Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
63. Sweet Moment


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, Queen dan Ratu begitu bahagia ketika melihat adanya anak dari Aunty-aunty nya, dan tanpa mengganti pakain lebih dulu Queen langsung mengeluarkan semua mainannya, membuat kamar Luna kini berntakan di penuhi dengan mainan itu.


Sebagai anak yang paling tua diantara yang lainnya, Rapa mencoba untuk mengikuti semua keinginan adik-adiknya yang saat ini tengah bermain di lantai kamar Luna, sedangkan para ibu duduk di ranjang.


Berhubung Ratu, Queen, Dania dan Melda adalah perempuan jadi, yang mereka mainkan adalah sebuah boneka dan kawan-kawannya, padahal Rapa jelas tidak menginginkan permainan ini. Bisa di ingatkan bahwa Rapa adalah seorang anak laki-laki yang ingin bermain bola, robot-robotan atau mobil-mobilan, tapi harus terpaksa mengalah karena nyatanya bocah itu kalah suara dari adik-adiknya.


“Cuma gue doang masa yang punya anak cowok? Kasihan banget kamu Bang,” ucap Lyra lesu melihat anak laki-lakinya yang terlihat enggan ikut bermain bersama keempat anak perempuan itu.


“Papi sama Ayah kapan pulangnya sih, Mi, Bun? Abang mau main bola, bukan boneka!” keluh Rapa merengek putus asa, menatap sedih keempat perempuan dewasa itu dengan tatapan memelas meminta pertolongan.


“Sabar ya, Bang, Papi sama Ayah pulangnya sore,” Luna menjawab dengan nada kasihan.


“Kenapa sih Aunty-Aunty malah ngelahirin anak perempuan bukannya laki-laki, kan Abang jadi gak ada temannya. Bunda juga kenapa malah ngasih Abang Adik perempuan, kenapa gak laki-laki aja, biar Abang gak harus di paksa ikut main boneka!”


“Ye, emangnya kita bisa nawar apa? Itu sudah ketentuan Tuhan, Bang, laki-laki atau pun perempuan harus kita syukuri.”


“Kamu protesin anak Aunty juga Bunda kamu, terus kenapa gak sekalian protesin Mami kamu juga?” Devi bertanya seraya mendelik kesal.


“Ya, kalau anaknya Mami laki-laki masa iya Abang di jodohin sama laki-laki, apa kata dunia nanti?”


“Ck, bocah, kayak tahu aja lo apa artinya di jodohin,” Amel geleng-geleng kepala.


“Tahu dong Aunty, kan Papi udah jelasin, kalau nanti dewasa Abang nikah sama Queen, jadi suami istri kaya Mami dan Papi, juga Bunda sama Ayah dan Aunty sama Uncle.”


Devi dan Amel sama-sama geleng kepala takjub dengan ke cerdasan bocah yang baru akan beranjak tujuh tahun itu. “Siapa sih yang ajarin si Rapa dewasa sebelum waktunya?”


“Ya, siapa lagi kalau bukan Mak, Bapaknya.” Luna dan Lyra tertawa seraya bertos ria.

__ADS_1


“Dasar orang tua sableng!”


♥♥♥


Menjelang malam, Leo pulang dengan wajah lesu yang begitu ketara. Queen yang tengah belajar bersama sang Mami langsung turun dan menghampiri Papinya itu meminta di gendong.


“Papi kamunya lagi cape, Nak, nanti aja di gendongnya biar kan Papi istirahat dulu.”


“Oke Mami, Queen cuma mau cium Papi aja kok,” jawabnya seraya mengecup pipi Leo dan meminta untuk kembali di turunkan.


Leo mengusak rambut panjang anaknya mengecup pipi juga pelipis anaknya itu sebelum akhirnya menurunkan Queen yang langsung naik kembali ke atas kasur.


Luna menyalami punggung tangan suaminya, dan membawa tas kerja serta jas yang sudah tersampir di tangan laki-laki itu. “Kamu mandi dulu ya, air hangatnya udah aku siapin. Setelah itu baru kita makan.”


“Siap istriku sayang,” ucap Leo tersenyum seraya memberikan kecupan hangat di kening Luna.


“Gak rewel sama sekali bahkan aku sejak pagi baik-baik aja, gak ada juga yang aku pengen sampai saat ini,”


Leo menaikan sebelah alisnya merasa heran, mengingat kehamilan pertama Luna dulu jelas Leo masih ingat bagaimana istrinya itu ngidam dan mual-mual ketika pagi hari, tapi mendengar sekarang tidak ada keluhan sama sekali membuat Leo khawatir, ia juga takut kalau…


“Besok kita kerumah sakit ya,”


“Mau ngapain?” bingung Luna.


“Cek kandungan kamu.”


“Aku kan baru pulang dari rumah sakit kemarin, Le?”

__ADS_1


“Please turutin maunya aku,” mohon Leo yang saat ini tengah mengelus lembut permukaan perut Luna. Menghela napas pelan akhirnya Luna mengangguk pasrah.


“Aku hanya gak ingin bayi kita kenapa-napa Lun, kamu ngerti kan?”


“Iya aku ngerti, Le,” jawab Luna tersenyum. “Ya sudah kamu mandi gih, keburu dingin nanti airnya,”


Leo mengangguk dan kembali melayangkan kecupan pada kening dan Bibir Luna sebelum akhirnya laki-laki itu benar-benar masuk ke kamar mandi.


Tak lama Leo sudah menyelesaikan mandinya. Kini wajah pria itu terlihat lebih segar, tidak sekusut dan selelah sebelumnya.


“Queen mana?” Leo bertanya seraya menghampiri istrinya yang tengah berdiri di depan lemari, memilih baju untuk di pakai oleh Leo.


“Duluan ke ruang makan, yayangnya udah datang untuk makan bersama,” jawab Luna dengan senyum mengukir indah.


“Ini gila gak sih? Kita benar-benar jodohin anak kita di usia sekecil ini? Geli sebenarnya, tapi juga merasa lucu,” kata Leo tersenyum geli.


“Semoga saja mereka benar-benar berjodoh,” tambah Luna. “Tapi jika pun nanti mereka ketika dewasa merasa tidak cocok satu sama lain dan memilih untuk mengakhiri perjodohan ini, aku tidak akan memaksa mereka untuk tetap bersama dan melanjutkan apa yang sudah kita rencanakan karena bagaimana pun kebahagian keduanya lah yang paling utama.” Leo mengangguk setuju dengan ucapan istrinya itu.


“Tapi dulu kita juga menikah karena di jodohkan loh, Yang, dan sekarang tetap bahagia aja malah mau nambah anak lagi ini,” ucap Leo seraya mengelus perut Luna yang masih rata kemudian satu kecupan singkat Leo daratkan pada bibir istrinya yang sejak tadi seolah mengundang Leo untuk cicipi.


“Ya, itu karena kamu memang mencintai aku, makanya pernikahan kita berjalan hingga sekarang walau berawal dari sebuah keterpaksaan.”


“Memangnya kamu gak cinta sama aku?” tanya leo dengan satu alis terangkat.


“Kalau gak cinta mana mungkin aku mampu bertahan hingga saat ini?” jawab Luna dengan manja seraya melingkarkan tangannya pada pinggang Leo.


“Makin cinta deh sama kamu, Love you istriku.” Gemas Leo mencubit kedua pipi tambam istrinya kemudian mengecup kening, mata, pipi, dagu dan berakhir di Bibr Luna.

__ADS_1


“Love you to suamiku.”


__ADS_2