Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
59. Bocah kencur


__ADS_3

Setelah puas mendapat omelan serta wejangan dari sang bunda di tengah ruang kamar rawat Luna, dengan di saksikan oleh istri, mertua juga sang Ayah kini Leo bisa bernapas lega karena Luna berhasil menghentikan Melinda yang terus mengoceh dan mungkin jika saja tidak di tahan akan berlangsung hingga hari gelap atau bahkan kembali terang di ke esokan harinya.


Leo berdiri di samping ranjang rawat istrinya, menatap menuh rasa bersalah pada wanita cantik yang sudah menemani dalam suka dan duka selama tujuh tahun ini, merengkuh tubuh istrinya yang sudah duduk di kasur itu sambl terus-menerus menggumankan kata maaf. Ke empat orang di sana hanya menyaksikan dengan penuh haru.


“Maaf sudah menjadi ibu yang buruk untuk anak kita, Le. Maaf sudah lalai menjaga Queen, aku benar-benar minta maaf,” ucap Luna yang giliran meminta maaf pada suaminya.


Leo menggeleng cepat. “Justru aku yang minta maaf, Yang, aku sudah membentakmu, mencelakai kamu dan calon anak kita, aku minta maaf sudah berlaku kasar padamu. Aku janji tidak akan melakukan itu lagi, tolong jangan benci aku,” mohon Leo menatap istrinya dengan penuh penyesalan.


"Aku gak benci kamu, aku hanya merasa takut juga terkejut mendapati kemarahan kamu," kata Luna, karena memang ikut yang dirinya rasakan begitu Leo membentaknya kemarin.


"Maafin aku, Lun, maaf membuatmu takut. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


Luna mengangguk, menyeka air yang menetes dari mata Leo kemudian tersenyum dan langsung memeluknya dengan erat seraya berkata, “aku memaafkan kamu.”


Bukankah indah jika saling memaafkan? Maka dari itu Leo dan Luna memilih itu untuk kelangsungan rumah tangga mereka, kebaikan keduanya juga kebaikan keluarganya, dan kebahagian mereka semua. Cukup menjadikan ini sebagai pelajaran untuk kedepannya bagi Leo dan Luna yang baru saja di hadapkan dengan pase kedewasaan dalam rumah tangga.


“Aku mau ketemu Queen,” rengek Luna setelah menyudahi acara tangis-tangis dan maaf-maafannya.


“Kamu harus istirahat, sayang.” Jawab Leo dengan lembut.


“Aku udah izin dokter, kok, dan dokter bilang boleh, asal pake kursi roda.”


Leo akhirnya mengangguk dan meminta izin untuk kembali keluar meminjam kursi roda pada perawat sekaligus juga meminta izin ulang.


Tak lama Leo kembali dan langsung memindahkan Luna pada kursi roda tersebut, mendorongnya pelan menuju kamar rawat Queen yang sudah cukup lama Leo tinggalkan. Kedua orang tua Leo juga Luna tidak lupa mengekor mengikuti laki-laki itu dari belakang sampai tiba di ruangan Queen yang ramai oleh celotehan Ratu dan Rapa, menghibur Queen yang tidak juga ingin makan.


“Mami!” teriak Queen dengan suara yang masih terdengar lesu, anak berusia lima tahun itu merentangkan kedua tangannya meminta di gendong.


“Jangan minta gendong Mami, ya, Queen kasihan nanti adik bayinya kegencet,” ucap Leo saat sudah sampai di sisi ranjang anak pertamanya.

__ADS_1


“Queen mau punya adik bayi, Pi?”


“Iya dong, senang gak?”


“Queen gak mau punya adik bayi, Pi, Mi,” ucap Queen dengan polos, semua yang ada di ruangan tersebut menoleh pada Queen dan menatap gadis kecil itu dengan bingung.


“Queen kenapa gak mau punya adik?” tanya Luna dengan nada yang sedih, meraih tangan anaknya.


“Nanti Mami sama Papi lebih sayang adik bayi dari pada Queen,” kepolosan anaknya itu membuat Leo dan Luna geleng kepala.


“Jangan sedih Queen. Meskipun nanti Papi sama Mami gak sayang Queen, kan masih ada Abang yang akan tetap sayang sama Queen,” Rapa berucap seraya menyentuh pipi tembam Queen, tatapan polos yang tulus itu membuat Lyra terpekik tak percaya, sekaligus baper dan terharu mendengar anaknya dapat mengucapkan kata itu dengan lancar.


“Anak kita, ***, anak kita kenapa manis banget itu,” heboh Lyra, memukul-mukul tangan suaminya yang berdiri disisinya.


"Belajar ngebucin dari mana sih lo bocah kencur!" gemas Leo memberikan jitakan kecil pada kening Rapa.


“Ratu mah sirik aja deh mentang-mentang gak ada yang baperin,” cibir Leo meledek anak dari sahabtanya itu.


“Atu gak tahu baper, Pi, yang Atu tahu cuma wafer, enak, berlapis-lapis.”


“Berapa lapis?” tanya Pandu pada anak yang di gendongnya itu.


“Ratusan.” Ratu menjawab dengan cepat kemudian ayah dan anak itu bertos ria seraya tertawa.


Para orang tua yang duduk di sofa ikut tertawa merasa lucu dan terhibur dengan tingkah bocah-bocah itu, sedangkan Luna masih menatap anaknya dengan sedih akibat kehamilannya tidak di sambut gembira oleh anak pertamanya itu.


“Kamu mau ngapain?” Leo dengan cepat bertanya dan menehan pergerakan Luna yang hendak bangkit dari kursi rodanya.


“Mau duduk di ranjang Queen,” jawab Luna menunjuk bagian ranjang yang kosong.

__ADS_1


Leo mengangguk paham dan tanpa kata, ia mengangkat tubuh istrinya dengan tiba-tiba membuat Luna terpekik kaget.


“Mami, kok, di gendong?” heran Queen.


“Adik bayinya lagi kurang sehat, Nak jadi Maminya harus di gendong biar Adik bayinya gak kenapa-napa,”


“Adik bayi sakit juga, kayak Queen?” pertanyaan polos yang di berikan anaknya itu Leo jawab dengan anggukan setelah berhasil mendudukan Luna di ranjang rawat Queen yang kosong.


“Adik bayi nya sedih karena kakak Queen gak mau terima dia,” ucap Luna sedih seraya menundukan kepalanya.


“Kalau adik bayinya lahir nanti, apa Papi sama Mami akan terus sayang Queen, kalian gak akan lupain Queen kan? Mami sama Papi masih mau nemenin Queen tidur? Bacain dongen dan main boneka-bonekaan sama Queen ‘kan?”


“Mami sama Papi pasti akan selalu sayang sama Queen kok ‘kan Queen juga anaknya kami, mana bisa Papi, Mami gak sayang. Dan Mami juga janji akan temenin Queen main boneka, bacain dongeng dan Queen juga boleh kapan aja tidur sama Papi Mami,”


“Ya udah deh, Queen mau punya Adik bayi, tapi janji jangan lupain Queen,” pinta gadis kecil itu. Luna tersenyum lembut kemudian mengangguk, memeluk anaknya kemudian mengecup kening Queen dengan sayang.


Queen melepaskan pelukan sang Mami kemudian menyentuh perut rata Luna seraya berucap, “Adik bayi nanti panggil aku kakak Queen ya, baik-baik di perut Mami nanti kita main boneka sama kakak Queen, Kak Ratu dan Bang Rapa, eh masih ada kakak-kakak yang lainnya juga, nanti Kakak Queen kenalin deh.”


“Queen, Abang gak suka boneka,” protes Rapa cepat.


“Tapi Queen suka, Bang! Abang Rapa kenapa sih apa-apa gak suka terus, mall gak suka, boneka gak suka juga, terus Bang Rapa sukanya apa? Queen heran deh!” gerutu Queen dengan kesal dan wajah cemberut.


“Abang sukanya kamu.”


“Aw… aww Abang, Bunda baper masa?”


“Ck, bocah, baru netes udah jago aja kamu ngegombal, siapa sih yang ngajarin?” gemas Wisnu seraya memberikan sentilan pelan di kening Rapa.


“Untung lo ngegombalnya ke gadis gue, Rap, berani lo gombalin gadis lain gue bunuh Bapak lo!” Leo memiting kepala Rapa dengan gemas

__ADS_1


__ADS_2