
“Leo?”
Suara seorang perempuan yang terdengar manis itu menghentikan langkah Luna, Devi Leo, Pandu juga kedua temannya yang berniat akan ke kantin. Mereka semua menoleh ke belakang di mana arah suara berasal termasuk Leo yang memang namanya yang di panggil.
“Ah, ternyata lo benar Leo. Gimana kabar lo? lama banget kayaknya kita gak ketemu,” cerocos perempuan itu dengan semum manis yang mengembang. Tangan Luna mengepal kuat, apa lagi melihat suaminya yang membalas senyum perempuan itu.
“Kabar gue baik, Nes. Lo sendiri gimana?”
“Baik juga kok. Eh, bukannya lo kuliah di Amerika? Kok tiba-tiba ada di sini?” heran perempuan yang di panggil ‘Nes’ tersebut.
“Iya awalnya, tapi Ayah nyuruh pindah,” perempuan itu mengangguk paham.
Pembicaraan yang memang terkesan basa-basi itu masih berlanjut dan Luna merasa sudah tidak kuat melihat dan mendengarnya. Luna muak melihat suaminya begitu akrab dengan perempuan lain yang jelas tidak Luna kenal. Ingin sekali dirinya meluapkan kemarahan ini, tapi harus kalian ingat bahwa Luna tidaklah sekuat dan sepercaya diri teman-temannya. Hendak berbalik badan dan pergi dari sana, tangan Luna di cekal membuat pergerakannya terhenti.
“Oh iya, Nes kenalin ini teman-teman gue, dan ini istri gue,” ucap Leo dengan tersenyum. Tanpa sadar Luna mengulas senyum sedangkan perempuan yang di depan mereka wajahnya terlihat terkejut dan menatap Luna, mengamati penampilannya dari atas hingga bawah dan itu cukup membuat Luna meringis tak nyaman.
Perempuan bernama Nessa itu memperkenalkan diri dan di balas oleh mereka termasuk Luna. Kini tatapan perempuan itu kembali pada Leo yang masih menggenggam tangan Luna dan tentu saja perempuan itu juga melihat tangan yang saling berpagutan.
“Lo kapan nikahnya, kok gak undang gue?” Nessa bertanya dengan wajah yang kini berubah datar, tidak ada lagi senyum seperti tadi.
“Udah hampir enam bulan. Gue kan gak tahu lo ada di mana saking lamanya gak ketemu lagian lo pergi pas udah kelulusan SD, untung aja gue masih ngenalin lo,” ucap Leo yang kini posisi tangannya sudah berpindah merangkul Luna.
“Yang lapar,” Luna memberanikan diri membuka suara. Senyum Leo mengembang mendengar ucapan bernada rengekan itu.
__ADS_1
“Ya udah, kita ke kantin sekarang,” ucap lembut Leo mengusak rambut Luna dengan sayang.
“Gue mau kekantin nih sama yang lain, lo mau gabung?” tawar Leo sekedar basa-basi, tapi tidak menyangka bahwa perempuan itu akan menyetujui ajakannya membuar Luna menggerutu dalam hati dan wajahnya pun terlihat begitu kesal.
Leo tidak sama sekali melepaskan rangkulan tangannya di pundak Luna, bahkan semakin menarik perempuan itu agar lebih dekat, meyakinkan Luna bahwa hanya perempuan itu yang ada dalam hatinya.
Nessa lebih banyak di ajak ngobrol oleh Brian dan Reno, karena Luna dan Leo sedari duduk di kantin malah asik berdua seolah yang lain hanyalah pajangan dan Devi yang duduk di sebelah Pandu meneliti perempuan yang menjadi teman lama Leo. Dari gelagatnya Devi bisa melihat bahwa ada ketidak sukaan dari perempuan itu dengan kemesraan Luna-Leo, tapi Devi cukup bersyukur karena Leo bukan lah laki-laki brengsek dan masih lebih memilih sang istri ketimbang teman lama yang baru di pertemukan lagi setelah sekian lama.
Devi yang memang suka sekali mengamati orang-orang di sekelilingnya juga dapat melihat bahwa sesekali mata berlensa abu-abu itu melirik Pandu yang tengah melahap nasi goreng di hadapannya, Devi jelas tahu tatapan itu walau dengan sekilas. Calon pelakor ini harus segera di basmi, karena Devi tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangga sahabatnya, apa lagi rumah tangganya nanti.
“Nanti kalian pulang belakangan kan?” Devi membuka suara. Pandu dan Leo yang memang di tuju wanita itu mengangguk.
“Kenapa emang?”
“Ya udah gak apa-apa, lagian kasian juga Lyra di rumah gak ada yang bantu ngurus Rapa,” balas Pandu menyetujui.
“Lo kira gue pengasuh,” dengus Luna.
“Lah kan emang iya. Leo sendiri yang bilang kalau kalian mau jadi orang tua kedua buat anak gue sama Lyra, itu berarti siap dong ngurus Rapa?”
“Lo udah nikah?” Nessa bertanya, menghentikan Leo yang hendak mengeluarkan suara membalas ucapan Pandu.
Tentu saja Pandu mengangguk dengan bangga, sedangkan Nessa membelalak terkejut. Devi tersenyum kecil, niat untuk membuka status Pandu secara tidak langsungnya berhasil dan kini ia bisa melihat raut kecewa dari perempuan yang baru di kenalnya itu. Devi jelas tidak bisa membiarakan perempuan lain hadir menjadi pelakor di antara rumah tangga sahabat-sahabatnya apa lagi nanti di dalam rumah tangganya sendiri. Devi tidak akan membiarkan itu terjadi.
__ADS_1
“Pandu ini suaminya Si Lily, Nes. Lo masih ingat dia kan?”
“Lily? Lyra Yeima?” tanyanya memastikan. Leo mengangguk cepat.
“Bahkan dia udah punya anak, usianya baru tiga bulan dan lo harus tahu bahwa mereka nikah sejak SMA.” Jelas Leo yang menambah keterkejutan Nessa.
Setelah terdiam beberapa saat dengan menunduk dan hanya mengaduk-aduk makanannya Nessa bangkit dari duduknya dan pamit untuk pergi. Tentu saja mereka semua mengizinkan karena memang itu yang di harapkan.
“Jiwa-jiwa pelakornya udah bisa gue cium dari tadi sebenarnya,” ucap Brian membuka suara setelah kepergian Nessa. Devi mengangguk setuju dan bertos ria karena pemikiran mereka sama.
“Tapi dia cantik Bro,” kini Reno pun ikut membuka suara. Pandu menggetok kening temannya itu menggunakan sendok, cukup keras sampai membuat Reno meringis.
“Kan emang gitu, Ren yang cantik itu sampingannya jadi pelakor,” Brian menimpali.
“Buat gue yang udah nikah memang harus menghindari perempuan seperti itu, karena lo tahu sendiri kan bini gue kayak gimana? Buas, bro.” Kata Pandu yang membuat mereka tertawa.
“Tapi gue gak bisa buas seperti Lyra, ***, tapi gue bisa mengambil keputusan,” ucap Luna sesaat menelan makanannya.
“Keputusan seperti apa?” Leo bertanya penasaran.
“Surat cerai.”
Dan jawaban Luna sukses membuat Leo pucat seketika sedangkan yang lainnya tertawa melihat itu apa lagi Reno yang memang humornya lebih tinggi.
__ADS_1
“Dan gue siap nunggu jandanya, Luna.” Kata Brian mengundang Leo untuk menghajarnya.