Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
60. Terima Kasih Queen


__ADS_3

Tiga hari berada di rumah sakit akhirnya Luna sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, namun tetap di haruskan untuk banyak istirahat dan tidak banyak beraktivitas karena itu bisa berdampak pada kandungannya. Dan mendengar itu tentu membuat Leo semakin membatasi gerak Luna, bukan ingin mengekang, hanya saja, Leo tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan menimpa Luna dan anak dalam kandungan istrinya itu.


“Mami kapan adik bayinya bisa di ajak main?” polos Queen bertanya, seraya duduk dan mengelus perut Luna yang masih rata. Usia kandungannya memang baru menginjak 4 minggu, dan perubahan itu jelas belum terlihat sama sekali.


“Tunggu delapan bulan lagi, ya, sayang doain Maminya sehat begitu juga dengan adik bayi,” ucap Luna dengan lembut sambil mengusap rambut panjang Queen dengan sayang.


“Delapan bulan itu lama ya, Mi?”


“Gak akan terasa lama kok, Nak, kamu yang sabar ya?” Queen mengangguk dengan polos, memeluk perut sang ibu dan berceloteh disana seolah tengah berbicara langsung dengan bayi dalam kandungan Luna.


“Mi, Queen bisa punya kakak gak?”


“Queen kan sudah punya Bang Rapa,”


“Tapi Bang Rapa 'kan kakaknya Ratu, Mi, bukan kakak Queen,”


“Iya, Abang kan masa depan kamu,” celetuk Rapa yang berada di sofa kamar Luna bersama orang tua juga Nenek-kakeknya.


“Abang belajar dari siapa sih itu, aduh rasanya Bunda pengen pingsan tahu gak! Kecil-kecil udah pinter ngegombalnya,” Lyra menepuk jidatnya seraya geleng-geleng kepala mendapati anaknya yang semakin hari semakin pintar saja.


“Grandpa yang ajarin. Kata Grandpa biar perempuan pada luluh,” ucapnya dengan polos.


Semua mata tertuju pada Leon yang duduk tak jauh dari bocah itu, Lyra menggeram kesal begitu juga dengan Linda, sedangkan sang tersangka hanya cengengesan tak berdosa.


“Belajarkan mesti dari kecil Ma, Cess,”


“Ya, tapi gak belajar gombalin cewek juga dong, Dadd! Ini anak Princess jadi terkontraminasi otaknya sama Daddy.” Protes Lyra pada sang ayah.

__ADS_1


“Siap-siap aja anak lo jadi playboy nanti.” Devi menyahut.


“Gak apa-apa jadi Playboy asal jangan jadi cowok brengsek aja kayak bapakya!” Dimas berkata dengan santai, yang kemudian mendapat lemparan kulit kacang dari Leo, dan geplakan di kepala oleh Lyra dan Amel.


Obrolan yang di sertai canda tawa juga celotehan anak-anak berlangsung hingga sore menjelang dan satu persatu dari mereka pulang begitu juga dengan Lyra dan anak-anaknya serta sang suami, meskipun pada awalnya Rapa menolak untuk pulang karena masih ingin bersama Queen, tapi ancaman yang di berikan Lyra membuat laki-laki berusia hampir tujuh tahun itu melangkah mengikuti orang tua juga adiknya.


Di rumah tinggal menyisakan Leo, Luna, Queen dan Bi Atin yang baru saja kembali siang tadi. Leo memutuskan untuk kembali pindah ke kamar utama di lantai satu, sedangkan Queen masih tetap di kamarnya semula. Sebenarnya Luna sudah menolak karena merasa kasihan pada anak pertamanya jika harus tidur di kamar atas seorang diri, Luna terlalu khawatir tidak bisa mengetahui keadaan Queen seperti beberapa hari lalu, tapi Leo tetaplah Leo yang perintahnya tidak bisa di ganggu gugat membuat akhirnya Luna mengalah dari pada harus memperbesar pertengkaran.


“Mami, Queen boleh tidur di sini, kan, malam ini?”


“Boleh dong sayang, tapi Queen mandi dulu sama Bibi ya, setelah itu baru boleh tidur sama Mami dan Papi,”


“Ay ay kapten!”


Luna terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan anak perempuan satunya itu. Queen pelengkap hidupnya, pelengkan pernikahannya dan pelengkap kebahagiaannya. Ia sangat-sangat bersyukur memiliki anak secantik, secerdas dan sebaik Queen. Meskipun merawat dan mengasuh dia sejak bayi tidak lah mudah, tapi dari sana Luna belajar artinya sebuah kesabaran, dan semenjak adanya Queen juga Luna mau pun Leo mengerti arti sebuah tanggung jawab sebagai orang tua, bukan hanya tanggung jawab dalam mencukupi kebutuhan anak itu, tapi juga tanggung jawab untuk mendidiknya, agar kelak Queen menjadi putri yang membanggakan dan berbakti. Sejak hadirnya Queen juga lah Luna serta Leo memiliki tujuan, yaitu untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya.


“Yang, mau aku bikini cumi goreng gak?” tanya Leo yang baru saja keluar dari kamar mandi mengejutkan Luna yang tengah melamun.


Melihat rambut pria itu yang masih basah bahkan air masih menetes mengalir pada punggung dan dada Leo yang telanjang membuat Luna berdecak kesal.


“Ish, kebiasaan deh kalau di keramas rambutnya gak di keringin dulu,”


“Eh, kamu mau kemana?” cepat Leo menahan pergerakan Luna yang hendak turun dari tempat tidur.


“Keringin rambut kamu,” polos Luna menjawab, menaikan sebelah alisnya bingung saat sebuah gelengan laki-laki itu berikan.


“Diam di situ biar aku yang nyamperin kamu, tunggu aku bawa handuknya dulu,” dengan cepat Leo berjalan menuju lemari untuk mengambil handuk bersih dan kembali menghampiri sang istri dan duduk di bawah ranjang, diantara kaki Luna yang terurai kebawah.

__ADS_1


“Yang, sebenarnya aku masih takut menghadapi ngidam kamu,” aku Leo mengutarakan kecemasannya.


Luna terkekeh geli mendengar pengakuan suaminya itu. Tentu saja ia masih teringat bagaimana frustasinya Leo saat dirinya tengah hamil Queen beberapa tahun lalu.


“Berdoa aja ya, semoga kehamilan sekarang gak semanja saat hamil Queen,” jawab Luna tersenyum lembut.


“Tapi meskipun seperti dulu, aku siap kok, demi calon anak kita, aku rela deh tersiksa lagi,” ucap Leo tersenyum seraya mengecup perut Luna yang berada tepat di depan wajahnya. “Udah kering ‘kan? Gimana mau gak cumi gorengnya? Waktu hamil Queen kan kamu senang banget sama makanan itu,”


“Aku lagi gak mau makan apa-apa, Le, pengen disini aja, di peluk kamu,” Luna berkata dengan malu-malu, membuat Leo terkekeh geli sekaligus gemas pada istri cantiknya itu.


“Oke permaisuri, kalau gitu aku jemur handuknya dulu ya, setelah itu baru peluk kamu.”


Luna mengangguk kecil dan Leo dengan segera mengambil handuk dari tangan Luna, berlalu menuju jemuran kecil di kamar mandi kemudian kembali lagi dan naik keatas tempat tidur, duduk bersama sang istri dengan tangan yang ia lingkarkan di pundak Luna, menyandarkan kepala istrinya untuk bersandar di dada bidangnya, posisi nyaman bagi pasangan suami istri itu.


“Mami sama Papi pelukan kok gak ajak-ajak Queen!” teriak Queen dari ambang pintu, sudah segar dan cantik dengan baju tidur kelincinya.


“Oh, Queen mau Papi peluk juga? Kirain Papi, Queen maunya cuma sama Bang Rapa aja di peluknya.”


“Ish, Papi, sekarang kan Bang Rapanya gak ada, jadi Queen di peluk Papi aja, sama Mami juga.”


Queen naik keatas tempat tidur kedua orang tuanya, tentu setelah menutup pintu terlebih dulu. Merangkak melangkahi kaki sang Mami, Queen menerobos masuk di antara Leo dan Luna, duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya, membuat Luna dan Leo menggelengkan kepala.


“Anak siapa sih ini, gemesin banget tahu gak? Bikin Papi pengen banget buang kamu ke sumur.”


“Jahatnya Papi Leo,” balas Queen dengan cemberut. Leo mengguyel pipi tembam anaknya itu, kemudian menggelitikinya hingga bocah itu tertawa-tawa kegelian meminta ampun pada sang Papi yang tak mau menghentikan juga aktivitasnya.


“Terima kasih Queen, terima kasih telah melengkapi kebahagiaan kami."

__ADS_1


__ADS_2