Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
67. Merepotkan


__ADS_3

Ternyata ngidamnya Leo seminggu ini begitu super, sampai membuat semua orang kesusahan termasuk Pandu, Levin dan Dimas. Ketiga pria yang menjadi sahabatnya itu mendesah lelah dan serasa ingin sekali membunuh Leo saking menjengkelkannya Pria ngidam itu. Bagaimana tidak? Di tengah malam Leo begitu menginginkan siomay yang dulu di jual dekat kampus, dan diantara ketiga pria itu jelas tidak mengetahui dimana rumah si penjual.


Bukan hanya itu saja, karena Leo pun memaksa Levin, Dimas dan Pandu untuk membelikannya sate di saat hari masih menunjukan pukul lima pagi. Mengganggu waktu bekerja ke tiganya hanya untuk membelikan makanan yang tengah Leo inginkan dan masih banyak lagi kerepotan yang Leo berikan pada ketiga sahabatnya yang membuat Dimas, Levin juga Pandu geram ingin melempar laki-laki itu.


Memang keinginan Leo tidak lah neko-neko, bukan makanan yang aneh dan bukan juga yang sulit di dapatkan, tapi… jika waktunya tidak tepat, tetap saja sebanyak apapun pedangang yang jual makanan yang di inginkan Leo sulit mereka dapatkan. Dan yang membuat kesal mereka bertambah adalah laki-laki itu sudah mengganggu waktu istirahatnya, mengganggu waktu kerjanya dan mengganggu waktu tidurnya.


Entah sudah berapa banyak permintaan maaf yang Luna ucapkan pada sahabat-sahabatnya yang sudah Leo repotkan, Luna benar-benar merasa tak enak hati pada meraka, tapi mau bagaimana lagi? Luna tidak bisa mencegah ngidamnya Leo.


Di pagi buta sabtu ini Levin, Dimas dan Pandu berada di sofa ruang tengah rumah Leo-Luna baru saja pulang dari berburu makanan yang di inginkan sahabatnya yang tengah ngidam itu.


Menghempaskan tubuhnya, Levin memejamkan matanya begitu juga dengan Pandu, bahkan Dimas sudah terlelap begitu kepalanya bertemu dengan sandaran kursi. Raut lelah dan nagntuk itu jelas terlihat, namun tidak sedikit pun membuat Leo kasihan atau merasa bersalah. Laki-laki itu justru malah menikmati soto yang baru saja di belikan ketiga sahabatnya, meskipun baru dua suapan saja rasa mual itu datang menyerang dan makanan yang sudah masuk terpaksa harus kembali ia keluarkan, membuat Luna lagi-lagi mendesah lelah dan iba terhadap sahabat yang sudah cape menuruti ngidam Leo juga pada suaminya yang tersiksa dengan mual-mualnya.


“Kalau lo selalu muntahin itu makanan kenapa selalu pengen ini itu sih, Le? Kita cape-cape nyari, tapi malah gak lo makan. Ck, nyusahin tahu gak!” geram Levin melempar bantal sofa yang semula di gunakannya pada Leo yang baru saja kembali dari kamar mandi.


“Ya, jangan salahin gue dong! Mana tahu gue kalau bakalan kayak gini, salahin nih hormon hamil yang nyebelin.” Desah Leo dengan lesu, kepalanya pening di tambah dengan omelan yang dirinya dapat dari ketiga sahabatnya di pagi hari seperti ini.


“Lagian lo ada-ada aja pake ngidam segala, Le,” decak Pandu menggelengkan kepala.


“Itu tandanya gue sayang anak istri, ***,” jawabnya dengan ringan.

__ADS_1


Merasa tidak ada gunanya berbicara dengan pria yang tengah ngidam dan tidur pun pasti tidak akan tenang jika masih berada di rumah sahabatnya itu. Levin, Dimas dan Pandu lebih memilih untuk pulang ke rumah masing-masing dengan kesepakatan ketiganya untuk tidak mengaktifkan ponsel masing-masing demi kelangsungan hari libur dan ketenangan yang selama satu minggu ini terganggu dengan rengekan menjijikan Leo yang selalu saja merecoki tanpa kenal waktu. Bukan kerena tidak setia kawan, tapi pikir saja bagaimana jika kalian berada di posisi mereka, sudah pasti akan sama jengkelnya.


Leo yang kembali muntah-muntah di jadikan ketiga pria tampan itu sebagai kesempatan untuk kabur. Namun apalah daya mereka jika sang istri masing-masing justru baru saja datang dengan membawa serta anak mereka masing-masing.


Niat awal yang ingin istirahat di rumah bersama istri juga anak harus gagal karena ketiga perempuan beranak itu memilih menghabiskan hari di rumah Luna-Leo. Apalah daya pria jika tanpa anak istri, maka ketiganya lebih memilih kembali ke dalam rumah sahabat satunya itu dari pada harus di rumah seorang diri.


“Ya ampun, Le sampai pucat gitu muka lo, kurus pula lagi! Lo ngidam apa cacingan?” pekik Devi terkejut.


Leo yang lesu Pandu bantu untuk duduk di sofa ruang tengah, kasihan juga melihat sahabatnya tidak berdaya seperti ini. Bagaimana pun Pandu pernah mengurusi istrinya yang tengah ngidam, walau tidak seperah sahabatnya, tapi jiwa iba Pandu jelas ada untuk Leo, meskipun tingkat menyebalkan laki-laki itu semakin tinggi mengundang Pandu untuk membantingnya ke dalam sumur atau ke laut sekaligus.


“Waktu Queen Si Luna yang ngidamnya parah, sekarang kehamilan ke dua malah Bapaknya yang ngidam, sama parahnya juga, ck!” Lyra berkata seraya menggelengkan kepala tak habis pikir.


“Mungkin karena ikatan batin gue sama istri dan calon anak gue begitu kuat, Ly makanya jadi seperti ini,” jawab Leo membela diri.


“Dih amit-amit deh harus ngerasain ngidamnya ibu hamil,” cepat Levin menggelengkan kepala, menggetok-getok kepala dan pahanya berulang-ulang sambil mengucapkan kata 'amit-amit' membuat semua yang ada di sana tertawa begitu melihat wajah Levin yang seolah melihat hantu.


“Gue doain lo, Bang, nanti kalau Si Devi bunting lagi, lo yang ngerasain ngidamnya, biar tahu rasa!” kata Lyra menyumpahi.


“Jangan sekata-kata lo, Dek, enak aja lo nyumpahin gue ngidam. Dih ogah gue mah. Hhiiii, serem jir!”

__ADS_1


Pletak


Satu geplakan Devi berikan pada suaminya itu, menatap tajam Levin yang baru saja menyelesaikan katanya. “Lo waktu ngadon aja semangat, minta nambah malah. Giliran ngidam gitu banget responnya, awas aja lo beneran gue aminin doanya Si Lyra biar lo benar-benar ngerasain ngidam kayak Si Leo!”


“Jangan dong, Yang, masa iya biarin aku ngidam? Nanti kalau aku kurus gara-gara setiap pagi muntah-muntah dan gak makan kayak Si Leo gimana? Nanti jadi gak ganteng lagi dong, atau malah banyak makan kayak waktu kamu hamil Dania? Hhiii, nanti aku gendut. Gak deh Yang, makasih, biar kamu aja yang ngidam.”


Devi kembali melayangkan getokan di kepala suaminya itu, mendengus kesal juga tak hentinya melayangkan cubitan juga pukulan-pukulan kecil, kesal dengan suaminya yang sudah melayangkan keberatannya menanggung ngidam.


Leo yang masih merasa lemas hanya menanggapi dengan tawa pelan dalam pelukan Luna yang duduk di sampingnya, karena dengan posisi seperti ini dan menghirup bau harum tubuh istrinya lah rasa mual itu bisa berkurang.


Sambil mengawasi anak-anak bermain di taman belakang rumah Leo-Luna, para orang tua duduk santai ada juga yang tertidur atau hanya sekedar berbaring di gazebo yang tak jauh dari tempat anak-anak mereka bermain, mengobrol dan tertawa membahas apa saja secara random, mengisi hari libur dan untuk mempererat hubungan pertemanan, sampai akhrinya suara Leo menghentikan obrolan mereka.


“Gue pengen martabak coklat masa?”


“Mana ada yang jualan martabak di siang bolong begini, bego!” Dimas yang geram dengan keinginan sahabatnya itu menimpuk kepala Leo dengan bantal yang semula di tidurinya.


“Ya, mana gue tahu, Dim, cariin gih!” titah Leo yang langsung membuat mata Dimas terbelalak.


“Ogah!” jawab Dimas dengan ketus dan kembali membaringkan diri.

__ADS_1


“Gue lagi ngidam loh, Dim, masa tega sih?” bujuk Leo cemberut.


“Ck. Bodo amat! Lo ini yang ngidam bukan gue.” Dimas menutupi wajahnya menggunakan tangan, tidak memperdulikan rengekan sahabatnya yang tengah ngidam itu. Karena jujur saja saat ini ia begitu mengantuk dan ingin segera tidur bukan ingin mendengar rengekan Leo yang menginginkan sesuatu.


__ADS_2