
Di kediaman Luna pagi ini sudah di hebohkan oleh Bi Atin dan Bi Nani yang sibuk masak untuk persiapan mereka piknik hari ini, di tambah dengan anak-anak yang sepertinya sudah tidak sabar untuk segera berangkat. Kedua ibu yang menyiapkan ini dan itu untuk keperluan mereka semua, sedangkan kedua ayah memanaskan mobil masing-masing.
Bi Atin bukan main senangnya karena keinginannya untuk piknik di turuti oleh sang majikan walau masih tidak lepas dari tugas sebagai ART. Banyak sekali yang wanita baya itu masak, mulai dari cumi tepung kesukaan Queen, udang asam manis kesukaan semua anggota keluarga, bakwan jagung, capcai, pepes tahu, Ayam goreng, sambal dan ada ikan asin juga lalapan.
Luna dan Lyra sampai geleng kepala dibuatnya, tapi tetap saja Luna tidak melayangkan komentar selama itu membuat ART-nya yang sudah banyak membantu dalam mengurus rumah selama ini bahagia dengan kegiatan piknik kali ini.
Setelah semua siap, Pandu dan Leo membawa barang bawaan mereka menuju mobil dan semua anggota pun masuk ke dalam mobil. Di mobil Leo di isi oleh dirinya dang Luna, juga Bi Nani serta Bi Atin, sedangkan anak-anak berada di mobil Pandu-Lyra. Memang hanya dua keluarga ini saja yang pergi karena Devi yang tengah hamil besar tidak memungkinkan untuk ikut, juga Amel yang tidak ikut pula karena keadaan Dimas yang masih dalam pemulihan. Lyra dan Luna cukup memaklumi itu dan berharap lain kali mereka bisa pergi piknik dengan pormasi lengkap.
Tidak jauh taman yang menjadi tujuan mereka, karena hanya membutuhkan waktu satu jam, rombongan dua mobil itu sampai di sebuah taman dengan hamparan rumput hijau yang menjadi dasarnya begitu luas dan ada yang menyerupai bukit tinggi menanjak. Nyatanya bukan hanya mereka saja yang ada di sana, karena banyak juga keluarga yang datang membawa serta anak-anak agar bebas berlarian dan bermain.
“Woahhh, sejuknya!” teriak Queen, Rapa dan Ratu sembari merentangkan tangan begitu mereka sampai di tengah-tengah hamparan rumput hijau itu.
“Cari tempat yang teduh, Bi,” ucap Luna pada Bi Atin dan Bi Nani, kedua wanita baya itu mengangguk dan melangkah menuju tempat di bawah pohon rindang, kemudian menggelar tikar di sana. Pandu dan Leo menyusul membawa barang bawaan mereka, sedangkan ketiga bocah itu sudah bermain kejar-kejaran sambil menerbangkan gelembung sabun.
“Bang, main bola sama Papi hayu!” teriak Leo seraya melempar bola ke arah Rapa berada yang langsung di tangkap baik oleh bocah yang tahun ini akan masuk sekolah dasar itu.
“Queen ikutan juga main bolanya, Pi,” teriak Queen dan berdiri di samping sang Papi, sedangkan Pandu di samping Rapa.
Ratu yang di tinggal sendiri hanya mendengus dan memanyunkan bibirnya menghampiri sang Bunda. “Aish, masa semua pada main bola! Atu gak suka, main bola itu cape.”
“Terus Ratu pingin main apa?” tanya lembut Luna yang duduk di samping gadis cantik itu. “Tiup gelembung sabun aja yuk sama Mami?” tawar Luna membuat senyum Ratu terbit. Namun itu hanya beberapa saat sebelum mata cantik Ratu menatap pada perut buncit Luna.
__ADS_1
“Ratu main sama Bi Nani dan Bi Atin aja, soalnya kan mainnya harus sambil lari-lari biar balon sabunnya besar dan banyak. Kasihan Adik bayinya kalau Mami harus lari-lari. Mami duduk disini aja ya, jagain adik bayinya,” ucap Ratu tersenyum polos. Luna mengelus sayang kepala anak dari sahabatnya itu kemudian mengangguk.
“Bi, ayok main!” ajak Ratu, memberikan cairan untuk membuat gelembung sabun milik Rapa pada Bi Nani dan memberikan milik Queen pada Bi Atin. Kedua wanita baya itu mengangguk antusias dan bangkit dari duduknya mengejar Ratu yang sudah lari lebih dulu.
Hanya menyisakan Lyra dan Luna yang duduk di tikar ini sambil mengambil gambar melalui kamera yang di bawa untuk mengabadikan moment ini. Di kejauhan Lyra melihat seseorang yang di kenalnya. “Lun benar gak itu Bang Levin sama Devi? Apa gue cuma salah lihat aja?”
Luna menatap arah yang di tunjuk Lyra dan ikut memastikan sampai sosok itu berjalan semakin mendekat. “Kok, kalian ada di sini juga? Bukannya lo takut ngelahirin pas kita main, Dev?” tanya Luna begitu sosok yang di kenalnya itu sudah berada dekat dengan mereka.
“Awalnya emang gak akan ikut, tapi kan gue juga pengen piknik, Lun setidaknya untuk refreshing sebelum gue melahirkan. Bantu doa aja supaya gue gak berojol disini,” jawab Devi terkekeh kecil.
“Ly, Lun jagain bini gue dulu ya, gue mau ikutan main bola sama mereka,” ucap Levin menunjuk ke arah dimana Pandu, Leo, Rapa dan Queen tengah bermain. Saat hendak berlari, Levin terpaksa menghentikan kakinya begitu suara Devi mengintrupsi.
“Perut buncit aja lo sok-sokan pengen ikut piknik. Buat duduk aja susah. Ck, dasar untung lo bini gue,” Levin tidak kalahnya menggerutu sambil membantu Devi untuk duduk di tikar yang di gelar Bi Nani tadi. “Harusnya tadi bawa kursi biar gak nyusahin,” lanjut Levin.
“Bukannya kalau bawa kursi, lo makin kesusahan, Bang?” Luna buka suara.
“Iya emang, seharusnya gak usah bawa si Devi, biar leluasa.” Balas Levin yang sedetik kemudian mendapat geplakan keras dari istrinya itu.
“Ini juga gara-gara lo yang buat perut gue jadi sebesar ini!” Levin tidak lagi membalas ucapan istrinya yang cerewet itu karena ia benar-benar sudah tidak tahan untuk ikut main bola dengan sahabat dan keponakannya. Levin berlari meninggalkan Devi setelah memberikan kecupan singkat di kening sang istri.
Luna dan Lyra hanya menggelengkan kepala, sudah biasa melihat dan mendengar perdebatan pasangan suami istri yang sama-sama tidak mau mengalah ini. Meski begitu, siapa pun tahu bahwa Levin dan Devi begitu saling mencintai satu sama lain.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong lo cuma berdua? Dania mana?” Lyra bertanya begitu tidak menemukan keponakannya.
“Noh sama Ratu. Itu bocah langsung ninggalin gue begitu lihat Ratu lagi lari-larian.” Luna dan Lyra sontak menoleh ke arah dimana Ratu, Bi Nani dan Bi Atin berada, ternyata benar, Dania pun ada di sana.
Bi Atin datang menghampiri dan ikut duduk bersama Luna, Lyra dan Devi dengan napas yang ngos-ngosan dan wajah merah juga keringat yang mengalir dari pelipisnya, membuktikan bahwa wanita baya itu rupanya kelelahan.
“Kenapa Bi? Cape?” Bi Atin hanya menjawab dengan anggukan karena napasnya yang masih turun naik tidak beraturan.
“Tapi, kok, wajahnya cerah gitu, Bi, gak di tekuk kayak biasanya,” ledek Devi terkekeh kecil.
“Sekarang udah gak kurang piknik lagi, Non,” jawabnya seraya menampilkan senyum lima jarinya membuat Luna tertawa begitu juga Lyra dan Devi.
“Pikniknya baru ketaman, Bi belum ke luar negeri,”
“Saya mah segini aja udah bahagia, Non Dev. Majikan saya kan memegang teguh ke hematan jadi, saya gak berani bermimpi liburan ke luar negeri.” Jawab Bi Atin dengan polosnya. Devi dan Lyra kembali tertawa, sedangkan Luna mendelik pada ART-nya itu.
“Aku sama Leo bukannya gak mau ajak Bibi liburan ke luar negeri, tapi takut Bibi kejang-kejang begitu di ajak naik pesawat,” kata Luna dengan wajah yang pura-pura kasihan.
“Iya, Non lebih baik gak nerbangin Bibi deh, apa lagi naik pesawat. Bibi cuma takut hanya di terbangin dan begitu ada di atas awan malah di jatuhun, kan sakit, Non.”
“Astaga si Bibi baperan.” Pekik Lyra tertawa di ikuti Luna dan Devi.
__ADS_1