
Setelah menyaksikan sendiri bagaimana Leo mengakuinya di hadapan setiap perempuan yang mencoba mendekati, kini Luna percaya bahwa suaminya itu memang benar-benar mencintainya. Luna tentu bahagia dan mungkin semua perempuan juga akan bahagia disaat suaminya dengan bangga mengenalkan pada perempuan mana saja bahwa dirimu adalah istrinyanya, perempuan yang di cintainya.
Hari libur ini, Luna dan Leo berencana untuk jalan-jalan layaknya sepasang kekasih. sebenarnya Lyra dan Pandu pun mereka ajak tapi ternyata kedua orang tua muda itu menolak dengan alasan bahwa mereka pun memiliki rencana sendiri sedangkan Devi dan Levin, pasangan gila itu sedang sibuk-sibuknya mengurus pernikahan mereka yang akan di laksanakan dua minggu lagi.
Selesai makan di café yang berada di mall kini Luna dan Leo berjalan saling bergandeng tangan menuju bioskop yang lima belas menit lagi akan buka. Lebih dulu Leo membeli cola dan popcorn untuk teman cemilan mereka selama menonton di dalam sana nanti.
Tak lama pintu bioskop terbuka satu persatu yang juga memonton tayangan yang sama dengan Luna-Leo masuk dan duduk di kursi masing-masing kursi sesuai dengan yang tertera di tiket. Luna dan Leo memilih kursi yang berada di tengah-tengah. Berhubung film horror yang mereka tonton Luna sudah antisipasi memeluk tangan Leo padahal filmnya saja belum di mulai, membuat Leo geli sendiri melihatnya.
“Kalau takut kenapa malah pilih film ini?” Leo bertanya dengan lembut.
“Dih siapa yang bilang takut coba?” kilah Luna. Leo gemas akan istrinya itu mengusak rambut Luna dan menjawil hidung mancung istrinya itu.
“Kalau gak takut terus ini apa?” tunjuk Leo pada tangan Luna yang memeluknya juga kepala Luna yang berada di balik pundaknya.
“Ya, cuma pengen peluk aja, gak boleh emang?” Leo hanya terkekeh geli, menganggukan kepala beberapa kali pura-pura untuk percaya dan membiarkan istrinya itu memeluk lengannya. Toh Leo juga nyaman dengan ini.
Selama film di putar Luna berkali-kali menjerit saat penampakan hantu muncul di iringi suara yang kencang dan terdengar menyeramkan. Wajah Luna bahkan memucat tapi perempuan itu dengan keras kepala masih saja menolak di ajak keluar. Leo lebih fokus pada Luna sebenarnya dari pada layar besar di depan sana. Wajah ketakutan Luna lebih terlihat menarik dan menghibur di bandingkan dengan film yang tengah di putar.
__ADS_1
Dua jam berada di ruangan gelap dengan tontonan yang menyeramkan Luna terduduk lesu di kursi yang tidak jauh dari bioskop sedangkan Leo berlari membeli minum untuk istrinya.
“Makanya kalau gak berani nonton horror jangan memaksakan diri. Masih banyak kok film lain yang seru,” uap Leo seraya menyerahkan botol air mineral yang baru di belinya.
“Aku gak takut Yang, tadi cuma kaget aja karena suaranya yang kencang.” Leo memutar bola mata malas mendengar alasan istrinya itu.
“Udah jelas ketakutan, masih aja ngelak. Dasar keras kepala!” cibir Leo pelan.
“Habis ini mau kemana lagi?” Luna berpikir sejenak kemudian mengembangkan senyumnya dan menarik tangan Leo menuju arena bermain.
Permainan di mulai dan berhubung tubuh Luna pendek sedangkan Leo begitu tinggi membuat laki-laki itu mudah memasukan bola kedalam ring dan juga jangan lupakan bahwa pris itu dulu memang anggota basket maka sudah dapat di tebak bahwa Luna kalah dalam permainan ini, tapi Luna tetap bahagia karena bisa melakukan ini bersama Leo, laki-laki pertama yang di cintainya setelah Lukman sang Ayah. Bukankah bahagia itu sederhana?
Leo mencubit gemas kedua pipi Luna yang tengah cemberut karena kekalahannya itu kemudian mengecup singkat kening Luna dan kembali menarik istrinya menuju permainan lain. Hampir semua permainan keduanya coba bahkan permainan untuk anak kecil sekali pun.
Jelas banyak orang yang memandang keduanya aneh, kagum juga geli tapi tidak Leo dan Luna hiraukan karena saking asiknya mereka bermain setelah sekian lama tidak megunjungi tempat ini saking sibuknya dengan tugas. Saat SMA biasanya mereka bertujuh selalu menyematkan main disini satu bulan sekali tapi saat sudah naik ke kelas tiga dan mulai di sibukan dengan tugas dan belajar tidak lagi mereka kesini untuk refreshing.
Luna menarik Leo menuju kotak kaca pencapit boneka, menyuruh suaminya itu untuk mengambil boneka yang berada di sana. Leo memasukan koin kedalamnya kemudian memutar-mutar tuasnya untuk menggerakan pencapit yang berada di dalam sana. Percobaan pertama nyatanya gagal, Leo kembali mencoba dan lagi-lagi gagal sampai percobaan ke lima baru lah Leo berhasil mengambil boneka mungil yang di inginkan istrinya.
__ADS_1
“Senang gak?” Leo bertanya saat mereka sudah berda di dalam mobil hekdak pulang.
“Senang banget. Makasih, ya, udah ajak aku main,” jawab Luna tersenyum lebar, mengecup sekilas pipi Leo yang tengah menyetir membuat laki-laki itu tersenyum.
“Apa pun untuk kamu sayang,” balas Leo.
Tepat pukul tujuh malam Leo dan Luna sampai di rumah Lyra-Pandu dan berjalan menuju dapur dimana si pemilik rumah tengah menikmati makan malam. Leo meletakan begitu saja kantong belanjaannya di lantai lalu berlari kecil menuju wastafel untuk mencuci tangannya dan langsung duduk di meja makan mengambil piring dan nasi beserta lauknya.
Pandu dan Lyra melongo melihatnya padahal tidak sama sekali menawari makan pada laki-laki jangkung itu, sedangkan Luna menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya padahal mereka sudah makan terlebih dulu sebelum pulang dari mall tadi.
“Lo gak ikut makan juga, Lun?” Lyra bertanya saat sahabatnya itu mengambil Rapa dari kursinya.
Luna menggeleng. “Gue masih kenyang, sebelum pulang makan dulu soalnya.”
“Laki lo gak makan?” kini Pandu yang bertanya.
“Ya jelas makan lah, lo kayak gak tahu aja laki gue perutnya sekaret apa,” ucap Luna berlalu pergi membawa serta rapa menuju ruang tengah. Membiarkan ketiga orang itu menikmati makan malamnya.
__ADS_1