
Pukul dua siang, Leo sudah berdiri di depan kelas Luna seorang diri karena begitu selesai kelas Pandu langsung pulang karena sang istri yang tengah hamil besar merengek ingin di temani sang suami.
Sekitar setengah jam bahkan mungkin lebih Leo berdiri, bersandar pada tembok dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam celana. Dosen keluar di susul oleh satu persatu mahasiswa. Dapat Leo dengar bisikan-bisikan dari beberapa perempuan yang menanyakan keberadaannya di sana, ada juga yang tersenyum-senyum genit dan terlalu percaya diri mengaku bahwa Leo tengah menunggu dirinya. Mungkin jika dirinya masih single akan dengan senang hati memberikan senyum ramah dan melayangkan godaan. Namun saat ini itu tidak lagi berlaku karena yang Leo perlihat kan adalah wajah datar dan dingin. Ia tidak ingin membuat istrinya cemburu dengan berakhir marah seperti tadi.
“Luna, suami lo udah nunggu nih, cepat!” satu teriakan itu membuat orang-orang yang masih berada di sana menatap kearah suara. Menatap heran juga bertanya-tanya, sedangkan Leo sudah mengembangkan senyum berterima kasih pada Devi yang sudah meneriakan itu. Karena jujur saja ia risi dengan tatapan-tatapan perempuan genit itu.
Tidak lama Luna keluar sedikit berlari dan mendapati Leo berdiri di sana tidak jauh dari Devi. Dalam hati ia merutuki mulut toa Devi karena kini orang-orang yang ada di sana menatapnya dengan penasaran.
“Yuk pulang, Yang.” Ajak Leo merangkul pundak istrinya yang hanya menerima dengan pasrah berusaha cuek pada orang-orang yang sudah berbisik-bisik.
“Woy Leo, setan lo gak ngajak gue juga?” teriak kesal Devi saat sadar bahwa kedua sahabatnya sudah berlalu terlebih dulu.
“Biasanya juga lo ngintil tanpa di ajak. Ck, buruan deh jangan so manis lo nunggu di seret. Kita ke rumah Lyra minta makan, lapar gue.” Balas Leo berteriak dan itu jelas menjadi perhatian orang-orang yang ada di tempat itu.
“Dasar, udah punya bini masih aja minta makan di rumah orang.”
“Banyak omong lo, Dev. Gue tinggal nih!”
Devi mendengus kesal, menghentakan kakinya dan berjalan cepat untuk menyusul kedua sahabatnya yang lebih dulu berjalan menuju parkiran. Nasib tidak punya pasangan memang, terpaksa mengintil dan jadi obat nyamuk antara Leo dan Luna, atau Pandu dan Lyra. Kadang Devin berpikir kenapa hidupnya semiris ini?
Sesampainya di rumah Lyra-Pandu, ketiga orang itu masuk dan menghampir si tuan rumah yang tengah bersantai di ruang tengah menonton televisi sambil bermesraan. Leo ikut duduk di susul Luna dan Devi.
“Kalian ngapain kesini?” satu pertanyaan keluar dari mulut Lyra yang tengah mengunyah keripik.
“Gue lapar, Ly pengen makan,” jawab Leo seraya mengusap-usap perutnya.
__ADS_1
“Lapar, makan. Kenapa kesini?” delik Pandu yang sudah bisa menebak jawaban yang akan sahabatnya itu keluarkan.
“Gue mau minta makan,” cengengesan Leo menjawab yang berakhir dengan cubitan di perutnya yang dilayangkan oleh Luna.
“Kamu mah malu-maluin,”
“Mending malu-maluin perut kenyang hati senang, Yang, dari pada malu-malu, yang ada nanti malah sakit lambung,” balas Leo, membuat semua yang ada di sana mendengus apa lagi sang tuan rumah.
“Heran gue, doyan amat lo minta makan disini?” Lyra geleng-geleng kepala tak habis pikir.
“Maklumin Ra, Si Leo mah duitnya doang yang banyak tapi jiwanya MissQueen.” Timpal Devi yang mendapat anggukan dari Luna, Lyra dan Pandu. Leo tidak sama sekali terusir dengan itu.
“Disini kan makannya bisa rame-rame, Ra. Jadi nanti lo jangan kaget lagi kalau sarapan dan makan malam gue sama Luna akan kesini,” ucap Leo cengengesan.
“Nanti gue tambahin uang belanjanya, tenang aja Ly, gue gak makan gratis kok.” Balas Leo dengan tenang.
“Nah kalau gitu ok gue setuju lo makan disini.” Senyum Lyra mengembang.
“Dua ribu sebulan, cukup kan?”cepat Lyra melemparkan bantal sofa pada sahabatnya itu.
Luna, Devi dan Pandu hanya tertawa melihat perdebatan antara Leo dan Lyra yang tengah bernegosiasi soal uang belanja tambahan. Walau sudah dewasa dan bahkan Lyra tengah hamil tapi tetap saja kebiasaan berdebat tidak pernah kedua orang itu hilangkan. Luna memang sedikit cemburu, tapi jika di pikir lagi, untuk apa toh mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing saat ini. Lyra dengan Pandu, dan Leo dengan dirinya.
Selesai makan malam, Luna dan Leo pamit pulang, sedangkan Devi sudah lebih dulu pergi saat jam masih menunjukan pukul lima sore tadi. Berjalan bersisian sambil bergandeng tangan membuat suasana malam ini terasa hangat. Luna tidak tahu bahwa kehidupan setelah menikah akan semenyenangkan ini, tapi tetap saja dalam hati ia masih selalu merasakan kekhawatiran tentang rumah tangganya di kemudian hari. Apa masih akan sebahagia ini, lebih atau bahkan justru tidak ada?
Mengingat kembali pada kejadian di kampus menambah kecemasan Luna, mungkin memang kini Leo sudah menjadi suaminya yang sudah berjanji untuk tidak menyakitinya tapi bukankah kita tidak akan tahu bagaimana kedepannya nanti? Luna tahu di kampusnya banyak perempuan cantik dan Luna akui bahwa dirinya jauh jika di bandingkan dengan mereka yang mendekati Leo. Luna tidak bisa percaya diri seperti Lyra dan ia pun tidak bisa bersikap barbar seperti Devi juga Lyra. Bisa di katakan bahwa Luna yang paling lemah diantara mereka maka dari itu ia begitu cemas tidak bisa menjaga miliknya.
__ADS_1
Beberapa waktu lalu mungkin Luna sudah dapat menghilangkan kecemasannya, tapi melihat bagaimana Leo yang di kerubungi perempuan-perempuan cantik membuat kecemasan itu kembali. Luna tidak tahu akan seperti apa jika ada salah satu dari mereka yang membuat Leo nyaman dan membuat suaminya itu tertarik.
Memang tidak baik berpikiran negatif seperti itu, tapi rasa takut dan khawatirnya membuat pemikiran-pemikiran itu hadir menghampiri.
“Yang ... sayang, kamu kenapa?” Leo bertanya saat di perhatikannya Luna yang sedar tadi diam dengan tatapan yang terlihat kosong.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” lagi Leo bertanya, saat tidak juga istrinya itu mengeluarkan suara.
“Le, apa nanti kamu akan ninggalin aku?”
Leo yang mendapat pertanyaan itu jelas terkejut dan sedikit hatinya merasa marah. Leo tidak paham kenapa istrinya tiba-tiba bicara seperti ini.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Aku… aku cuma takut Le, aku takut nanti kamu pergi meninggalkan aku, mengingat begitu banyak perempuan di luar sana yang mengidolakan kamu. Aku …”
“Apa segitu gak percayanya kamu sama aku, Lun?”
Dengan cepat Luna menggeleng. “Bukan gitu, Le, aku hanya merasa gak percaya diri. Aku sadar aku gak ada apa-apanya di banding mereka yang mendekati kamu.”
“Aku suami kamu, Lun kita sudah menikah dan harus kamu tahu bahwa sebuah pernikahan bukanlah sesuatu yang layak di permainkan. Aku sudah pernah bilang bukan, bahwa aku ini milik kamu, begitu pun sebaliknya. Hanya kamu yang berhak atas diriku dan juga sebaliknya. Kamu satu-satunya perempuan yang memiliki aku, lalu apa yang membuat kamu takut dan ragu?” Leo masih berusaha mengontrol nada suaranya walau sebenarnya ia ingi sekali marah dan menegaskan pada perempuan cantik itu bahwa hanya Luna yang berada dalam hatinya.
“Kamu tahu aku gak setegar Lyra, gak sekuat dan sepercaya diri dia. Kamu juga tahu aku tidak secuek Devi, dan sebar-bar dia. Aku hanya takut tidak bisa menjaga milik aku sendiri, Le. Aku takut ada seseorang yang membuat kamu nyaman, dan orang itu bukan aku,” jujur Luna mengutarakan ketakutannya membuat Leo menghela napasnya berat.
“Kamu harus percaya Lun, percaya bahwa aku tidak akan meninggalkan kamu. Tidak akan ada perempuan lain selain kamu dan kamu harus percaya bahwa aku mencintai kamu. Akan tetap seperti itu hingga tua nanti dan hanya maut yang akan memisahkan kita.”
__ADS_1