Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
68. Momen Manis yang Terganggu


__ADS_3

Buruntunglah dengan bertambahnya usia kehamilan Luna, mual-mual yang di rasakan Leo berangsur membaik, meskipun masih tetap berjalan, tapi setidaknya tidak separah sejak di awal-awal. Napsu makan yang semula menurun pun kini sudah kembali bahkan meningkat, tapi justru sekarang malah keduanya yang doyan makan sampai harus selalu ada saja yang Leo dan Luna kunyah di setiap saatnya.


Melinda sering kali mengingatkan anaknya itu masalah berat badan yang pasti akan bertambah melihat sekarang pun perubahan itu sudah dapat terlihat di pipi juga perutnya. Sahabat-sahabatnya pun selalu melayangkan ledekan-ledekan mengenai itu, namun tidak sedikit pun Leo peduli dengan itu, toh nanti dia bisa kembali rutin olahraga untuk mengembalikan tubuh idealnya seperti semula. Yang terpenting sekarang adalah keinginan calon anaknya terpenuhi dan masa ngidamnya terlaksanakan.


“Yang, kalau nanti aku gendut kamu akan tetap cinta aku gak? Lihat nih perut aku gak ada lagi roti sobeknya,” Leo bertanya seraya memperlihatkan perut sedikit buncitnya.


Luna tersenyum mendengar pertanyaan suaminya itu, memeluk dada telanjang laki-laki itu seraya memberi cubitan kecil di perut Leo yang tidak lagi sekeras dulu.


“Bagaimanapun keadaan kamu sekarang atau pun nanti, mau perutnya buncit atau kurus dan kulitnya keriput pun aku tetap akan selalu cinta kamu, karena semenjak ijab kobul itu terucap, janjiku pada tuhan adalah untuk selalu bersama kamu sampai maut memisahkan. Bagaimanapun keadaannya aku akan tetap mencintai kamu, suamiku.”


Entah karena hormon yang tengah sensitif atau karena memang ucapan Luna yang begitu tulus hingga membuatnya terharu bahkan sampai meneteskan air mata.


“Kenapa manis banget sih kamu, Yang! Bikin aku makin klepek-klepek tahu gak?” Leo memeluk istrinya dengan erat lalu memberikan kecupan di seluruh wajah Luna, masih dengan air mata yang menetes.


“Gara-gara kamu ini, aku jadi cengeng,” ucap Leo saat tangan lembut Luna menyeka air di sudut matanya.


“Gak apa-apa, asal di depan aku aja jadi laki-laki cengengnya.” Tersenyum lembut Luna mengecup kedua mata sang suami bergantian. Menatap laki-laki itu dalam kemudian berkata, “nanti tubuh aku pun akan berubah, wajah aku akan menua, tangan ku gak akan selembut dulu dan pasti masih banyak lagi yang akan berubah dari aku. Apa di saat perubahan itu muncul kamu akan tetap berada di sampingku? Mencintai aku dan memelukku seperti saat ini?”


“Aku tidak perduli akan semua perubuhan yang terjadi dalam diri kamu, karena yang paling penting bagiku adalah hati kamu dan cintamu tidak berubah. Kamu harus percaya, Lun bahwa aku akan selalu setia di samping kamu, mencintai kamu dan memelukmu bahkan hingga maut datang.”


“Papi sama mami kok nangis? Kenapa, sakit? Apa Adik Bayinya nakal lagi?” Queen yang baru saja masuk ke kamar orang tuanya bertanya begitu melihat mata kedua orang yang di sayanginya itu mengeluarkan air mata.


“Papi gak apa-apa kok, Nak, hanya saja Papi terlalu bahagia memiliki Mami, Kakak Queen dan calon bayi dalam perut Mami,” ucap Leo seraya meraih anak juga istrinya kedalam pelukan dan melayangkan ciuman pada kening kedua wanita tercintanya itu.


“Love you bidadari-bidadariku,”

__ADS_1


“Love you to Papi.” Balas keduanya bersamaan, kemudian salin berpelukan.


“Ekhemm!”


Satu deheman itu mengalihkan ketiganya ke sumber suara, dan mendapati Dimas di ambang pintu kamar mereka, berdiri bersandar pada kusen menatap geli ketiganya, terlebih pada Leo.


“Geli gue lihat kalian melow-melow kayak gitu,” ucapnya begitu melihat pemandangan manis keluarga kecil di depan matanya.


“Aish lo ngapain kesini sih? Ganggu momen manis gue aja tahu gak!” dengus Leo kesal karena momen manis bersama anak dan istrinya di ganggu oleh kedatangan sahabat satunya itu yang tidak sopannya malah menerobos masuk kedalam kamar. Salahkan Queen yang masuk tanpa menutup kembali pintu kamar.


“Istri gue datang ke sini gak?” Dimas bertanya langsung pada inti, tidak menghiraukan kekesalan Leo sebelumnya.


“Sejak siang gak ada yang datang kecuali tetangga sebelah," jawab Leo masih dengan kekesalannya. Keluar dari kamar dan membawa sahabatnya itu menuju ruang tengah.


“Terus kemana dong?”


“Kalau gue tahu mana mungkin nanya! Sama begonya lo juga!” toyor Dimas pada kening Leo yang duduk di sebelahnya.


“Maksud lo Amel hilang, Dim?” Luna yang datang membawa minuman untuk suami dan sahabatnya bertanya. Dimas mengedikan bahu tidak tahu.


“Udah lo cari ke rumah sakit?”


“Udah, tapi yang di sana bilang kalau Amel gak masuk kerja.” Jawab Dimas lesu.


“Meldi?”

__ADS_1


“Anak gue ikutan gak ada! Pengasuhnya bilang kalau Meldi sama Amel sempat pulang, tapi pergi lagi, dan gak bilang mau pergi kemana,”


“Kalian lagi berantem?” tebak Leo yang sayangnya tepat sasaran.


“Udah cari ke rumah Lyra, Devi atau teman-temannya yang lain?”


“Udah, ini gue terakhir datang kesini,” Dimas mengusap kasar wajah frustasinya.


“Coba lo hubungi ponselnya,” usul Luna.


“Sebelum gue nyari juga udah lebih dulu gue hubungi, Lun, tapi ponselnya gak aktif.”


Luna dan Leo saling menatap kemudian menoleh pada Dimas yang terlihat begitu kacau. Keduanya cukup iba melihat keadaan Dimas saat ini. Luna meminta sang putri untuk mengambilkan ponselnya yang di tinggal di kamar dan langsung menghubungi nomor Amel yang memang benar bahwa ponsel wanita itu tidak aktif.


“Lo tahu kemana aja dia selalu pergi?” tanya Luna pada Dimas yang kembali memberikan gelengan.


“Setahu gue, Amel gak pernah pergi kemana pun selain ke tempat kalian dan di rumah sakit atau kantor gue. Sejak menikah bahkan bisa di hitung jari Amel mengunjungi kediaman orang tuanya, dan saat tadi gue datang ke sana pun kalian jelas tahu bahwa mertua gue malah gak ada di rumah,” ucap Dimas sedikit miris. “Gue takut Le, Lun, gue takut Amel pergi jauh lagi seperti dulu, gu… gue benar-benar takut kehilangan dia …” lanjutnya dengan suara bergetar siap menangis.


Leo menepuk bahu sahabatnya itu pelan, memberi sekedar kekuatan agar laki-laki itu tidak putus asa. Ia memang tidak mengetahui apa masalah yang menimpa keluarga sahabatnya, tapi dapat ia rasakan bahwa ini bukanlah masalah yang mudah. Apalagi melihat Dimas yang sampai frustasi seperti ini.


Leo sendiri bingung mau mencari kemana istri dari sahabatnya itu karena Leo memang tidak terlalu dekat dengan perempuan itu sejak dulu apa lagi di tambah dengan masalah dengan Lyra dulu. Tapi melihat Dimas yang linglung seperti ini membuat Leo ikut cemas.


“Kalau boleh tahu ada masalah apa antara lo dan Amel?” Luna bertanya penasaran. Setidaknya dengan mengetahui permasalahan antara sahabatnya itu Luna bisa paham semarah apa Amel saat ini.


“Cuma kesalah pahaman aja sebenarnya, Lun. Le, lo pasti tahu kan di kantor pelakor-pelakor merajalela?” Leo mengangguk. “Nah saat Amel datang tadi pagi kebetulan gue sama sekertaris gue mau ke ruang meeting, dan entah di sengaja atau tidak tuh cewek tiba-tiba kesandung dan hampir jatuh. Sialnya dia malah narik gue dan buat itu cewek nemplok di dada gue yang buat gue refleks mundur dan bersandar ke tembok karena tubuh gue yang gak seimbang. Bisa kan lo bayangin seperti apa jika di lihat sekilas dan dari sudut yang salah? Saat gue mau lepasin diri, dan nyingkirin tu cewek, gue lihat Amel gak jauh dari posisi gue, dan ya, kalian tahu lah gimana endingnya."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Dimas yang cukup berbelit-belit itu membuat Luna mengernyit, dan berkata, “kenapa adegannya kayak di novel-novel?”


__ADS_2