Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
69. Kecelakaan


__ADS_3

“Makanya Dim, lo itu harus banget jauh-jauh dari perempuan-perempuan yang berjiwa pelakor. Udah gini kan lo sendiri yang repot!”


“Ya, kan gue gak tahu bakal kayak gini kejadiannya, Lun. Amel juga malah pergi gitu aja tanpa dengar penjelasan gue dulu,” ucap Dimas lesu. Kesal bercampur dengan khawatir.


“Namanya juga cewek Dim, yang di utamain hati. Lo pikir istri mana yang gak akan marah lihat suaminya pelukan sama cewek lain?”


“Gue gak pelukan sama cewek itu, Lun! Itu kecelakaan!”


“Iya-iya kecelakaan, tapi tetap aja, gue juga pasti melakukan hal yang sama kayak Amel kalau lihat suami gue dalam posisi itu sama perempuan lain.” Dengus Luna melirik tajam pada suaminya, melayangkan sebuah ancaman.


Leo berpindah duduk menjadi di samping istrinya, meraih pundak perempuan itu agar menghadap padanya. “Aku mah setia sama kamu, Yang, jadi tenang aja. Ayah ngasih aku sekertaris cowok, kok jadi, gak perlu khawatir ada drama kayak yang di alami Dimas. Lagian aku udah gak butuh perempuan lain, kamu aja gak habis-habis malah makin nambah cintanya,” ucap Leo dengan nada genit yang kemudian ia daratkan kecupan di bibir istrinya itu. membuat wajah Luna memerah karena malu.


“Lo pada jangan dulu mesra-mesraan napa! Bantu gue mikir ini, istri gue pergi kemana? Gak tahu apa gue pusing, lelah juga!” dengus Dimas yang kesal melihat kemesraan sahabatnya di saat suasana hatinya tengah kacau seperti ini.

__ADS_1


Leo mencebikan bibirnya dan menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, mengamati sahabatnya yang tengah dilanda kebingungan dan kegalauan itu. Menatap jam yang menempel pada dinding, waktu sudah menunjukan pukul 22:30, sudah cukup malam. Kembali lagi Leo menatap wajah kusut laki-laki di depannya yang kini menunduk dengan tangan yang menopang wajah. Cukup memprihatinkan memang, tapi juga menggelikan. Wajah tampan Dimas sepertinya sudah tidak berlaku lagi saat ini.


“Terus sekarang lo mau cari kemana lagi bini lo?” tanya Leo setelah beberapa saat terdiam.


“Gue juga gak tahu, Le. Sudah semua tempat yang biasa Amel kunjungi gue datangi satu persatu dan hasilnya nihil.” Jawabnya putus asa. Menghempaskan punggungnya dengan kasar pada sandaran sofa dan memijat-mijat pelipisnya yang terasa pusing.


“Sekarang udah larut malam, lebih baik lo istirahat dulu, Dim. Besok kita cari Amel sama-sama. Gue yakin bini lo akan baik-baik aja, dia banyak uang gak akan sampai terlantar apa lagi tidur di jalanan.”


Mendengar ucapan Leo tersebut, membuat sudut bibir Dimas terangkat naik. “Lo benar, Le, istri gue banyak uang, dan ini sudah malam itu berarti … hotel! Ya, gue harus nyari dia di hotel, gue yakin dia pasti nginap di salah satu hotel di kota ini.”


“Kenapa coba gue sampai gak mikir kesana! Amel pintar, banyak uang, mana mungkin kabur ketempat teman-temannya yang akan dengan mudah gue temuin. Ck!” Dimas berbicara pada dirinya sendiri, berdecak kemudian mengelengkan kepala beberapa kali dengan tangan yang masih fokus pada layar ponsel di genggamannya.


“Tadi kayak orang linglung yang gak tahu tujuan hidup sampai gue iba lihatnya, eh sekarang senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Salah apa gue punya teman kayak gini modelannya.” Desah Leo kemudian memilih untuk kembali ke kamar, menyusul anak dan istrinya yang sudah masuk lebih dulu. Masa bodo dengan sahabatnya yang setengah gila itu.

__ADS_1


Dimas yang ke asyikan dengan ponselnya sampai tidak menyadari bahwa sang tuan rumah sudah tidak berada di depannya, niat untuk meminta bantuan Leo mengantar dirinya kesalah satu tempat membuat Dimas urung begitu melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan bahwa malam semakin larut.


Tidak enak juga jika harus mengganggu waktu istirahat sahabat satunya itu. Dengan wajah yang tidak sekusut tadi, Dimas memilih untuk pergi dari rumah ini tanpa lebih dulu pamit pada pemiliknya.


Melajukan mobilnya keluar dari pekarang rumah Leo-Luna, Dimas tersenyum-senyum sendiri di sepanjang jalan, tujuannya adalah sebuah hotel yang cukup jauh dari sini, tapi itu tidak akan membuat Dimas mengurungkan atau menunda niatnya menjemput sang istri juga anaknya. Beruntunglah dia memiliki teman yang ahli dalam lacak melacak sampai akhirnya ia bisa dengan mudah menemukan di mana istrinya berada saat ini.


Waktu memang sudah menunjukan tengah malam, jalanan sudah cukup lenggang dan itu membuat laju mobil Dimas cukup kencang kerena saking tidak sabarnya ia ingin segera berjumpa dengan Amel sampai tidak sadar bahwa dirinya berada di sebuah belokan dan di depannya sebuah bus melintas dengan kecepatan tinggi sampai mobil yang di kendarainya terpental jauh dan berguling hingga menabrak pembatas jalan begitu juga dengan bus itu.


Rasa sakit di sekujur tubuhnya begitu terasa dan bau anyir darah tercium oleh indranya. Dimas masih dapat mendengar suara jeritan banyak orang yang entah berasal dari mana, orang-orang datang menghampiri pun masih dapat dirinya lihat walau samar sampai akhirnya matanya benar-benar terpejam dan tidak ada lagi bayangan yang dapat dirinya lihat, semua gelap hanya suara teriakan, tangisan juga suara orang-orang di sekitar sana lah yang dapat Dimas dengar.


Dimas merasa seolah-olah berada di ujung kematian apa lagi saat rasa sakit itu seakan meremukan semua tulang-tulangnya. Dalam pikiran dan hatinya ia memohon pertolongan tuhan, memohon untuk dirinya di kuatkan karena Dimas tentu tidak ingin mati sebelum niat awal menjelaskan kesalah pahaman pada istrinya tersampaikan. Ia tidak ingin mati sebelum kata maaf ia dapatkan dari Amel.


Gedoran dan pecahan kaca dapat dengan jelas Dimas dengar sampai sebuah guncangan dirinya rasakan, tubuhnya terangkat yang kemudian kembali di letakan sampai akhirnya sebuah ledakan tergengar di susul dengan jeritan yang semakin kuat memekakan pendengarannya.

__ADS_1


Dimas tidak tahu bagaimana keadaan di sekelilingnya, karena seolah suara-suara saling bersahutan dari berbagai arah. Dalam keadaan setengah sadarnya Dimas ingin sekali menyampaikan pada siapa saja yang ada di dekatnya untuk membawa dirinya pada sang istri, tapi mulutnya seolah kelu, suaranya seakan habis dan sekarang bahkan Dimas benar-benar kesulitan hanya untuk sekedar bernapas.


“Amel…” panggil lirih Dimas sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


__ADS_2