Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
42. Toko Perlengkapan Bayi


__ADS_3

Di sabtu siang ini rencana berbelanja untuk kebutuhan bayi Luna-Leo nanti nyatanya tidak untuk sekedar acara belanja calon orang tua muda baru dan calon kakek neneknya yang antusias untuk menyambut cucu pertama di keluarga mereka saja, kerena sahabat Luna-Leo pun ikut serta meramaikan mall besar yang terletak di tengah kota itu. Bahkan Amel yang sibuk dengan koas nya saja memilih ikut bersama sang suami.


Lyra yang tadinya tidak akan ikut karena merasa pakaian bayi bekas Rapa dulu pun masih ada dan bagus bahkan masih banyak yang tidak terpakai, tapi mendengar Devi, Levin, Amel dan Dimas ikut membuat pasangan menuju dua anak itu memutuskan untuk ikut juga. Toh kapan lagi mereka bisa jalan-jalan dengan pormasi lengkap di status yang kini sudah menikah semua.


Rapa bahkan terlihat begitu bahagia dan aktif menjelajahi mall yang cukup ramai ini membuat Pandu harus ektra menjaga anak pertamanya itu yang sudah mulai ingin jalan sendiri. Meskipun usianya masih 1,5 tahun, tapi Rapa sudah lancar berjalan bahkan berlari, sampai kadang Lyra sendiri kewalahan apa lagi dalam keadaan perut besarnya.


Sesampainya di toko khusus keperluan bayi mereka semua masuk tanpa terkecuali.


Bahkan Leo sudah berada di tengah-tengah ruangan yang di penuhi dengan berbagai macam kebutuhan bayi, mulai dari baju, jaket, kaos kaki, topi, celana, sampai tempat tidur bayi. Toko yang mereka datangi adalah toko paling lengkap di mall ini.


“Yang, lihat, bagus ‘kan?” kata Leo sembari memperlihatkan gaun mungil berwarna Pink.


“Papi Leo, belinya yang memang di butuhkan ya,” ucap Luna meraih pakaian anak perempuan itu dan kembali meletakan di tempat asalnya.


“Tapi kan itu juga pasti di butuhkan, Yang,”


“Iya, tapi masalahnya itu pakaian untuk anak usia satu tahun, Le, sedangkan kita butuhnya untuk anak baru lahir,” jelas Luna dengan lembut dan menggandeng suaminya menuju arah lain yang memang khusus untuk bayi baru lahir. Disana Melinda dan Sari sudah memilih dengan antusias bahkan keranjang belanjaan mereka berdua sudah hampir penuh.


Mata Luna terbelalak, mulutnya terbuka sedikit dan kepalanya menggeleng pelan. “Mama sama Bunda mau beli untuk bayi satu RT?” tanya Luna saat dirinya sudah berdiri di samping kedua wanita yang tidak lagi muda itu.


“Abis lucu-lucu sih, Lun bikin Bunda pusing milihnya jadi, ya udah, kita ambil aja semua,” jawab Melinda yang sama sekali tidak mengalihkan tatapan dari tumpukan pakaian-pakaian mungil itu.


“Benar loh, Yang, susah milihnya. Kita beli semua aja deh ya?” Leo yang sudah terjun memilih dengan kedua ibu itu membenarkan ucapan sang Bunda.


“Padahal beberapa hari yang lalu Bunda sendiri yang bilang kalau pakaian bayi gak akan lama ke pake dan kita beli seperlunya aja, tapi sekarang…? Ah, tahu gitu Luna pergi belanja sendiri deh,” desah Luna pasrah.


“Lun box bayinya udah lo beli belum?” Amel yang tengah berada di bagian tempat tidur bayisedikit berteriak, membuat Luna menoleh.


Berjalan menghampiri sahabatnya, Luna pergi begitu saja dari hadapan Leo dan orang tuanya. “Belum. Kenapa emang? Lo mau beliin?” Luna bertanya saat sudah berada di samping Amel dan Dimas.

__ADS_1


Kedua orang itu mengangguk. “Pilih deh lo suka yang mana, nanti gue yang bayarin,” kata Dimas.


“Lo serius Dim?” satu anggukan serius dari Dimasa membuat mata Luna berbinar dan mulai mencarai box bayi yang menurutnya bagus.


Mata Luna tertuju pada satu box bayi berukuran cukup besar berwarna pink dengan desain yang indah bagai di negeri dongeng, Luna yang memang pecinta warna feminim itu langsung saja mendekati benda tersebut dan meminta si penjaga toko untuk mempersiapkan itu.


“Nyesel gue gak pilih sendiri kalau akhirnya lo milih yang mahal,” dengus Dimas, namun tak urung dia mengeluarkan isi dompetnya dan berjalan menuju kasir.


“Mi, Mih..” suara menggemaskan Rapa yang di barengi dengan tarikan di ujung dres yang Luna kenakan membuat ibu hamil itu menoleh dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan bocah berusia 1,5 tahun itu.


“Kenapa sayang?”


“Aju, Mi … aju ilu tuh …” ucap Rapa tak jelas. Sulit sebenarnya untul Luna pahami tapi melihan tangan bocah itu menunjuk akhirnya membuat Luna paham dan mengambilkan baju berwarna biru dengan gambar kartun kesukaan Rapa yang setiap hari bocah itu tonton.


“Rapa mau ini?” dengan lucu dan membuat siapa saja yang melihat terpekik gemas, Luna akhirnya tersenyum dan melayangkan satu kecupan di pipi gembil bocah laki-laki itu dan memasukan baju tersebut kedalam keranjang belanjaan yang di bawa oleh Leo.


Tak lama Devi dan Levin menghampiri kedua ibu hamil itu dan menunjukan seperangkat alat makan bayi yang lucu. “Lo suka gak Lun?” tanya Devi.


“Suka, mau lo beliin buat anak gue, Dev?” dengan antusias Luna bertanya. Membuat Levin mendelik sebal.


“Tadinya sih iya, tapi setelah di pikir-pikir kayaknya gak usah deh,” ucap Levin mengambil alih tempat makan bayi itu dari tangan Luna.


“Loh, loh kok gitu? Padahal gue pengen loh itu, tadi aja Dimas-Amel beliin gue box bayinya, lebih mahal dari alat makan itu,” ucap Luna cemberut.


Levin hendak menjawab, tapi kedatangan Melinda dan Sari yang di ikuti oleh kedua suami dengan keranjang belanjaan yang penuh membuat mata Levin terbelalak dan mulutnya menganga. “Tante gak salah, beli semua itu?” tanya Levin tak percaya. Kedua orang setengah baya itu mengangguk dengan senyum mengukir dibibirnya.


“Untung yang punya toko ini kalau belanjaan mereka sebanyak itu.” Gumam Levin menggeleng-gelengkan kepala.


Tak lama Leo pun menyusul dengan keranjang yang sama penuhnya menghampiri kasir bergabung dengan kedua orang tua yang tengah menyerahkan belanjaannya untuk dihitung. Saat semua belanjaan sudah di totalkan dengan tenang Leo berkata, “Mama sama Bunda yang bayar belanjaannya, ya.”

__ADS_1


“Loh kok kita?” tak terima Melinda melayangkan protes pada anak semata wayangnya itu.


“Ya kan, emang Bunda sama Mama yang belanja, jadi bayar lah,” jawab Leo masih dengan tenangnya. Membuat kedua ibu itu membelakakan matanya.


“Kamu juga kan ikut belanja, Le lagian ini semua juga buat bayi kamu nanti,” Sari buka suara.


“Ya, kan anak aku juga cucu kalian,” balas Leo menyeringai.


“Masih aja sih lo pelit, Le. Buat anak sendiri padahal. Gue sumpahin juga lo jatuh miskin,” geram Levin yang sudah bosan mendengar drama seperti ini, dimana Leo selalu saja berdebat tentang masalah pembayaran.


“Gue itu bukan pelit, Bang, tapi menghemat.” Balas Leo.


“Ya udah, sih, Yang bayar aja itu semua, salah kamu juga ikut-ikutan belanja, mana sebanyak itu lagi,” desah Luna tak habis pikir. “Cepat bayar aku lelah, lapar juga pengen makan nih,” lanjut Luna.


“Bun, Ma patungan,” pinta Leo kepada ibu dan mertuanya membuat Wisnu melayangkan geplakan di kepala belakang anaknya itu.


“Belanja segitu aja minta patungan! Cepat bayar, Ayah juga udah lapar ini,” kata Wisnu yang mulai bosan.


“Kan Ayah yang ngajarin Abang menghemat,” balas Leo menyunggingkan senyumnya. Kasir dan beberapa petugas toko memperhatikan mereka, terlihat kesal karena lama, sekaligus juga geli dengan orang-orang di depannya itu.


“Leo bayar! Atau aku cari Papi baru buat Baby?” ancam Luna.


“Ta…”


“Leo?!”


“Oke, aku bayar!” putus Leo pada akhirnya mengeluarkan dompet dan mengambil satu kartu dari dalam sana dan memberikannya pada kasir untuk menyelesaikan pembayaran belanjaan yang begitu banyak itu.


“Mimpi apa gue punya laki jiwa hematnya ngalahin orang-orang pelit.” Desah Luna berguman. Semua yang ada di sana tertawa termasuk Lukman yang sedari tadi diam memperhatikan, sedangkan Leo hanya menyengir tak berdosa.

__ADS_1


__ADS_2