
Satu minggu ini, Leo benar-benar sibuk dan selalu pulang malam, bahkan di hari libur pun ia masih harus bekerja sampai tidak ada waktu untuk anak dan istrinya. Salahkan pekerjaannya yang banyak dan menyita waktu, membuat Leo harus kehilangan momen bersama Queen yang selalu saja sudah tidur ketika dirinya pulang dan sudah berangkat sekolah begitu dirinya bangun.
Leo selalu pulang malam, bahkan kadang menjelang pagi. Dan itu membuat Luna khawatir dengan kesehatan sang suami, tapi mau bagaimana lagi, melarang pun selalu suaminya itu abaikan, karena Leo adalah laki-laki yang pantang meninggalkan pekerjaan sebelum selesai.
Queen hampir tiap hari merengek karena ingin menonton tv dengan sang papi, bercanda dan berdebat dengan ayahnya itu, dan Luna-lah yang kadang kewalahan untuk menenangkan anaknya. Sudah terbiasa melakukan semua itu bersama Leo membuat Queen akhirnya kesepian begitu ayahnya sibuk. Dan itu membuat Luna merasa sedih.
Di hari minggu ini, Luna yang merasa kesepian dan juga Queen yang tengah merajuk karena sang ayah tidak ada di rumah, akhirnya memutuskan untuk mengajak anaknya itu pergi ke arena bermain yang berada di mall bersama Rapa, Ratu dan juga Lyra yang kebetulan, Pandu sedang di minta Leo untuk membantu. Jadi, lengkap kedua ibu itu tengah sama-sama tanpa suami.
Menunggu anak-anak puas bermain, Lyra dan Luna hanya duduk di luar bersama orang tua anak lainnya yang juga tengah berada di arena main ini, yang sesekali saling bertegur sapa, hanya untuk sekedar basa-basi karena sedang berada di tempat yang sama. Berinteraksi dengan ibu-ibu lainnya membuat Luna sedikit banyak tahu bagaimana mereka.
Ibu-ibu yang Luna dan Lyra temui di tempat ini beragam, ada yang humoris, bawel, pendiam, bahkan ada juga yang sombong dan berlaku seolah selebritis. Begitu menyenangkan dapat mengenal banyak orang dan bisa shering tentang pengalaman mengurus anak-anak, tapi lebih banyak yang Luna tidak suka mengobrol dengan mereka, selain karena ada yang terlalu menyombongkan diri juga ada yang terkesan membuka aib suami atau keluarganya sendiri, membuat Lyra dan Luna kadang meringis dan memilih untuk tidak terlalu mendengarkan.
“Bunda, Abang lapar,”
“Ratu juga,”
“Queen gak lapar?” tanya Lyra karena tidak mendengar keluhan dari anak sahabatnya itu seperti yang di keluhkan Rapa dan Ratu.
“Lapar, tapi Queen masih pengen main disini, gak mau pulang dulu.” Ucapnya dengan cemberut.
“Abang sama Ratu masih mau main disini gak?” tanya Luna pada kedua bocah itu. keduanya mengangguk.
“Ya udah, kalau gitu, kalian masuk lagi aja, biar Bunda yang beli makanan.” Ketiganya mengangguk dan kembali masuk, sedangkan Lyra pergi menjauh dari arena bermain itu setelah meminta Luna untuk diam disana menunggu anak-anak.
Lyra berjalan sambil melihat-lihat kanan kiri, mencari tempat yang menjual makanan kesukaan anak-anaknya, sampai matanya melihat ke dalam café yang cukup sepi tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, dan melihat seseorang yang di kenalnya, tapi sebelum menghampiri orang tersebut, Lyra lebih dulu memesan makanan untuk anak-anaknya. Namun matanya tidak lepas mengamati gerak gerik orang itu, sampai pesanannya selesai di bungkuskan.
Berjalan dengan senyum di buat secerah mungkin, Lyra mendekat ke meja yang di duduki dua orang dewasa itu yang sejak tadi Lyra perhatikan. Entah apa yang sedang menjadi topik obrolan mereka, karena begitu Lyra sampai di dekat meja itu, percakapan berhenti karena si laki-laki lebih dulu menyadari kehadiran Lyra. Terlihat keterkejutan di wajahnya, tapi Lyra abaikan itu dan terus jalan menghampiri kedua orang itu.
“Hallo, Pandu,” sapa Lyra dengan ceria, seakan bahagia bertemu dengan suaminya di tempat yang tidak di duga sebelumnya ini.
Mungkin jika tidak melihat pria itu bersama perempuan, Lyra akan sangat bahagia dan menjerit kesenangan, tapi sekarang justru sebaliknya karena yang ingin dirinya lakukan sekarang adalah memaki suaminya juga wanita, yang sayangnya cantik itu.
__ADS_1
Masih ingat bukan bahwa, Lyra bukanlah perempuan yang suka langsung menindak sebelum tahu siapa wanita yang tengah berada di hadapan suaminya, Lyra tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri, kecuali begitu melihat ketertarikan nyata di kedua mata perempuan yang bersama suaminya dan wanita itu berani menggoda suaminya secara blak-blakan, maka Lyra tidak akan segan-segan melabraknya meskipun sedang berada di tempat ramai sekalipun.
“Kamu kok disini, Bun?” tanya Pandu dengan heran.
“Aku lagi ajak anak-anak main sama Luna. Bosan di rumah gak ada kamu,” jawab Lyra dengan suara manjanya.
“Sini duduk,” titah Pandu yang menepuk kursi di sebelahnya.
Sekilas Lyra menolah pada wanita yang entah sejak kapan bersama suaminya itu, ada raut tidak suka yang dapat Lyra tangkap sebelum akhirnya memutuskan untuk menuruti titah sang suami yang memintanya duduk.
“Anak-anaknya mana?” tanya Pandu lagi begitu tidak mendapati Luna dan anak-anak di sekelilingnya.
“Di arena beramain, tadi Rapa sama Ratu ngerengek lapar, tapi gak mau pergi dari tempat bermain jadi, deh, aku beli makan dulu.” Lyra memperlihatkan kantung berisi makanan yang semula di belinya. Pandu mengangguk paham.
“Ayah lagi ngapain disini?” tanya Lyra kali ini. Sesekali matanya melirik wanita di depannya itu, untuk memastikan raut wajahnya. Lyra hanya tidak ingin salah paham pada perempuan itu, sedangkan pada Pandu, Lyra percaya, suaminya itu tidak akan menghianatinya lagi, meskipun kemungkinan khilaf itu bisa saja terjadi.
“Lagi kerja, Bun. Leo lagi sibuk banget di kantor, jadi aku yang di minta untuk gantiin dia ketemu clien.” Jelas Pandu. Lyra mengangguk-angguk paham.
“Ini sekretarisnya, Bun. Clien yang membuat janji sama Leo belum datang, padahal kita sudah menunggu setengah jam disini.” Keluh Pandu yang terlihat sudah bosan.
“Kok bisa, sekretarisnya datang duluan? Emang perusahaan mana yang buka setiap hari? Kamu yakin, kalau ini bukan sekedar akal-akalan dia aja? Membuat janji palsu misalnya?”
“Heh, Mbak jangan asal bicara anda! Saya jelas-jelas datang karena memang di minta atasan saya untuk menemani beliau bertemu dengan Pak Leo. Mana saya tahu kalau wakilnya yang datang, dan bos saya belum datang?!” perempuan itu mendelik kesal pada Lyra.
Lyra mengangguk-anggukan kepala, berpura-pura mengerti. Pandu sejak tadi mencoba menegur, tapi sama sekali tidak istrinya itu hiraukan.
“Kamu udah baca berkasnya, Yah?” tanya Lyra pada suaminya.
Pandu mengangguk sekaligus memberikan berkas itu pada Lyra untuk istrinya itu baca. Berkasnya memang asli, dan itu berisi tentang pengajuan kerja sama antara perusahaan Leo dengan perusahaan tempat wanita itu bekerja.
Dan keyakinan Lyra tentang wanita di depannya bekerja di perusahan itu bertambah saat melihat tanda pengenal yang menggantung di leher perempuan itu, tapi …
__ADS_1
“Kamu sekretaris di perusahaan Athamaya Group?” tanya Lyra untuk memastikan.
Dengan bangga perempuan itu mengangguk. “Saya sekertaris Pak Levin Adiyatamaya Zikri.”
Pandu yang mendengar terkejut dan langsung menoleh pada Lyra yang bahkan saat ini sudah tertawa di tempatnya, sedangkan perempuan yang mengaku sekretaris Levin itu menatap Lyra dengan kening berkerut.
“Astaga, Pandu sayang, kamu kenapa bisa sampai lupa kalau kakak ipar kamu itu harus dan kudu banget ada di rumah di hari libur? Ck, kamu juga gak teliti banget jadi orang! Untung aja ketemu aku disini, kalau enggak ... bisa di gondol kucing kamu, haha.”
Tawa Lyra semakin pecah dan kebingungan perempuan itu semakin terlihat bahkan kini wajahnya sudah memerah karena kesal, sedangkan Pandu kembali membaca berkas di depannya dan membaca baik-baik nama perusahaan yang menjadi clien-nya.
“Aku gak baca nama perusahaannya, Bun…”
“Haha, udah-udah aku paham kok,” ucap Lyra di sisa-sisa tawanya. Mengusap wajah Pandu agar menghentikan raut bersalahnya.
“Astaga, lo kerajinan banget kerja di saat boss lo leha-leha di rumah?”
“Maksud anda apa bi…”
“Levin, Abang gue, dan Athamaya Group adalah perusahaan bapak gue, Leonard Michael Atamaya. Kayaknya lo sekretaris baru Bang Levin deh?” wanita itu mengangguk pelan, wajahnya kini terlihat terkejut dan itu membuat Lyra semakin puas.
“Pantesan lo gak kenal Leo sama Pandu, karena sekertaris Bang Levin yang dulu sudah hapal satu sama lain. Ck, lo nyari target bos-bos muda yang kaya raya dan berharap terpesona sama penampilan murahan lo? Haha, tapi sayang, sasaran lo gak tepat!”
Wajah perempuan yang tidak penting Lyra tahu namanya itu sudah merah padam, karena malu dan kesal, tapi tidak bisa melayangkan kemarahannya, jadilah hanya bisa memendam. Dan Lyra puas dengan tontonannya kali ini. Sudah lama rasanya ia tidak bertemu pelakor-pelakor dan mempermalukan mereka, tapi jangan lupakan kekesalan Lyra pun tetap ada pada suami yang tidak telitinya itu! Untung saja Lyra datang dan mengorek semuanya, jika tidak sudah di pastikan bahwa Pandu akan terus berduaan dengan perempuan tidak tahu malu itu. Ingatkan juga untuk Lyra mengadukan ini pada Levin dan Ayahnya.
“Hampir aja kamu ketipu sama itu perempuan!” gemas Lyra begitu keluar dari café bersama Pandu yang memilih ikut dengan istrinya.
“Maaf, Yang, aku gak teliti dengan itu dan mungkin saat itu Leo pun tidak terlalu fokus karena kesibukannya, apa lagi sekarang sekertaris dia sedang cuti,”
“Iya-iya aku paham, tapi ingat, lain kali harus lebih hati-hati lagi, jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi. Ya, kecuali kalau kamu memang suka bertemu dengan perempuan-perempuan seperti tadi, tapi awas aja sampai itu terjadi! Aku tendang kamu dari kehidupan aku dan anak-anak!”
“Makin sadis aja ancamannya.” Guman Pandu pelan seraya bergidik ngeri.
__ADS_1