Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
39. Ibu Hamil Menyebalkan


__ADS_3

Dua hari berada di rumah sakit tidak membuat Luna bosan seperti pasien lainnya, karena ruang rawat Luna selalu ramai di isi oleh canda tawa setiap orang yang datang, apa lagi jika Levin, Leo, Lyra dan Leon bersatu dan saling mengejek sudah di pastikan rumah sakit yang di harapkan untuk menjaga ketenangan pasien berubah ramai melebihi pasar minggu. Beruntungnya kamar rawat Luna kedap suara jadi kemungkinan besar tidak mengganggu pasien lain.


Sore, pukul 15:30 Luna sudah di persilahkan pulang oleh dokter karena kondisi yang sudah lebih membaik. Leo tengah keluar menebus obat di apotik sedangkan Luna menunggu di kamarnya di temani Sari dan Amel.


Tak lama Leo kembali sambil mendorong kursi roda yang akan Luna kenakan. Leo menyerahkan kantung obat pada mertuanya sedangkan dirinya memangku Luna dari ranjang dan memindahkan istrinya itu ke kursi roda. Padahal Luna bisa pindah sendiri, tapi namanya Leo yang ingin mendapat gelar suami baik dan pengertian tentu saja tidak akan mengizinkan istrinya untuk turun sendiri dari ranjang.


“Le, mampir dulu ke kampus ya, aku pengen batagor Mang Diman,” pinta Luna.


“Siap bidadari," jawab Leo seraya mengangkat sebelah tangannya dan melakukan hormat layaknya komandan upacara.


“Ah iya, hampir lupa gue. Mel, kok suster disini pada kenal sama lo?” heran Leo mengingat kembali kejadian kemarindan tadi saat sesalah satu suster masuk kedalam ruangan Luna untuk melakukan pemeriksaan dan terlihat bahwa mereka cukup saling mengenal juga saat barusan melewati lobi, banyak yang menunduk dan tersenyum pada Amel.


Amel hanya mengulas senyum kemudian masuk ke dalam mobil Leo diikuti Sari, sedangkan Leo lebih dulu menyimpan kursi roda ke bagasi setelah sebelumnya mendudukan Luna di bangku penumpang depan.


“Lo kerja di rumah sakit ini, Lun?” tanya Leo lagi saat sudah duduk di balik kemudi.


“Ini mah rumah sakit punya keluarganya Amel, Le,” ucap Luna mewakili Amel untuk menjawab.


“Benar, Mel?” tanya Leo memastikan.


“Bukan maksud pengen sombong, Le, tapi memang iya ini rumah sakit milik keluarga gue,” Amel membenarkan pada akhirnya.


“Ck, kenapa gak bilang dari kemarin kalau ini rumah sakit punya keluarga lo,” decak Leo, yang kemudian menadapat tatapan bertanya dari ke tiga perempuan yang ada di sana.


“Kenapa emang, Nak?” tanya sari menaikan sebelah alisnya.


“Tahu gitu ‘kan Leo minta gratisan, Ma. Ruang rawat Luna dua hari ini mahal loh tagihannya, tahu punya teman pemilik rumah sakit ‘kan seenggaknya bisa di manfaatin,” ucap leo yang langsung mendapat gempakan dari Sari juga cubitan dari Luna dan Amel.


“Otak lo gratisan mulu Le,” cibir Amel menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

__ADS_1


“Gue itu harus hemat, Mel. Apa lagi tinggal dua bulan lagi Luna ngelahirin, biaya bersalin kan mahal.”


“Nah keluar ‘kan jiwa miskinnya,” kata Luna mencibir, sedangkan Sari hanya geleng kepala.


Sekembalinya membeli batagor, pesanan ibu hamil, Leo kembali melajukan mobilnya keluar dari pekarangan kampus yang sepi karena memang hari sudah sore dan kebanyakan mahasiswa sudah pulang. Beruntung batagor yang di idamkan Luna masih ada.


Batagor yang Leo belikan nyatanya dengan begitu cepat Luna habiskan padahal jarak dari kampus belum terlalu jauh dengan posisi mobil yang di kendarai Leo saat ini. Sari hanya tersenyum maklum, sedangkan Amel menganga tak percaya padahal porsi batagor yang Leo beli cukup banyak.


“Yang, mampir Mcd dulu, aku pengen burger sama eskrimnya,” pinta Luna menunjuk arah depan dimana nama restoran cepat saji itu terlihat.


“Lo belum kenyang barusan makan batagor segitu banyaknya?” Amel ngeri sendiri dengan porsi makan ibu hamil itu.


“Gue kan makannya gak sendiri, Mel,” ucap Luna seyara mengusap perut buncitnya.


“Ya udah, kita mampir kesana dulu aja, sekalian aku juga lapar. Mama gak keberatan kan?” tanya Leo menoleh sekilas pada ibu mertuanya.


“Lo, Mel?”


“Gue ikut aja, Le asal lo bayarin,”


“Najis orang kaya minta di bayarin!” cibir Leo memutar bola matanya malas.


“Sekali-kali orang kaya juga pengen di bayarin rakyat jelata, Le.” Balas Amel terkekeh kecil di ikuti Sari juga Luna.


Selesai memarkirkan mobilnya, Leo membantu sang istri untuk turun dari mobil, mendudukan kembali wanita hamil itu di kursi roda kemudia mendorong perlahan untuk masuk ke dalam restoran cepat saji itu diikuti Amel dan Sari dari belakang.


Leo pergi menuju tempat pemesanan, memesankan burger dan es krim strawberry untuk Luna, kentang goreng dan ayam tepung untuk Amel, nasi dan ayam untuk dirinya dan juga ibu mertua, tidak lupa cola sebagai minumannya. Kembali ke meja yang di isi oleh ketiga wanita berbeda usia dan bentuk tubuh itu, Leo memberikan masing-masing pesanan ketiganya kemudian ikut duduk di sebelah Luna.


“Habiskan, Yang,” ucap Leo pada Luna.

__ADS_1


“Le, aku kok jadi pengen ayam juga ya?” kata Luna sembari melirik bagian Leo.


“Ya udah, nih, punya aku,” Leo memindahkan piring miliknya kedepan Luna sedangkan burger milik istrinya itu ia ambil dan berniat untuk di gigitnya sebelum sang ibu hamil menghentikan burger tersebut masuk kedalam mulut Leo.


“Aku pengen yang baru Le, gak mau punya kamu.”


“Oke kamu tunggu sebentar biar aku pesankan untuk kamu,” Luna mengangguk dan membiarkan Leo bangkit dari duduknya. Luna tidak sama sekali menyentuh makanannya, burger yang sejak dalam perjalanan tadi ia inginkan menjadi tidak selera meski untuk dirinya lihat.


“Lo mau Lun,” tawar Amel mengacungkan kentang goreng yang di pegangnya. Luna menggeleng.


Tidak lama Leo kembali dengan satu piring berisi nasi dan ayam tepung yang di inginkan istrinya. Meletakan piring tersebut di depan Luna kemudian kembali duduk dan mengambil bagian miliknya yang masih utuh.


Mata Luna berbinar, mengambil paha ayam yang sudah di lumuri tepung dan di goreng itu untuk iya makan, tapi baru saja sampai di depan mulut, tiba-tiba Luna meletakan kembali Ayam tersebut, membuat Leo menoleh dan menaikan sebelah alisnya heran.


“Kok gak di makan?” tanya Leo yang masih menggenggam ayam miliknya.


“Pengen punya kamu aja deh Le,” ucap Luna cengengesan. Leo tersenyum dan memberikan miliknya pada sang istri. Lagi Luna hendak menyuapkan Ayam belumur tepung itu kedalam mulutnya, tapi kemudian kembali urung.


“Mel, gue pengen kentang goreng lo,” ucap Luna pada sang sahabat yang hendak memasukan kentang gorengnya ke dalam mulut.


“Habis. Ini tinggal satu,” jawab Amel seraya memperlihatkan box kecil sebagai tempat kentang goreng tadi yang sudah kosong. Sorot mata Luna terlihat kecewa, dan itu cukup membuat Amel merasa bersalah.


“Aku beliin sebentar ya,” Leo dengan cepat bangkit dari duduknya kembali ke tempat pemesanan. Sari yang sudah akan menghabiskan makanannya menggelengkan kepala melihat anaknya. Merasa kasihan juga pada menantunya yang sedari tadi pulang pergi hanya untuk memesankan keinginan sang istri sampai makanan miliknya belum laki-laki itu makan.


Tidak lama Leo kembali dengan satu box cukup besar berisi kentang goreng dan ia berikan pada Luna. “Makan ya, sayang kentang gorengnya masih hangat,” ucap Leo mengelus lembut kepala istrinya.


“Aku makan es krim aja deh, Le. Burger, ayam sama kentangnya buat kamu aja. Aku udah kenyang.” Kata Luna dengan entengnya.


“Kenapa ibu hamil sebenyebalkan ini?” tanya hati Leo, menghela napas panjang dan mengelus dadanya sambil berkali-kali mengucapkan kata sabar.

__ADS_1


__ADS_2