
Sejak tahu bahwa istrinya hamil, Leo begitu ketat menjaga Luna bahkan untuk perempuan itu masak pun tidak Leo izinkan. Mungkin awal-awal Luna merasa bahagia di perlakukan istimewa juga sifat posesif Leo. Namun nyatanya lama kelamaan membuat Luna jenuh juga karena tidak izinkan melakukan ini dan itu bahkan suaminya itu melarang Luna untuk keluar rumah jika tidak bersama dengannya. Kamar yang semula di lantai atas sudah harus pindah padahal Luna masih mampu untuk sekedar naik turun tangga mengingat perutnya belum membesar.
“Aku itu gak mau kamu kenapa-napa, Yang,”
Selalu itu yang di ucapkan Leo, Luna tentu saja bahagia dengan perhatian-perhatian kecil yang di berikan suaminya itu. Luna bahagia karena suaminya begitu menyayangi buah hati yang masih dalam kandungan Luna sekarang, tapi ini terlalu berlebihan dan Luna mulai jengah. Ia ingin aktivitas seperti biasa karena jika hanya selonjoran di sofa atau ranjang membuat Luna bosan.
“Yang, please izinin aku masak untuk kamu,” mohon Luna saat berada ruang tengah pada siang hari ini.
Leo menggelengkan kepala. “No sayang, siang ini kita makan di rumah Ly-***.”
Mendengus dan pasrah. Lagi-lagi Luna harus kalah dari suaminya itu. Walau dengan cemberut Luna menerima uluran tangan Leo dan bangkit dari duduknya mengikuti langkah suaminya yang membawa keluar dari rumah, dan Luna sudah tahu kemana tujuan mereka.
Sesampainya di rumah Lyra-Pandu, Leo sama sekali belum melepaskan genggaman tangan Luna bahkan sampai mereka duduk di sofa ruang tengah, bergabung dengan Lyra, Pandu, Rapa, Levin dan Devi membuat Luna semakin mengerucutkan bibirnya, sedangkan Leo masih saja anteng dengan gandengannya.
“Cemberut aja bumil, kenapa? Gak dikasih jatah?” Levin bertanya dengan nada geli karena sesungguhnya ia tahu apa alasan di balik bibir monyong Luna.
“Berasa anjing peliharaan gue, Bang di rantai mulu.”
Semua yang ada di sana tertawa dengan ucapan Luna barusan, sedangkan Leo hanya tersenyum tak merasa bersalah atau pun tersindir.
“Ra, dulu waktu lo hamil gini gak?”
Lyra mengelengkan kepala. “Pandu emang posesif, tapi gak sampai segitunya, buktinya gue masih bisa jalan-jalan sama kak Rangga, makan sama kak Bimo dan ngobrol sama dosen genit di kampus,”
__ADS_1
“Iya sampai buat aku geram juga kelabakan, marah-marah dan berakhir dengan kamu nangis yang buat aku jadi merasa bersalah. Padahal udah jelas kesalahan sepenuhnya ada di kamu.” Kesal Pandu yang mengundang tawa semua orang termasuk Luna yang semula cemberut.
“Si Lily waktu hamil aja udah genit, gak kebayang gue gedenya si Rapa bakalan kayak gimana,” ucap Levin di tengah tawanya.
“Masih yakin lo, Lun mau jodohin anak lo sama Rapa?” tanya Devi di sisa-sisa tawanya.
“Yakin lah. Keputusan gue udah bulat pokoknya buat jodohin anak perawan gue nanti sama Rapa. Bodo amat mau segenit dan so kegantengan kayak gimana pun Rapa yang penting tu bocah cintanya harus sama anak gue.” Tekad Luna yang membuat Lyra memeluk anaknya dengan erat sambil melayangkan tatapan ngeri pada Luna yang kini tegah senyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba senyum Luna tak lagi nampak karena kini tatapan wanita hamil itu tertuju kerah layar datar di depannya yang tengah menayangkan satu iklan makanan yang membuat Luna menoleh pada suaminya dengan mata berbinar.
“Yang, pengen itu,” pinta Luna dengan suara manja.
“Ya udah nanti aku beliin,” jawab Leo seraya mengusap lembut rambut istrinya.
“Sekarang,”
“Selesai makan siang oke,” bujuk Leo dengan lembut.
“Pengennya sekarang,” kekeh Luna masih dengan manja dan tatapan kepengennya.
“Oke aku pesan sekarang,” ucap Leo meraih ponsel yang berada di saku celananya.
“Aku minta kamu beli langsung loh, Yang bukannya pesan,” ucap Luna mengambil ponsel Leo yang hendak di gunakan untuk memesan makanan yang diinginkan Luna.
__ADS_1
“Selagi bisa beli lewat pemesanan online kenapa harus repot-repot beli ketempatnya sendiri jauh-jauh?” ucap Leo dengan tenang dan senyum manis terukir.
Ucapan Leo barusan membuat wajah Luna mengeras kesal. Lyra dan Pandu menahan tawa dan sudah tidak sabar dengan endingnya. Pandu jelas tahu karena dirinya sudah pernah berada di posisi Leo saat ini, sedangkan Lyra pun sama, pernah berada di posisi Luna saat ini, sedangkan Levin dan Devi hanya memperhatikan menebak-nebak apa yang akan terjadi.
“Kamu ingat gak beberapa hari lalu kamu bilang, apapun yang aku inginkan akan kamu turuti. Sesuliat apapun itu ngidamku. Ingat?” Leo dengan cepat mengangguk karena memang ia pernah mengatakan itu. “Dan sekarang akau menginginkan makanan itu Le,”
Leo mengangguk. “Kan, ini mau aku turutin sayang,” lembut Leo berkata.
Mata Luna sudah berkaca-kaca, air matanya sudah terbendung dan siap di tumpahkan. Dengan cepat Leo menarik istrinya itu kedalam pelukannya mengusap-usap punggung Luna dengan lembut, seraya berkata, “aku tahu kamu terharu karena aku menuruti keinginan kamu, tapi please jangan nangis, Yang.”
Dengan kasar Luna mendorong Leo sampai pelukannya terlepas , memukul-mukul dada bidang Leo membabi buta dengan air mata yang sudah mengalir deras. Pandu dan Lyra tertawa terpikal bahkan Levin dan Devi pun melakukan hal yang sama.
“Harus kamu yang beli Leo! Harus kamu yang pergi ke tempatnya, bukan orang lain apa lagi pesan online. Aku gak mau!” masih dengan memukul-mukul dada Leo, Luna berkata dengan keadaan menangis membuat Leo kewalahan dibuatnya.
“Aww, aw sakit Yang. Lagian apa bedanya sih pesan online sama aku yang beli? Sama aja Yang, sama-sama Ayam tepung yang di goreng dan di atasnya di tambahin sambal.”
“Leo kamu itu ngerti gak sih artinya ngidam? Aku pengennya kamu yang beli dan itu berarti harus kamu yang beli Leo! Aku gak mau tahu pokoknya kamu harus beli sekarang juga!” kekeh Luna dengan tegas dan tidak bisa di bantah. Leo melongo, tapi beberapa detik kemudian menghela napas pasrah.
Puas menertawakan Leo, Pandu melempar bantal sofa kearah sahabatnya itu dan berhasil mengenai kepala Leo yang lesu dengan keadaan acak-acakan di tempatnya. “Gue kira lo benar-benar udah paham soal ngidamnya ibu hamil, Le … ternyata? Haha,”
“Kenapa masih duduk?” tanya Luna dengan kesal.
“Sebentar, Yang aku…”
__ADS_1
“Sekarang Leo! Kamu ngerti artinya sekarang gak sih? Mau nanti anaknya ngeces?” sentak Luna, mambuat Leo tangsung berdiri dan lari keluar dari rumah Lyra-Pandu. Keempat orang di sana tertawa terbahak, bahkan Rapa yang di yakini tidak mengerti pun ikut tertawa.