Sahabat Yang Kunikahi

Sahabat Yang Kunikahi
88. Rindu


__ADS_3

Sepulangnya Leo, Lyra benar-benar memarahi sahabatnya yang teledor dan tidak teliti itu. Dengan emosi bersungut-sungut Lyra mengutarakan kekesalan akibat wanita kucing sialan tadi.


Sepanjang Lyra mengomel, Leo awalnya diam, masih bingung dengan yang di maksud sahabatnya, tapi setelah lebih panjang lebar wanita itu berbicara, barulah Leo paham akan masalahnya.


“Itu dokumen pengajuan kerja sama asli, gue sama Bang Levin memang sudah merencanakan ini, juga sudah membuat janji temu. Gue mana tahu kalau sekertarisnya mempercepat pertemuan dan berakhir seperti ini? Sekertaris gue keburu cuti dan Pandu gak tahu apa-apa selain menerima titah gue untuk memenuhi jadwal, dan lagi gue juga gak tahu kalau sekertaris gue masukin itu jadwal pertemuan ke hari ini. Lo jangan salahin gue juga dong, Ly! Ini bukan karena gue gak teliti, tapi sekertaris Bang Levin-nya aja yang pintar nipu.”


“Terus kenapa harus Pandu? Hampir aja, laki gue di gondol kucing.”


“Nasib Pandunya aja yang emang selalu sial mulu. Mungkin juga itu cara Tuhan menguji dia, cepat goyah apa enggak di hadapkan dengan perempuan penggoda.” Kata Leo asal, setelah itu pergi dari hadapan sahabatnya. Menghadapi Lyra memang melelahkan, di tambah dengan dirinya yang baru saja pulang kerja.


Luna mengikuti Leo masuk ke dalam kamar. Sedari tadi memang inginnya menyeret laki-laki itu untuk istirahat, tapi sepertinya Leo lebih memilih menyelesaikan dulu semua masalah dari pada nanti istirahatnya harus terganggu. Apa lagi berhadapan dengan Lyra, sudah dapat di pastikan wanita itu akan terus menggedor pintu kamarnya dan berteriak-teriak demi kekesalannya tersampaikan pada Leo.


“Mandi dulu Le, itu air hangatnya sudah aku siapkan.” Leo mengangguk dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Luna berjalan menuju lemari, mengambil pakaian untuk suaminya itu kenakan setelah mandi, kemudian keluar dari kamar karena harus menyiapkan untuk makan malam nanti.


Memang sejak para suami bekerja, mereka sudah sangat jarang makan bersama dengan keluarga Pandu dimana dulu adalah rutinitas rutin mereka. Bukan tidak ingin, tapi waktunya sudah tidak seluang dulu lagi. Lagi pula saat ini anggota keluarga masing-masing sudah bertambah, dah Leo tidak lagi merasa kesepian, sebab ada Queen yang menjadi temannya membuat kerusuhan.

__ADS_1


Tak lama Leo keluar dan menyusul istrinya ke dapur. Dari jarak cukup jauh ini, Leo memperhatikan gerak gerik Luna yang tengah memasak. Dalam balutan daster sederhana, apron doraemon dan rambutnya yang di gelung asal membuat Luna semakin terlihat seksi apa lagi dengan perutnya yang sedikit menonjol itu.


Berjalan pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara, Leo mendekati istrinya kemudian langsung memeluknya dari belakang. Dan itu sukses membuat Luna terlonjak kaget.


“Astaga Leo, gimana kalau nyenggol penggorengan dan minyaknya tumpah coba? Ini panas loh, Le!”


“Aku kangen kamu.”


“Ya, kan, bisa nanti, Le peluknya. Ini aku lagi masak, ish, bahaya tahu gak!” desis Luna kesal.


Mendengar gerutuan itu malah membuat Leo terkekeh geli, tidak sama sekali berniat melepaskan pelukannya walau Luna sudah meminta. “Meskipun dalam posisi seperti ini, aku yakin kamu masih bisa masak, Yang.”


“Papi!” teriakan itu terdengar dari belakang, membuat Luna dan Leo refleks menoleh dan mendapati anaknya berlari menghampiri dengan senyum ceria dan tangan yang di rentangkan.


Leo melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Luna, kemudian berlari dan saat posisinya dengan sang putri sudah dekat, ayah satu anak itu langsung mengangkat Queen dan membawanya berputar, membuat bocah itu tertawa-tawa, sedangkan Luna yang menyaksikan hanya menggelengkan kepala dan kembali melanjutkan masaknya.


“Queen kangen Papi,” ucap bocah 5 tahun itu begitu sang papi menghentikan putarannya.

__ADS_1


“Papi juga kangen Queen. Maafin, Papi ya, Nak. Maaf terlalu sibuk dengan pekerjaan belakangan ini sampai mengabaikan kamu,” ucap Leo dengan nada sedih.


“Jangan sedih, Papi, Queen gak apa-apa kok. Mami bilang, Queen harus mengerti Papi yang kerja, cari uang buat Queen, buat adik bayi di perut Mami juga. Jadi, Queen gak apa-apa selagi Papi gak sampai lupa sama Queen,” Leo menghujani anaknya dengan kecupan-kecupan di seluruh wajahnya, terharu dengan ucapan sang anak yang masih berusia 5 tahun ini. “Queen sayang Papi,” lanjut bocah itu berbisik tepat di telinga ayahnya, menambah haru Leo yang bahkan sampai membuat matanya berkaca-kaca.


“Papi akan berusaha meluangkan waktu lebih banyak untuk kamu, Mami dan adik bayi. Kamu harus percaya, Nak bahwa Papi tidak pernah sekalipun melupakan kamu. Papi sayang kamu, jadi mana mungkin tega melupakan kesayangannya Papi ini.” Ucap Leo dengan di akhiri dengan kecupan di seluruh wajah anaknya yang membuat Queen tertawa-tawa kegelian.


🍒🍒🍒


Setelah membacakan dongeng dan menemani bocah itu hingga tertidur, Leo kembali ke kamarnya bersama Luna. Hari sudah cukup malam, dan rasa kantuk sudah menyerang, tapi rasa rindu akan sang istri tidak bisa ia hilangkan. Memeluk erat tubuh Luna yang hendak menaiki ranjang, Leo menyusupkan wajahnya di lipatan leher istrinya dan mengendus bau harum yang menjadi candunya sejak menikah dengan perempuan cantik itu. Hanya mencium bau tubuh Luna, mampu membuat Leo merasa nyaman juga tenang dan hanya memeluk istrinya itu lah seakan beban pikirannya melayang hilang.


“Maafin aku ya, Lun. Maaf sudah mengabaikan kamu dan anak-anak belakangan ini, ak…”


“Shutt!” Luna dengan cepat meletakan telunjuknya di bibir Leo, meminta agar suaminya itu berhenti bicara. “Gak perlu meminta maaf seperti itu, Le, aku paham dengan kesibukan kamu dan aku tahu bahwa ini bukan keinginan kamu. Kamu sibuk bekerja untuk kami, aku dan anak-anak, sudah sewajarnya aku sebagai istri mengerti itu. Aku tidak keberatan dengan kesibukan kamu, selama itu seputar pekerjaan bukan sibuk dengan perempuan lain.”


Cup.


Satu kecupan dengan cepat Leo berikan tepat di bibir sang istri. “Ucapannya di jaga, sayang. Mana ada aku sibuk dengan perempuan lain, kalau kamu saja sudah membuat aku jatuh cinta setiap harinya,” ucap Leo yang kembali melayangkan kecupan di kening istrinya itu cukup lama, dan ucapan tersebut juga mampu membuat wajah Luna merona.

__ADS_1


Tidak terbayang jika dulu keduanya benar-benar menolak perjodohan yang orang tuanya buat. Luna maupun Leo tidak akan tahu bagaimana nasibnya sekarang, akankah sebahagia saat ini atau justru malah sebaliknya? Tapi di bandingkan harus memikirkan itu, nyatanya mereka justru harus banyak bersyukur saat ini, bersyukur karena keduanya bersama dalam ikatan pernikahan yang selalu di limpahkan kebahagiaan.


__ADS_2