangkan kecupan di perut Luna yang sedikit buncit itu dan mengajak ngobrol, mengatakan, bahwa adik bayinya harus sehat dan tidak membuat sang mami kesakitan. Leo dan Luna tersenyum mendengar dan melihat anak pertamanya yang sejak dini sudah menyayangi calon adiknya.
__ADS_1
Leo nyatanya tidak langsung mengajak anak juga istrinya pulang ke rumah, melainkan lebih dulu mampir ke mall. Leo, membukakan pintu penumpang dan meminta anak juga istrinya untuk turun. Luna menatap sang suami dengan kening berkerut, sedangkan Queen sudah terlonjak kegirangan dan menarik-narik tangan Leo untuk segera masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu.
“Bukannya kita mau pulang, Le? Kenapa jadi ke sini?” tanya Luna yang masih heran, tapi tetap mengikuti langkah suami dan anaknya.
“Kita main dulu. Lagian udah lama juga kan, kita gak main bareng? Besok aku pasti kembali sibuk di kantor, dan itu artinya waktu untuk kalian akan semakin sedikit. Jadi, selagi ada waktu luang, kenapa kita tidak menghabiskan waktu bersama?” ucap Leo dengan senyum lembutnya. Luna mengangguk, membenarkan ucapan sang suami.
Entah berapa lama Leo tidak masuk kantor, karena ngidamnya juga keadaan Luna, jadi, dapat di pastikan bahwa pekerjaannya sudah pasti menumpuk saat ini dan Luna harus bisa mengerti dengan kesibukan suaminya itu.
Queen yang berjalan lebih dulu menarik tangan Leo, hingga membuat laki-laki dewasa itu harus meninggalkan istrinya yang jalan lebih lambat. Hanya bisa menggelengkan kepala melihat keantusiasan anak pertamanya itu yang memang selalu senang di ajak ke mall. Queen meskipun masih usia 5 tahun, tapi jiwa belanjanya sudah mengalahkan Ibu juga Aunty-aunty-nya, membuat Leo kadang malas membawa anaknya ke pusat perbelanjaan, karena sudah dapat dipastikan bahwa dompetnya akan kebobolan.
Luna yang sudah kehilangan jejak anak dan suaminya memilih untuk masuk ke salah satu café yang ada di dalam mall ini, memesan cemilan juga minuman untuk menemaninya menunggu Leo dan Queen.
Sengaja, Luna duduk dekat kaca café ini, agar Leo dan anaknya bisa melihat keberadaannya, walau pun Luna sudah mengirimkan pesan pada sang suami untuk mengatakan dimana dirinya berada.
“Luna?”
Luna yang merasa namanya di panggil, menghentikan kegiatannya yang tengah memakan roti bakarnya itu dan mendongak, melihat siapa orang yang menyapanya. Kening Luna mengerut, melihat sosok laki-laki tinggi dan tampan di depannya.
“Lo, Luna kan?” tanya laki-laki itu yang kemudian Luna angguki pelan.
“Lo gak kenal gue?” tanyanya lagi dan kali ini Luna menggelengkan kepala. Kerutan di keningnya pun masih nampak, membuktikan bahwa perempuan hamil itu tidak mengenali siapa laki-laki yang berada di depannya.
__ADS_1
“Gue Brian, teman Pandu saat kuliah dulu,” ucapnya mengingatkan.
Luna masih tidak mengubah posisi dan raut wajahnya, sampai beberapa detik kemudian…
“Iya-iya gue ingat, Brian yang waktu itu selalu ikut kumpul bareng gue, Devi, Lyra dan Pandu itu !kan?” laki-laki itu mengangguk, membenarkan tebakan Luna.
“Boleh gue duduk disini?” tanyanya dengan senyum tampan yang sejak tadi terukir. Luna tidak punya alasan untuk menolak, karena disini pun dia sendiri dan akan sangat membosankan jika tetap sendiri, tanpa adanya teman mengobrol. Lagi pula seingat Luna, Leo pun mengenal laki-laki bernama Brian ini, jadi, tidak akan malasah. Mungkin.
Setelah lama tidak bertemu, ternyata banyak berubah dari seorang Brian yang dulu selalu mengintili Pandu saat makan siang bersama istrinya. Brian, Pandu dan temannya satu lagi itu memang tidak bisa di bilang teman dekat, karena yang Luna tahu bahwa laki-laki itu dan satu lagi temannya, yang Luna lupa namanya itu memang hanya dekat sekedar di kampus atau sekali-kali datang ke rumah Pandu, itu pun hanya untuk mengerjakan tugas. Selebihnya Luna tidak tahu menahu apa lagi semenjak menikah dengan Leo, dimana suaminya itu selalu menjauhkan laki-laki yang mencoba mendekatinya saat kuliah dulu.
Mengobrol dan saling bertukar kabar setelah lama tidak berjumpa, nyatanya cukup menyenangkan dan membuat Luna jadi tidak merasa kesepian di tinggal suami dan anaknya yang entah sedang ada di mana saat ini. Brian cukup menyenangkan, dan tahu bagaimana cara mencairkan suasana yang semula terasa kaku.
“Lo kerja dimana?” tanya Brian.
Luna terkekeh kecil, kemudian menggeleng. “Gue gak kerja, diam aja di rumah, gurus anak sama suami.”
“Lo udah nikah?” raut terkejut Brian sama sekali tidak bisa di sembunyikan.
“Dari kuliah gue udah nikah, lo lupa? Perasaan kalau gak salah gue undang deh,”ucap Luna coba mengingat.
“Oh, ya?” tanya Brian yang suaranya kini mulai melemah, tidak lagi semangat seperti sebelumnya. Luna memang menyadari perubahan itu, tapi Luna memilih untuk pura-pura tak sadar.
__ADS_1
“Ah, ternyata gue salah selama ini, karena masih ngarepin lo. Kenapa juga gue bisa lupa soal status lo yang udah jadi istri orang,” ucap Brian dengan lesu, menunduk setelah memberikan senyum tipis pada wanita di depannya. “Maaf udah lancang suka sama lo, Lun.”
Luna meringis tak enak hati, tapi juga ia sama sekali tidak menyesalinya. Pertemuan tidak sengaja ini mungkin memang sudah rencana Tuhan, dimana Sang Pencipta ingin menunjukan pada pria di depan Luna agar tidak lagi berharap seperti kemarin-kemarin, karena kenyataannya sang pujaan hati sudah di miliki orang lain.