Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
22. Kekesalan Luna


__ADS_3

Pagi pertama bagun di rumah baru, Luna menjadi sedikit cemas saat bangun kesiangan mengingat kini dirinya dan Leo hanya tinggal berdua, tidak ada yang memasak jadi Luna langsung bergegas saat tahu bahwa jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, pasalnya hari ini Leo mulai masuk kuliah dan dirinya pun memiliki kelas pagi.


Selesai mandi dan membangunkan suaminya, Luna turun ke dapur, memasak nasi goreng untuk sarapan pagi ini, mengingat tidak lagi banyak waktu untuk dirinya menyiapkan menu lain karena waktu yang sudah mepet. Tak lama Leo turun bertepatan dengan Luna yang menyelesaikan masakannya.


“Maaf ya, aku cuma bikin nasi goreng, gak keburu soalnya, ini juga untung masih ada nasi,” ucap Luna tak enak hati.


“Gak apa-apa sayang, ini aja udah cukup kok buat aku asal makannya di temani kamu,” Leo duduk di kursinya setelah melayangkan kecupan singkat pada kening sang istri.


“Ini masih pagi, Le please deh jangan ngegombal dulu,” gemas Luna seraya memberikan piring berisi nasi goreng sederhananya.


“Gak apa-apa dong, kan sebagai teman sarapan biar makin enak,” balas Leo. Luna mendengus kecil melahap makanannya tanpa membalas ucapan Leo. Karena laki-laki itu jika di ladeni maka akan semakin menjadi, maka dari itu Luna memilih untuk diam dan makan.


Selesai menghabiskan sarapannya Leo dan Luna langsung berangkat ke kampus karena Luna yang memang sudah hampir terlambat. Bahkan saat sampai di parkiran fakultasnya pun Luna dengan cepat keluar dari mobil setelah mencium punggung tangan suaminya, kegiatan itu baru ia mulai sejak hari ini sebagai rasa hormatnya kepada Leo, laki-laki yang menjadi suaminya dua minggu ini.


Leo yang melihat kepergian istrinya yang begitu terburu-buru hanya menggelengkan kepala kemudian keluar dari dalam mobil, bertepatan dengan mobil Pandu yang baru saja masuk ke pelataran parkir dan di parkir tepat di sebelah mobil miliknya.


“Baru nyampe juga lo, Le?” Pandu bertanya saat baru saja keluar dari mobilnya. Laki-laki tinggi itu mengangguk lalu berjalan menghampiri sang sahabat untuk berjalan bersama menuju kelas.

__ADS_1


Banyak orang yang memandang Leo juga Pandu yang berjalan bersama sambil mengobrol. Mungkin Pandu memang sudah di kenal, tapi memang tidak memerlukan waktu lama juga untuk membuat Leo menjadi populer karena baru masuk pun sudah banyak pasang mata yang menatap kagum juga bertanya-tanya. Tidak sedikit juga bisik-bisik perempuan yang terang-terangan mengatakan bahwa Leo tampan.


“Pesona gue emang kuat, sampai-sampai semua mata perempuan natap gue seolah gue adalah makanan, ck.” Leo berucap pelan.s


Sesekali laki-laki itu melayangkan senyum ramah pada siapa saja yang memeberinya senyuman.


“Ingat Le, lo udah punya bini. Sekampus pula. Jangan sampai lo bikin dia kecewa apa lagi sampai lo khianatin. Gue dulu pernah melakukan itu dan jujur gue sangat menyesal.”


Leo langsung menoleh pada sahabatnya, dan melihat gurat penyesalan di kedua mata Pandu. “Lo tenang aja, *** gue janji gak akan seberengsek lo dulu.”


Pukul sebelas Luna baru saja menyelesaikan kelasnya. Seperti biasa bersama Devi dirinya keluar belakangan saat kelas sudah sepi tapi tidak dengan hari ini karena Devi yang terus merengek meminta di temani ke toilet membuat Luna terpaksa bangkit dari duduknya dan mengikuti Devi yang berjalan cepat di depannya.


Sepanjang jalan menuju toilet telinga Luna begitu panas saat mendengar hampir semua orang yang ada di koridor membicarakan murid baru jurusan bisnis yang sudah dapat Luna tebak bahwa yang mereka bicarakan adalah suaminya.


Dalam hati ia terus menggerutu dan menyumpah serapahi Leo yang memang sudah sangat ia hapal bagaimana tingkahnya sejak SMA dulu. Laki-laki itu terlalu easy going, mungkin jika dulu ia masa bodo dengah sikaf laki-laki itu, tapi tidak untuk sekarang karena kini sudah jelas bahwa laki-laki itu miliknya dan tidak boleh ada siapa pun yang menyentuh miliknya.


“Kenapa muka lo kusut gitu Lun?”

__ADS_1


“Ck, lo gak dengar sepanjang koridor pada ngomongin laki gue? Mana mereka pada bilang kalau senyum dia manis lagi!” Devi yang mendengar gerutuan sahabatnya itu pun tertawa geli, baru tahu bahwa Luna bisa sekesal ini hanya karena Leo menjadi bahan pembicaraan orang.


“Lah senyum Si Leo kan emang manis, Lun jadi apa yang salah coba?”


“Ish lo itu gak ngerti …”


“Kalau lo cemburu?” tebak Devi cepat memotong ucapan Luna. Perempuan cantik itu diam, dan sudah dapat Devi pastikan bahwa tebakannya benar.


Devi dan Luna berjalan meninggalkan toilet berniat untuk ke kantin. Namun langkah Luna tiba-tiba terhenti saat beberapa meter di depannya ia melihat Pandu dan Leo, tapi fokusnya lebih kepada perempuan yang berdiri berhadapan dengan Leo dengan tangan terulur yang di balas oleh laki-laki tinggi itu. Ok, Luna tahu bahwa suamnya itu tampan dan banyak kemungkinan bahwa banyak perempuan yang terpesona dan mengajaknya untuk kenalan, tapi Luna tidak suka saat suaminya itu memberi senyum pada mereka.


Tatapan Luna begitu tajam melihat pemandangan di depannya, tangannya pun sudah mengepal dan wajahnya memerah. Luna tahu bahwa Pandu melihatnya dan langsung menyenggol Leo seakan memberi tahu laki-laki tinggi itu tentang keberadaan Luna terlihat jelas bahwa Leo langsung menatap kearahnya dan melepaskan pagutan tangannya dengan perempuan itu.


Luna menghentakan kakinya, menarik tangan Devi dan langsung pergi dari sana, tidak perduli dengan ringisan Devi yang kesakitan akibat cengkraman juga tarikan kuat Luna.


“Lepas, Lun tangan gue sakit ini.”


Luna menghentak kasar tangan Devi kemudian duduk di kursi kantin dengan wajah yang benar-benar tidak enak di lihat. Devi ikut duduk sambil mengusap-usap tangannya yang memerah dalam hati ia menyumpah serapahi Luna, dan hatinya bertekad akan melayangkan pukulan nanti jika bertemu dengan Leo, karena gara-gara laki-laki itu dirinya menjadi korban keganasan istri yang cemburu.

__ADS_1


__ADS_2