Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
71. Kesedihan


__ADS_3

Kelurga Dimas yang sempat mendengar bahwa kecelakaan yang menimpa anaknya karena sebab Amel sempat marah dan memaki menantunya itu, bahkan juga sempat mengusirnya. Membuat Lyra Luna dan juga semua yang ada di sana tidak tega sehabatnya itu di salahkan tanpa menyadari bahwa mereka sendirilah yang lebih dulu menyalahkan.


Amel menerima begitu saja kemarahan ibu mertuanya tanpa berniat sama sekali memberi pembelaan sampai pada akhirnya tangan Ibu dari suaminya itu melayang. Namun Luna lebih dulu mencegah sampai dapa akhirnya menceritakan apa yang terjadi diantara Amel dan Dimas sebelum kecelakaan itu menghantam dan membuat Dimas berakhir seperti sekarang ini.


Setelah mendengar penjelasan itu, Dirga, Ayah Dimas yang tiba-tiba meluapkan amarahnya dan mengeluarkan makian pada perempuan yang dirinya kenal sebagai sekertaris anaknya di kantor dengan janji yang di keluarkannya untuk memecat wanita jalang itu sebelum akhirnya memeluk Amel dan menggumamkan kata maaf.


Meldi yang menyaksikan ibunya menangis pun ikut meneteskan air mata bahkan bocah berusia dua tahun itu sampai terisan dan meminta sang Om untuk menurunkannya agar ia bisa menghampiri sang Mommy. Luna yang memang sedang dalam emosi yang labil dan sensitif ikut menangis dalam pelukan Leo.


Hingga siang menjelang, belum juga ada respon yang di berikan Dimas membuat Leo, Luna, Lyra dan Pandu pamit untuk pulang karena bagaimanapun anak-anak di rumah menunggu.


Amel hanya memberi anggukan untuk mengizinkan semua sahabatnya itu. Masih sulit untuk ia mengeluarkan kata apa lagi dalam keadaan terpuruk seperti sekarang ini. Tidak hentinya Amel merutuki diri, menyesali keputusan yang diambil saat sedang emosi di tengah rasa cemburunya kemarin pagi.


Dirinya memang bodoh karena sudah buta oleh amarah, ia terlalu bodoh karena memilih minggat dari pada harus mengurung diri dalam kamar untuk rasa marahnya terhadap sang suami, dan akibat kebodohannya lah Dimas harus mengalami kejadiaan naas ini. Dan akibat kebodohannya pula suaminya harus berada di ruangan yang tidak semua orang inginkan, ruangan dimana untuk mereka yang membutuhkan bantuan-bantuan mesin untuk mempertahankan hidup. Amel begitu menyesali kebodohannya, tapi semua pun tahu, bahwa penyesalannya itu tidaklah berguna saat ini, penyesalannya tidak bisa mengubah keadaan dan tidak bisa mengembalikan apa yang terjadi. Suaminya tetap terpejam dengan beberapa kabel yang menempel di tubuhnya. Hidupnya seolah bergantung pada alat-alat itu.

__ADS_1


Dalam hati kecilnya Amel memohon pertolongan pada Tuhan, meminta agar sang pencipta masih memberikan kesempatan untuk dirinya memperbaiki keadaan, mengakui kebodohannya pada sang suami, dan ia berharap Tuhan masih memberikan kesembuhan serta umur yang panjang untuk suaminya.


Amel jelas tidak siap di tinggalkan oleh Dimas, laki-laki yang mampu menggetarkan hatinya, laki-laki yang membawa dari sebuah keterpurukan dari kesedihan yang sempat membuat dirinya lelah bertahan. Amel benar-benar tidak ingin kehilangan laki-laki tercintanya, ayah dari anaknya.


Jika keadaan bisa di tukar, ia bersedia menukar itu dengan suaminya. Menatap melalui kaca bening itu, Amel tidak hentinya menitikan air mata. Begitu sakit melihat seseorang yang di cintai terbaring lemah tanpa bisa melakukan apapun, bahkan untuk sekedar membuka matanya saja.


“Bangun, Dim. Aku mohon bangun! Aku minta maaf telah membuatmu jadi seperti ini, maaf gara-gara mencariku sampai kamu harus mengalami kejadian naas ini. Maafkan atas kesalah pahamanku. Seharusnya saat itu aku menghampirimu, harusnya aku meminta penjelasanmu dulu bukan malah pergi dan membuatmu khawatir. Maaf Dim, maafkan aku.” Ucap hati Amel dengan sedih di ikuti dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi cantiknya.


Kedua orang tua Dimas yang masih berada di kursi tunggu sana menatap iba sang menantu, tapi apalah daya, mereka pun tidak bisa untuk sekedar menghibur karena kesedihan yang sama mereka rasakan juga.


“Kak, lebih baik kakak makan dulu, ini sudah sore,” ucap Damar, menepuk pelan pundak kakak iparnya itu. sudah berkali-kalu Damar meminta Amel untuk makan atau sekedar duduk, tapi sama sekali tidak perempuan itu hiraukan.


“Aku tahu kakak terpukul dengan keadaan Dimas sekarang, tapi tidak baik juga jika kakak mengabaikan diri sendiri. Disini bukan hanya kak Amel yang sedih, tapi juga Damar, Mama sama Papa, semua sedih dengan ini. Meldi pun nangis terus karena ingin bertemu Daddynya. Tolong kak, tolong lebih tegar dan lebih menerima kenyataan ini! Jangan siksa diri kakak sendiri, Meldi membutuhkan kakak, dan bagaimana pun Dimas tidak akan pernah suka melihat kakak seperti ini."

__ADS_1


Amel yang mendengar itu menoleh, menatap adik dari suaminya dengan wajah sedih yang di penuhi air mata. “Meldi mana?” tanyanya begitu menyadari bahwa hanya mereka berdua yang ada di sana.


“Meldi di bawa pulang sama Mama dan Papa, kasihan dia kelelahan.” Jawabnya dan menoleh pada kaca bening itu, melihat kedalam sana dimana kakaknya masih terbaring damai.


“Bangun, Dim orang-orang sedih gara-gara lo, apa lagi istri lo. bangun, jangan jadi laki-laki yang lemah kayak gini. Lo masih hutang penjelasan sama istri lo, Dim! Walau teman-teman lo udah bilang bahwa itu kesalah pahaman dan istri lo udah memaafkan, tapi gue tahu lo pasti ingin menyampaikan itu secara langsung, makanya bangun, Dim jangan buat usaha lo seharian kemarin nyari dia berakhir dengan sia-sia.” Ucap hati Damar, berharap itu dapat Dimas dengar di alam bawah sadarnya.


Setelah mengumamkan itu dalam hati, Damar pamit pada Amel untuk pergi kekantin untuk membelikan setidaknya minum untuk kakak iparnya itu yang tidak juga mau beranjak dari kaca jendela sana.


Tak lama, Damar kembali dengan satu cup kopi untuk dirinya juga bubur dan sebotol air mineral untuk Amel. Perempuan cantik itu masih berdiri di tempat yang sama dengan tatapan yang tertuju pada suaminya yang terbaring di dalam sana.


Damar menyimpan makanannya dan menghampiri sang kakak ipar. “Makan dulu, Kak,” ucapnya kemudian membawa Amel untuk duduk di kursi tunggu sana. Tanpa kata, Amel menuruti Damar, dan duduk di samping laki-laki itu yang saat ini membuka steropom berisi bubur, kemudian memberikannya pada Amel meminta perempuan itu untuk makan.


Amel hanya menatap itu dengan tatapan yang tidak berselera. Namun untuk menghargai niat baik adik iparnya, ia menerima bubur tersebut dan memakannya sedikit, hanya beberapa suapan sampai akhirnya ia memilih untuk menutup kembali wadah tersebut dan meletakan di kursi kosong sebelahnya. Meneguk sedikit air mineral yang juga di bawakan adik iparnya lalu kembali meyimpannya dan tatapannya kembali menoleh pada pintu ruangan dimana Dimas berada dengan sorot mata kosong.

__ADS_1


Damar memang harus memahami keadaan Amel saat ini, karena jangankan Amel, dirinya pun memang tidak memiliki selera untuk makan saat ini, tapi setidaknya ada makanan yang masuk pada tubuh kakak iparnya itu walau hanya sedikit.


__ADS_2