Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
28. Panik


__ADS_3

Sudah sejak Rapa lahir sebenarnya Leo dan Luna menginginkan bayi itu untuk menginap barang semalam saja di rumahnya, tapi selalu di tolak keras oleh Pandu dan Lyra. Namun tidak untuk malam ini karena ternyata dengan rengekan Luna yang memohon juga bantuan dari Levin, akhirnya ia bisa membawa Rapa menginap di rumahnya.


Setelah pamit pada sepasang orang tua muda itu, Luna dan Leo langsung membawa Rapa menuju rumahnya dan langsung mengunci pintu tersebut dengan rapat dan membawa bayi mungil berusia tiga bulan itu menuju kamar mereka. Perlengkapan untuk Rapa, Leo simpan di meja yang berada di kamarnya sedangkan Luna sudah bermain di ranjang bersama anak dari pasangan Pandu-Lyra, Leo menyusul dan ikut bermain dengan bocah itu.


Desiran hangat ia rasakan saat matanya melihat Luna yang baik saat berinteraksi dengan bayi itu. Leo jadi membayangkan jika itu adalah anaknya dan Luna, sudah pasti ia akan sangat bahagia.


Tak lama setelah menghabiskan satu botol susunya Rapa tertidur, Luna tersenyum melihatnya begitu pun Leo. Keduanya sama-sama memberikan kecupan dan ucapan selamat malam pada bocah lucu itu sebelum kemudian Leo bersandar pada kepala ranjang, meminta istrinya mendekat dan langsung memeluk Luna dengan erat seraya melayangkan kecupan di puncak kepala istrinya.


“Yang, boleh gak aku minta kamu hamil?” Leo membuka suara setelah bebrapa saat hanya berada dalam keheningan.


“Kamu udah siap memang?” Luna mendongakan agar bisa melihat wajah tampan suaminya.


“Aku gak tahu, tapi setiap lihat Rapa apa lagi menggendongnya hati aku mendadak menghangat dan keinginan memiliki anak itu semakin besar," ucap Leo sambil menatap wajah damai Rapa yang tengah tertidur di tengah-tengah mereka.


Luna ikut memperhatikan wajah menggemaskan anak dari sahabtanya itu. Fan sekarang ia sadar bukan hanya dirinya saja yang merasakan itu, tapi ternyata Leo pun sama. Sejak hari dimana Rapa terlahir, Luna memang sudah merasa menginginkan sang buah hati, tapi rasa takut dan khawatir itu tidak bisa Luna enyahkan. Tangan Luna terulur mengelus pipi tembam Rapa juga kepala bocah itu, senyumnya tidak bisa ia tahan sampai sebuah tangan besar menangkup wajahnya membuat Luna menoleh dan mendapati Leo dengan tatapan lembutnya.


“Kuliah gak akan lama lagi kok, aku siap nunggu sampai kita lulus.” Leo berkata dengan sorot mata yang lembut. Luna tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Memang kuliahnya tidak akan lama lagi dan semoga saja Luna lulus tepat waktu jadi bisa secepatnya ia menghantikan pencegahan untuk hamil. Luna tahu suaminya begitu menginginkan dirinya hamil karena itu juga yang Luna inginkan, tapi rasa ragu dalam hatinya masih belum bisa Luna hilangkan.


♥♥♥


Menyesuaikan cahaya, Luna mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya bisa terbuka dengan sempurna. Luna menoleh kesamping, suaminya masih tertidur lelap membelakanginya, tapi Luna merasa ada yang janggal saat melihat tengah-tengah tempat tidur. Beberapa detik Luna terdiam sebelum akhirnya menjerit keras yang berhasil membangunkan Leo dan membuat laki-laki itu langsung duduk saking terkejutnya.


“Yang, Rapa mana?” tanya Luna dengan panik.


“Rapa?” Leo mengerutkan keningnya belum paham sepenuhnya dengan pertanyaan yang di lontarkan sang istri.


“Leo, Rapa mana!” sentak Luna keras membuat Leo terkejut dan itu sukses membuat dirinya tersadar dan langsung menoleh ke samping dimana semalam Rapa tertidur. Kini Leo pun sama paniknya dan segera turun dari ranjang segera keluar dari kamar dan berjalan cepat di ikuti Luna dari belakang. Setiap pintu Leo buka, tapi tidak juga menemukan yang di carinya.


“Tenang dulu, Le mungkin aja Rapa udah di ambil sama Pandu dan Lyra,” ucap Luna mencoba menenangkan suaminya itu walau dirinya sendiri pun masih merasakan kecemasan itu. Leo mengangguk, membenarkan apa yang istrinya itu katakan. Mencoba tenang dan berpikir positif Leo kembali naik ke lantai atas masuk ke kamarnya untuk mengenakan pakaian sebelum datang ke rumah sahabatnya yang bersebelahan.


Leo dan Luna berusaha terlihat tenang dan baik-baik saja saat keluar dari rumahnya, menyempatkan dulu bertanya pada satpamnya perihal siapa yang masuk dari semalam atau tadi pagi, tapi lagi-lagi Leo kecewa dengan sebuah gelengan yang di dapat.


“Dari semalam sampai pagi ini gak ada yang berkunjung, Den.”

__ADS_1


“Bapak yakin? Gak lagi bohongin saya kan?” tanya Leo menyelidik.


“Benar Den, semalam sejak Aden dan non Luna pulang saya langsung tutup gerbangnya dan saya kunci. Malah saya bergadang sampai pagi karena nonton bola, dan gak ada yang masuk.”


Leo mendesah kecewa, mengusap wajahnya kasar dan keluar dari gerbang tersebut berjalan menuju rumah Pandu-Lyra dalam hati ia berharap bahwa Rapa ada di rumah itu. Luna sedari tadi tidak mengeluarkan suara karena jujur saja kepanikannya tidak bisa hilang begitu saja, bahkan wajahnya kini sudah sembab karena menangis sedari tadi.


Sampai di rumah sahabatnya itu Luna dan Leo langsung masuk dengan harapan besar bahwa Rapa berada di dalam sana, Luna mencengkram kuat tangan Leo, menyalurkan kegugupan juga ketakutannya. Meskipun Leo juga merasakan hal yang sama dengan istrinya itu tapi disini Leo harus lebih tegar agar istrinya tenang.


Luna dan Leo langsung menuju ruang makan karena yakin kalau penghuni rumah berada di sana. Dan benar saja bahkan Lyra sepertinya hendak menghampiri. Perempuan itu menanyakan keberadaan anaknya, yang membuat Luna kembali panik dan takut, sedangkan Leo berusaha setenang mungkin, tapi tidak saat mengetahui pakta bahwa mereka juga tidak bersama Rapa bahkan dapat Luna lihat keterkejutan di wajah Lyra yang kini sudah meneteskan air mata saat Leo menjelaskan bahwa Rapa yang tiba-tiba hilang.


Segala makian Lyra keluarkan dan itu membuat Luna juga Leo merasa bersalah. Di dukung dengan kemarahan Pandu juga yang membuat Luna semakin takut. Leo sudah mencari di setiap sudut rumah Lyra-Pandu takut-takut mereka menyembunyikan Rapa untuk mengerjainya tapi sayang, ia tidak menemukan bayi itu di mana pun.


Mereka semua bingung, Leo frustasi dan Lyra juga Luna memangis bahkan Levin pun ikut bingung. Pandu menengkan istrinya yang terus menangis memanggil-manggil nama Rapa. Terdengar pilu dan sukses membuat Leo juga Luna merasa bersalah. Leo bahkan sempat berpikir ulang tentang keinginannya membunya bayi saat ini.


Namun di tengah ketegangan dan kepanikan kelima orang itu satu suara membuat mereka semua menoleh termasuk Luna dan Leo keduanya mengaga dan membelalakan matanya tak percaya saat melihat dengan santainya Lyra mengambil Rapa dari gendongan Bi Nani yang baru saja datang.


Leo dan Luna saling pandang kemudian keduanya sadar bahwa mereka tengah di kerjai. Tentu saja Leo dan Luna kesal bahkan marah apa lagi tadi Lyra sempat memaki mereka dan mengatakan bahwa mereka tidak becus menjaga Rapa, tapi jika di pikir lagi yang di katakana Lyra dan Pandu memang benar, tidak seharusnya mereka tidur begitu nyenyak sampai tidak menyadari bahwa ada yang masuk dan mengambil Rapa, padahal bayi itu tidur di antara mereka, tapi tetap saja Luna dan Leo tidak menyadari bahwa semalam sepasang orang tua muda itu datang untuk mengambil kembali anaknya.

__ADS_1


Dalam hati Leo mengumpat juga menyadari kecerobohannya. Dari sini ia tahu bahwa dirinya dan Luna sepertinya memang belum cocok menjadi sosok orang tua.


__ADS_2