
“Memang deh orang kaya gak pernah puas. Pekerjaan dokter, punya orang tua dan mertua kaya raya, usaha di mana-mana, punya laki kerja yang gajinya selangit masih aja usaha café kayak gini,” ucap Devi menggeleng-gelengkan kepala takjub juga tak habis pikir.
“Lo terlalu berlebihan tahu gak Dev, yang kaya kan orang tua kita, gue sama Dimas belum punya apa-apa.” Jawab Amel merendah.
“Oh iya, kalau lo kerja di rumah sakit ini café siapa yang kelalo? Gak mungkin kan lo tinggalin gitu aja?” tanya Lyra menatap sekeliling café yang cukup ramai ini.
“Ada Damar yang akan kelola café gue. Lagian adik ipar gue itu memang satu pemikiran dalam bidang ini jadi, gue percayakan sama dia, selain itu juga karena Damar gak mau kerja di perusahaan Bapaknya.” Ucap Amel menjelaskan.
“Damar?” tanya Lyra mengernyitkan kening merasa pernah mendengar nama itu.
“Adik Dimas, masa lo lupa,” Amel menggelengkan kepala seraya berdecak kecil.
“Damar-Damar- Damar? Ck. yang dulu pernah bilang kalau gue bukan tipenya?” dengan cepat Amel menganggukan kepala, membenarkan ucapan temannya itu.
Ketiganya asik mengobrol di lantai atas café milik Amel yang di lantai ini terlihat seperti ruang yang lebih privat, sedangkan Luna sendiri hanya terdiam, duduk memandang kosong arah depan tanpa berniat melibatkan diri pada obrolan ketiga temannya dan Rapa tertidur di pangkuan Devi.
Lyra menoleh kesampingnya saat disadari bahwa sahabatnya satu itu hanya melamun. Menepuk pelan punggung tangan Luna, Lyra kemudian berucap, “kalau ada sesuatu yang mengganjal pikiran lo, lebih baik di ceritakan jangan lo pendam sendiri Lun. Kita disini siap mendengar apapun keluh kesah lo. Ingat ibu hamil gak boleh setres.”
__ADS_1
Amel dan Devi ikut menoleh pada dan menatap Luna yang kini mengangguk dengan air mata yang kembali menetes. Amel berdiri, berjalan mendekat kemudian merengkuh tubuh sahabatnya itu kedalam pelukan.
“Cerita Lun, lo kenapa?” Lembut Amel berucap, ia cukup tahu bagaimana Luna. Perempuan itu memang cukup tertutup apa lagi mengenai perasaannya jika Devi bisa memahami perasaan Lyra begitu juga sebaliknya. Disini Amel yang mengerti bagaimana Luna karena memang mereka berteman lebih awal dan jarak rumah mereka dulu begitu dekat. Jadi, setidaknya Amel tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran sahabatnya ini, walaupun ia tidak tahu jelas sebabnya.
“Saat di lampu merah tadi gue lihat mobil Leo, kebetulan saat itu kaca mobilnya terbuka dan gue lihat ada perempuan di dalam sana. Gu... hiks… gue gak tahu perempuan itu siapa, apa lagi gue lihat tangan Leo sempat ngelus rambut perempuan itu dan tertawa akrab banget …”
“Oke stop. Gue paham sekarang.” Potong Lyra cepat dan langsung mengambil ponsel dalam tasnya mencari satu nomor yang niat dirinya hubungi. Luna masih menangis dalam pelukan Amel yang mengelus lembut kepalanya untuk menenangkan.
“Kamu dimana, Yang?” tanya Lyra saat sambungan teleponnya di angkat. “Lagi makan siang?” lagi Lyra bertanya saat seseorang di sebrang sana entah menjawab apa.
“Dimana? Sama Leo?” nama suaminya di sebut membuat Luna menoleh pada sahabatnya itu, menaikan sebelah alisnya seolah bertanya, sedangkan Lyra sendiri hanya tersenyum. “Ya udah, selamat makan siang sayang, telponnya aku tutup ya. Ingat jangan pulang telat,” pesan Lyra kemudian memutuskan sambungan telponnya.
“Kemana?” tanya ketiga perempuan itu bersamaan.
“Udah jangan banyak tanya, lebih baik ikut dulu aja,” ucap Lyra seraya bangkit dari duduknya. Luna yang sebenarnya malas pun terpaksa bangkit, meskipun moodnya kini kurang baik tapi ia juga cukup penasaran apa lagi di telpon tadi Lyra membawa nama suaminya.
Devi bergantian bersama Amel untuk memangku Rapa yang masih betah tertidur. Keluar dari café dan berjalan beberapa meter sebelum masuk pada resto yang memang tidak jauh berdiri dari café milik Amel. Mata Lyra mengedar sekeliling mencari keberadaan seseorang.
__ADS_1
“Itu Leo ‘kan?” Luna berucap pelan, terkesan seperti bisikan, namun karena jarak mereka yang dekat membuat ketiga perempuan itu menoleh pada arah yang Luna tatap, dan benar saja di depan sana duduk dua orang yang tengah mengobrol juga tertawa.
Luna hendak pergi, tapi tangannya di tahan oleh Amel. “Kita samperin suami lo.”
Luna menggelengkan kepalanya menolak, tapi Amel Lyra dan juga Devi tetap berusaha menahan. Air mata Luna sudah mengalir dengan deras, terus meronta agar ketiga sahabatnya itu melepaskan cengkramannya, karena saat ini yang ingin Luna lakukan hanya lah pergi dari tempat ini. Ia tidak ingin dulu menemui suaminya, ia belum siap.
“Aaarrhhh, Luna!” pekik ketiga perempuan itu berbarenga, terkejut.
“Luna, Lun bangun! Kenapa malah pingsan sekarang coba? Kita mau neglabrak suami lo, lo malah pingsan gimana ceritanya?” gerutu Lyra berusaha kuat menahan tubuh Luna agar tidak terjatuh ke lantai dengan bantuan Devi.
Semua pengunjung resto menoleh dan menatap bingung kearah mereka, sedangkan Luna sendiri sudah tidak sadarkan diri. Beruntung Devi dan Lyra sigap menahan tubuh Luna yang tengah hamil dan jujur saja ini berat.
“Leo woy bantuin kita, bini lo pingsan ini!” teriak Amel keras sampai si empu nama yang semula terbengong layaknya orang bodoh dengan cepat menghampiri dan langsung terkejut saat dilihatnya tubuh Luna terkulai dengan Lyra dan Devi yang mencoba menahan tubuh itu agar tidak benar-benar ambruk ke lantai.
Bukan hanya Leo saja ternyata yang menghampiri, tapi juga wanita yang tadi duduk bersama laki-laki itu pun ikut menghampiri di susul Pandu dari belakang yang langsung membantu Leo mengangkat tubuh Luna keluar dari resto dan memasukannya pada mobil milik Pandu.
Lyra jelas ikut naik pada mobil suaminya begitu juga Leo yang berada di samping Luna yang masih tidak sadarkan diri sedangkan Amel dan lainnya entah kemana karena saking paniknya Lyra bahkan sampai lupa pada anaknya sendiri yang masih berada bersama Amel.
__ADS_1
“Sayang bangun, kamu kenapa bisa pingsan gini sih?” kata Leo seraya mengelus dan mencium kening istrinya.